
SERAYUNEWS — Seekor sapi kurban jumbo asal Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap mencuri perhatian jelang Iduladha 1447 Hijriah.
Sapi jenis Peranakan Ongole (PO) dengan bobot hampir satu ton itu berhasil terjual seharga Rp80 juta kepada pembeli asal luar daerah.
Hewan kurban jumbo tersebut dipelihara di peternakan Lembu Lanang milik Aris Priyanto dan Nur Hayati.
Sapi berukuran besar itu menjadi perhatian saat Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap melakukan peninjauan ke peternakan di Desa Kalijaran.
Pemilik peternakan, Nur Hayati mengatakan sapi tersebut menjadi hewan kurban paling besar sekaligus paling mahal di kandangnya tahun ini.
Menurutnya, sapi jenis Peranakan Ongole itu dipelihara selama kurang lebih empat tahun hingga mencapai bobot hampir satu ton.
“Pakannya sebenarnya sama seperti sapi biasa. Memang dari postur dan bawaan badannya sudah besar,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Nur menjelaskan sapi jumbo tersebut merupakan hasil persilangan sapi Brahman dengan sapi lokal.
Ia membeli sapi itu saat masih berusia sekitar satu setengah tahun, lalu dipelihara secara intensif di kandang miliknya di Maos hingga berusia empat tahun.
Setelah menjalani perawatan bertahun-tahun, sapi tersebut akhirnya terjual Rp80 juta kepada perusahaan asal Sampang.
“Harga normal untuk jenis seperti itu biasanya sekitar Rp60 jutaan, tapi yang ini memang lebih besar,” ujarnya.
Selain sapi jumbo tersebut, peternakan Lembu Lanang juga menyediakan berbagai jenis sapi kurban lain seperti Limousin, Simmental, Brahman hingga Peranakan Ongole.
Seluruh sapi didatangkan dari wilayah Bondowoso.
Menariknya, seluruh stok sapi kurban di peternakan tersebut dikabarkan sudah habis terjual sebelum Iduladha tiba.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto mengatakan harga hewan kurban tahun ini mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.
“Secara umum ada kenaikan harga ternak kurban tahun ini sekitar Rp1,5 sampai Rp2 juta per ekor,” kata Sigit.
Menurutnya, kenaikan harga dipengaruhi meningkatnya harga bakalan sapi dan biaya pakan yang terdampak kondisi global.
Meski demikian, permintaan masyarakat terhadap sapi kurban justru terus meningkat setiap tahun.
Nur Hayati menyebut stok sapi kurban di kandangnya tahun ini mencapai 180 ekor, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sekitar 150 ekor.
“Alhamdulillah peminat terus naik setiap tahun. Mayoritas pembeli dari Cilacap dan Purwokerto, tapi ada juga yang dikirim ke Tangerang,” pungkasnya.