Sabtu, 18 September 2021

Selama PPKM Darurat, Hotel di Banyumas Kian Terpuruk

hotel terdampak ppkm darurat, ppkm darurat, ppkm darurat jawa bali, serayunews, serayu news, berita terkini, berita hari ini, purwokerto, banyumas, hotel banyumas
Ketua PHRI Banyumas, Iriyanto. (dok istimewa)

Hotel merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diterapkan mulai awal Juli lalu. Okupansi hotel saat ini kian terpuruk. Bahkan sebagian besar tingkat hunian kosong.


Purwokerto, serayunews.com

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Irianto mengatakan, selama PPKM darurat,  hotel – hotel di kawasan wisata Baturraden sama sekali tidak ada tamu. Terlebih lagi, sektor pariwisata sudah ditutup total pascalebaran lalu.

“Selama PPKM Darurat, sama sekali tidak ada tamu dari luar kota yang menginap di hotel. Jadi sekarang ini kondisinya sudah benar-benar tiarap, tidak ada pemasukan sama sekali untuk hotel, padahal sebelum PPKM Darurat diberlakukan, kondisi hotel juga sudah terpuruk dan sekarang lebih terpuruk lagi,” jelasnya, Senin (19/7).

Menurut Irianto, posisi pihak hotel saat ini serba dilematis. Saat kondisi sepi tak ada tamu, namun operasional hotel tetap harus berjalan. Misalnya, hotel harus tetap dijaga kebersihannya, tetap membayar listrik, air dan lain-lain pengeluaran rutin bulanan.

Selain itu, karyawan hotel juga harus tetap diperhatikan. Pihak hotel tidak mungkin menutup mata dengan tidak membayarkan gaji mereka sama sekali. Sebab mereka juga mempunyai keluarga yang harus dihidupi dan saat situasi normal nanti, hotel juga kembali membutuhkan para karyawan. Pengeluaran rutin bulanan juga tetap harus dibayar, seperti listrik dan air meskipun hotel tutup

Keluhan terkait dampak PPKM Darurat tersebut, tidak hanya disampaikan para pengelola hotel, tetapi juga pelaku bisnis restoran.

Keharusan hanya menerima pesanan atau take away, membuat banyak restoran merugi. Ditambah lagi dengan adanya penyekatan – penyekatan jalan yang membuat operasional mengantar makanan semakin sulit. Beberapa restoran harus menambah biaya operasional untuk mengantarkan makanan pesanan. Karena ada sebagian yang keberatan ketika biaya pesanan dibebankan kepada konsumen, padahal masih dalam wilayah Kota Purwokerto, konsumen justru membatalkan pesanan, karena dianggap lebih mahal.

“Penyekatan jalan-jalan mempersulit DO makanan, ada yang sampai pengantar makanan tidak bisa menjangkau rumah pemesan dan ada juga beberapa pesanan makanan yang terpaksa harus dibawa pulang lagi,” katanya.

Berita Terkait

Berita Terkini