
PURWOKERTO, SERAYUNEWS- Penyebab utama kegagalan dalam memberikan ASI eksklusif seringkali terjadi pada enam bulan pertama kehidupan bayi. Beberapa penyebab kegagalan ini antara lain persepsi ibu bahwa produksi ASI-nya tidak mencukupi, disertai keluhan fisik seperti payudara bengkak, puting lecet, hingga ASI yang seret keluar. Padahal, banyak dari kondisi tersebut sesungguhnya dapat dicegah dan diatasi melalui dua tindakan sederhana namun sering terabaikan, yaitu perawatan payudara (breast care) yang benar dan pijat oksitosin. Kedua hal ini perlu dipahami oleh ibu dan keluarga agar dapat mendukung pemberian ASI eksklusif.
Perawatan payudara merupakan rangkaian tindakan yang dilakukan sejak masa kehamilan hingga menyusui untuk menjaga kesehatan jaringan payudara dan memperlancar produksi ASI. Perawatan ini mencakup pembersihan puting secara rutin, pemijatan ringan untuk merangsang kelenjar susu, hingga kompres hangat dan dingin secara bergantian untuk mengurangi pembengkakan. Tanpa perawatan yang tepat, ibu menyusui berisiko mengalami berbagai komplikasi, di antaranya pembengkakan payudara (engorgement), puting lecet dan pecah-pecah akibat posisi menyusui yang kurang tepat, tersumbatnya saluran ASI (mastitis), hingga produksi ASI yang menurun karena rasa nyeri membuat ibu enggan menyusui secara rutin. Kondisi-kondisi ini pada akhirnya sering menjadi alasan ibu beralih ke susu formula sebelum waktunya, sehingga tujuan ASI eksklusif selama enam bulan tidak tercapai.

Melalui perawatan payudara yang dilakukan secara rutin dan benar, sirkulasi darah pada jaringan payudara akan lebih lancar, saluran ASI tetap terbuka, dan risiko infeksi maupun sumbatan dapat ditekan. Selain manfaat fisik, perawatan payudara juga memberi rasa nyaman bagi ibu sehingga proses menyusui dapat berlangsung lebih tenang dan menyenangkan, baik bagi ibu maupun bayi.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai pijat oksitosin, penting untuk dipahami bahwa proses menyusui pada dasarnya dikendalikan oleh dua hormon utama dalam tubuh ibu, yaitu hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Prolaktin berperan dalam merangsang kelenjar payudara untuk memproduksi ASI, sehingga semakin sering bayi menghisap payudara, semakin tinggi pula kadar prolaktin yang dihasilkan dan semakin banyak ASI yang diproduksi. Sementara itu, oksitosin berperan dalam mendorong ASI yang telah diproduksi agar dapat mengalir keluar dari kelenjar susu menuju puting, sebuah proses yang dikenal dengan istilah refleks pengeluaran ASI (let-down reflex).
Kedua hormon ini bekerja secara berbeda namun saling melengkapi. Prolaktin cenderung tidak banyak dipengaruhi oleh kondisi emosi ibu, sedangkan oksitosin justru sangat sensitif terhadap kondisi psikologis. Inilah sebabnya, meski produksi ASI (dipengaruhi prolaktin) sebenarnya cukup, ASI dapat terasa “tidak keluar” atau seret apabila pelepasan oksitosin terhambat oleh rasa cemas, lelah, nyeri, atau stres yang dialami ibu.
Selain perawatan payudara, materi utama lain yang diberikan dalam kegiatan ini adalah pijat oksitosin, yaitu teknik pemijatan pada sepanjang tulang belakang, mulai dari area leher hingga tulang belikat, yang bertujuan merangsang produksi hormon oksitosin dalam tubuh ibu. Oksitosin dikenal sebagai “hormon cinta” yang berperan penting dalam refleks pengeluaran ASI, sehingga ASI yang telah diproduksi dapat mengalir dengan lancar dan mudah dihisap oleh bayi.
Pijatan lembut dan teratur pada punggung ibu terbukti dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks, memperlancar aliran darah, sekaligus merangsang pelepasan oksitosin secara alami sehingga ASI lebih mudah mengalir.
Manfaat pijat oksitosin ini semakin optimal apabila dilakukan secara rutin oleh orang terdekat ibu, seperti suami atau anggota keluarga lain, karena sentuhan dan kehadiran orang terdekat turut memberikan efek ketenangan psikologis yang mendukung pelepasan hormon oksitosin.
Mengingat manfaat dari perawatan payudara dan pijat oksitosin sangat penting dalam mendukung pemberian ASI eksklusif, maka dari itu kami, tim pengabdian kepada masyarakat dari Prodi Kebidanan Purwokerto Program Diploma III, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang, mengimplementasikannya dalam kegiatan pelatihan perawatan payudara dan pijat oksitosin pada kader di desa Karangtengah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kader kesehatan Desa Karangtengah tidak hanya menerima penjelasan teori mengenai manfaat perawatan payudara dan pijat oksitosin, tetapi juga diajak melakukan simulasi dan praktik langsung secara berpasangan. Kader dilatih mengenali tanda-tanda payudara bermasalah, mempraktikkan teknik pemijatan payudara yang benar, serta mempelajari langkah demi langkah teknik pijat oksitosin agar dapat diajarkan kembali kepada ibu menyusui maupun keluarganya di wilayah masing-masing.
Pendekatan berbasis praktik ini dipilih karena kedua keterampilan tersebut bersifat teknis dan psikomotor, sehingga penguasaannya tidak cukup hanya melalui penjelasan lisan, melainkan perlu dilatih secara berulang hingga kader benar-benar mahir dan percaya diri mempraktikkannya di lapangan.
Dengan dibekalinya kader Desa Karangtengah akan keterampilan perawatan payudara dan pijat oksitosin, diharapkan semakin banyak ibu menyusui di wilayah tersebut yang mendapatkan pendampingan teknis, bukan sekadar informasi umum, dalam mengatasi kendala menyusui yang mereka alami. Langkah ini sejalan dengan upaya nasional dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif sebagai salah satu strategi pencegahan stunting sejak seribu hari pertama kehidupan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat terus berlanjut, sehingga pengetahuan mengenai pentingnya perawatan payudara dan pijat oksitosin dapat semakin merata dan menjadi bagian dari budaya pendampingan menyusui di tingkat desa.
Ditulis oleh: Fajaria Nur Aini, S.SiT, M.Tr.Keb, Bdn dan Diki Retno Yuliani, S.ST, M.Tr.Keb (Prodi Kebidanan Purwokerto Program Diploma III Poltekkes Kemenkes Semarang)