
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Kabar baik datang bagi para petani di Kecamatan Bawang dan wilayah sekitarnya. Saluran Irigasi Sekunder Gemuruh pada Daerah Irigasi (DI) Singamerta yang rusak akibat longsor kini rampung diperbaiki dan mulai kembali dialiri air.
Setelah proses penanganan yang berlangsung selama 79 hari sejak bencana, pengaliran air dilakukan di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang, resmi dibuka dan uji coba pada Kamis (13/8/2026).
Pengaliran dilakukan secara bertahap untuk memastikan kondisi saluran dan bangunan irigasi berfungsi dengan baik setelah pekerjaan perbaikan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa 1 BBWS Serayu Opak, Jimmy Charles, mengatakan proses penanganan kerusakan dilakukan secara cepat setelah tingkat kerusakan akibat longsor diketahui.
Menurut Jimmy, longsor yang awalnya relatif kecil kemudian berkembang dan berdampak terhadap saluran irigasi. Setelah dilakukan inventarisasi dan penetapan kerusakan, pekerjaan fisik langsung dilaksanakan.
“Hari ini, di hari ke-7 setelah beton cukup umur, sudah bisa kita uji alir dengan kapasitas debit bertahap. Untuk tahap awal masih di bawah 50 persen, sekitar 30 persen,” ujar Jimmy.
Terputusnya saluran utama sebelumnya menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan air untuk lahan pertanian. Apalagi, sejumlah wilayah saat itu sedang memasuki masa tanam. Untuk mengurangi dampak kerusakan, BBWS Serayu Opak menyiagakan dua unit pompa berkapasitas 6 meter kubik, ditambah sejumlah pompa alkon.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah darurat untuk mempertahankan pasokan air ke wilayah terdampak. Tercatat sekitar 161 hektare lahan terdampak akibat gangguan jaringan irigasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 110 hektare lahan aktif di Desa Serang dan Desa Masaran membutuhkan perhatian karena sedang memasuki masa tanam.
Langkah penanganan darurat tersebut setidaknya membantu menekan potensi kerugian petani sembari perbaikan jaringan utama dilakukan.
Wakil Bupati Banjarnegara, Wakhid Jumali, menyambut baik rampungnya perbaikan saluran yang memiliki sejarah panjang tersebut. Penyelesaian pekerjaan tepat pada hari ke-79 setelah bencana menjadi momentum penting untuk mengembalikan fungsi jaringan irigasi bagi masyarakat.
Pemkab Banjarnegara juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian PUPR melalui BBWS Serayu Opak yang bergerak cepat menangani kerusakan. Namun, dia mengingatkan bahwa keberlangsungan fungsi saluran tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat dan para pengguna air juga memiliki peran penting dalam menjaga infrastruktur irigasi.
Ia meminta kebutuhan air untuk kolam maupun pertanian diinventarisasi dan dikelola secara resmi sehingga tidak mengganggu bangunan irigasi maupun distribusi air ke wilayah lain.
“Kebutuhan air untuk kolam atau pertanian harus diinventarisir secara resmi agar tidak merusak bangunan irigasi dan air bisa terbagi secara adil,” katanya.
Kepala BBWS Serayu Opak, Parlin Goman Simanungkalit, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kerusakan kecil pada saluran. Saluran Sekunder Gemuruh yang menggunakan konstruksi tanah dan pasangan batu dinilai memiliki kerentanan terhadap erosi internal atau piping apabila terjadi kebocoran.
Kebocoran yang awalnya kecil dapat membawa butiran tanah secara perlahan. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat melemahkan struktur saluran, meruntuhkan tebing dan berpotensi memicu longsor kembali.
Karena itu, pengelola irigasi dan masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan kebocoran atau kerusakan pada saluran. Selain persoalan konstruksi, penggunaan air juga menjadi perhatian. Pengambilan air secara berlebihan di bagian hulu tanpa pengaturan dapat mengurangi pasokan bagi petani di wilayah hilir.
Terlebih, efisiensi penggunaan air menjadi semakin penting menghadapi potensi puncak musim kemarau.
“Saluran tua ini ibarat orang tua yang butuh perhatian lebih. Mari kita rawat bersama,” kata Parlin.
Ia memastikan bahwa BBWS Serayu Opak terbuka terhadap laporan masyarakat, terutama apabila terdapat lahan pertanian yang mengalami kendala pasokan air.
“Kami dari balai juga siap menerima pengaduan jika ada lahan pertanian warga yang mengalami kendala kekeringan agar bisa segera dicarikan solusinya,” ujarnya.
Dimulainya uji alir bukan berarti pengawasan terhadap saluran berhenti. Justru, tahap tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan jaringan mampu kembali menjalankan fungsi distribusi air secara aman.
Debit air akan dinaikkan secara bertahap sambil memantau kondisi saluran dan bangunan irigasi.
Bagi para petani, kembalinya aliran air menjadi harapan baru untuk menjaga keberlanjutan kegiatan pertanian. Namun, keberhasilan pemulihan jaringan tersebut tetap membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, pengelola irigasi dan masyarakat pengguna air.
Setelah 79 hari melalui proses penanganan, saluran Sekunder Gemuruh kembali mendapatkan aliran air. Tantangan berikutnya adalah memastikan infrastruktur tua tersebut tetap terjaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan petani, terutama ketika kebutuhan air meningkat pada musim kemarau.