
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Ruang sidang skripsi yang biasanya dipenuhi ketegangan formal, disulap oleh Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra (23) sebagai “panggung” penuh ekspresi.
Pasalnya, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Telkom Purwokerto tersebut justru hadir sidang tugas akhir dengan wajah yang dipoles corpse paint dan balutan busana hitam khas black metal.
Sontak, aksinya itu pun langsung mencuri perhatian publik. Menariknya, cosplay yang dilakukan oleh Raga tidak tanpa alasan. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk lebih mendalami penelitian.
“Tapi itu untuk membuat mahasiswa itu lebih into ya, atau mungkin bisa dibilang memaknai penelitiannya gitu kan. Jadi, di mana itu justru malah membantu mahasiswa kita lebih mendalami apa yang kita teliti gitu,” ujar Raga saat ditemui serayunews.com di Universitas Telkom Purwokerto pada Jumat, (10/07/2026).
Penampilan ala black metal yang dikenakan Raga ternyata selaras dengan skripsi yang diangkat, yakni perancangan komik band Santet, grup black metal legendaris asal Purwokerto.
Menurut Raga, Band Santet memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak band black metal lainnya.
Grup tersebut tidak hanya memainkan musik keras, tetapi juga membawa berbagai unsur budaya spiritual Nusantara ke dalam karya-karyanya.
“Band Santet ini mampu mengangkat suatu budaya gitu. Terutama itu budaya spiritual di Indonesia. Seperti kayak mitologi atau mitos-mitos Jawa, Jawa kuno. Kayak misal ya itu salah satunya kayak santet, terus hal-hal yang berbau klenik lah di Indonesia,” terangnya.
Saat merancang komik band Santet tersebut, Raga mengaku tidak muncul kesulitan berarti. Namun, saat proses mencetak, kata dia, kertas yang dibutuhkan tidak ada di Purwokerto.
“Ketika mencetak itu kan saya mau… jadi saya itu butuh kertas yang kayak di Purwokerto itu saya cari itu enggak ada gitu loh. Iya, kalau ini untuk perancangan saya ya. Jadinya saya harus… ya intinya harus ngambil dari Jogja lah. Ya demi keinginan saya juga sih, saya maunya pakai kertas yang ini (read: bookpaper) gitu yang ada teksturnya,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai aksi cosplay ala black metal saat sidang skripsi yang viral, Raga mengaku bersyukur. Kendati begitu, dia tidak ingin terhanyut dengan euforia, lantaran dia harus tetap menyelesaikan revisi.
“Sebenarnya sih ya bersyukur sih, saya lebih ke bersyukur. Tapi saya tetap berusaha untuk tidak terhanyut dengan emosi gitu, ya emosional gitu. Karena lagi-lagi saya masih harus menghadapi apa… revisian-revisian gitu kan,” pungkasnya.
Dosen pembimbing Raga, Bachrul Restu Bagja, S.Pd., M.Sn., mengungkapkan bahwa dari awal mahasiswa bimbingannya memang telah memilih band Santet sebagai fokus penelitian.
Menurut Bachrul, tema tersebut lahir dari ketertarikan Raga terhadap musik black metal yang kemudian dipadukan dengan kemampuan ilustrasi yang menjadi keahliannya.
“Dari awal memang sudah band Santet yang diusung sebetulnya. Gitu, karena ketertarikannya si mahasiswa ini juga sebetulnya kan terhadap band-band black metal ya. Iya. Nah, terus juga dia kebetulan juga apa namanya, kekhasannya atau ke apa, keahliannya memang di ilustrasi. Gitu, jadi dia pengen bagaimana caranya si keahliannya dia itu disambungkan dengan apa yang dia apa, inginkan gitu,” kata Bachrul.
Menurut Bachrul, Raga mampu melihat peluang media pendukung yang relevan dengan topik yang diangkat.
“Nah, kalau Raga tuh enggak. Bisa kemudian melihat, ‘Oh, ini tuh kita tuh ngomongin black metal nih, ngomongin ranah-ranah underground. Apa aja ya media pendukung kira-kira yang bisa nyambung ke sini, bisa berkaitan dengan si topiknya ini?’ Jadi semuanya tuh kompak sebenarnya. Dan hasilnya bagus. Hasilnya bagus,” jelas Bachrul.
Dosen Penguji 1, Dr. Sn. Nofrizaldi, M.Sn., menilai Raga sebagai mahasiswa yang kritis, khususnya dalam menangkap isu budaya di sekitarnya.
“Nah, itu menjadi satu perwujudan bahwa oh, ini mahasiswa di DKV ini yang si Raga ini kritis, dia menangkap satu apa namanya, isu penting terutama dalam hubungannya dengan culture yang ada di sini gitu. Kemudian dia olah menjadi mungkin dengan format media yang bisa dinikmati anak-anak sekarang gitu ya,” terang Nofrizaldi.
Ia juga memuji pendekatan Raga yang memilih format komik, berbeda dari kebanyakan karya sejenis yang biasanya berbentuk video klip atau film dokumenter.
“Biasanya kan melalui apa namanya itu, yang bentuknya video itu, video klip gitu ya, film dokumenter gitu. Cuma pintarnya anak ini, dia menawarkan karya yang lebih organik. Misal kalau komik kan biasanya kalau di… di kebudayaan mereka tinggal dibagi-bagi aja gitu kan,” ucap Nofrizaldi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi bukan berarti mahasiswa bebas tanpa arah.
Kampus tetap berperan memberikan pendampingan agar setiap mahasiswa mampu menemukan jalannya sendiri sesuai minat, kemampuan, dan tema yang dipilih.
“Di DKV kita ngasih jalan aja sebenarnya. Ngasih jalan untuk mereka menuju masa depan mereka gitu. Apa pun topik mereka, enggak hanya black metal ya. Mungkin banyak topik-topik yang lain dan itu kita sebagai dosen di DKV Telkom itu mencoba membaca itu untuk mengarahkan mereka menuju jalan versinya mereka gitu. Jadi kita enggak mengekang keilmuan itu kamu harus gini,” kata Nofrizaldi.
Viralnya aksi Raga membuat banyak orang mengira penampilan unik saat sidang merupakan sesuatu yang baru di Program Studi DKV Universitas Telkom Purwokerto.
Padahal, menurut Kepala Program Studi DKV Universitas Telkom Purwokerto, Galih Putra Pamungkas, S.Sn., M.Sn., praktik tersebut sudah menjadi budaya yang disepakati di lingkungan program studi.
Galih menjelaskan, mahasiswa memang didorong untuk merepresentasikan topik tugas akhirnya melalui penampilan saat sidang.
Tujuannya bukan untuk mencari sensasi, melainkan agar mahasiswa tidak memiliki jarak dengan objek yang sedang diteliti.
“Fungsinya tadi itu untuk lebih mendalami atau tidak berjarak dengan topik yang diangkat. Jadi memang ke depannya juga akan terus begitu gitu,” jelas Galih ketika ditemui reporter serayunews.com di Universitas Telkom Purwokerto pada Kamis, (09/07/2026).
Meski cosplay menjadi bagian dari sidang, Galih menegaskan bahwa penilaian akademik tetap berpatokan pada metodologi dan konsep perancangan.
“Apa… dia cuma apa, merepresentasikan topik yang diangkat gitu. Cuman kalau penilaian tetap di metodologinya, tetap di teorinya, tetap di konsep perancangan dan sebagainya, tetap di apa yang dia kerjakan secara akademisnya gitu ya. Tetap di situ. Begitu sih,” terang Galih.
Galih menyambut baik viralnya aksi Raga, karena dinilai berhasil mengomunikasikan subkultur black metal Banyumas ke publik yang lebih luas.
“Nah, artinya dengan viralnya ini tuh bukan hanya sekedar luas informasinya aja, tapi ternyata bisa tujuannya tercapai, di mana mengomunikasikan subculture yang ada di Banyumas ini, terutama black metal melalui band Santet ini, gitu,” ucap Galih.
Ia menambahkan, mahasiswa DKV lain juga kerap tampil unik saat sidang tugas akhir, mulai dari kostum kucing hingga robot dari kardus.
“Ada, ada yang unik-unik juga. Ada yang jadi kucing, ada yang jadi apa namanya, pakai robot kardus juga ada gitu,” terang Galih.
Sebagai informasi, Santet merupakan band beraliran pure black metal asal Purwokerto (Banyumas) yang dibentuk pada 1997.
Dikenal dengan nuansa ritualistik dan sentuhan budaya Jawa yang kental, mereka sukses menjadi pionir musik ekstrem lokal yang berhasil menembus panggung internasional, termasuk tur Eropa.