
SERAYUNEWS – Di balik keriuhan arus mudik Operasi Ketupat Candi (OKC) 2026, terdapat suara-suara tenang yang menjadi tumpuan masyarakat saat keadaan darurat melanda. Mereka adalah operator Call Center 110 Polresta Banyumas, garda terdepan yang siaga 24 jam demi memastikan kelancaran perjalanan para pemudik, meski harus mengesampingkan rindu pada keluarga di rumah.
Bagi para personel ini, tugas bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah kehormatan. Bripda Zakiy, salah satu operator yang bertugas, merasa momen krusial ini adalah saat terbaik untuk membuktikan dedikasi Polri kepada masyarakat.
“Kami bisa melayani ketika masyarakat benar benar membutuhkan, khususnya di saat penting seperti mudik Lebaran. Saya sangat senang apabila perjalanan masyarakat menjadi aman dan lancar setelah menghubungi layanan 110,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Kepuasan serupa dirasakan oleh rekan sejawatnya. Baginya, setiap apresiasi dari penelepon adalah suntikan semangat untuk menjaga situasi kamtibmas di Banyumas tetap kondusif.
“Suka saya bisa membantu dan melayani masyarakat, sehingga tercipta keamanan dan ketertiban. Apresiasi dari masyarakat menjadi motivasi bagi kami untuk terus memberikan yang terbaik. Mudik aman, keluarga bahagia,” katanya.
Namun, tugas ini juga menuntut ketangguhan mental yang tinggi. Briptu Ariyanto menceritakan bagaimana ia harus menjaga profesionalisme di tengah luapan emosi para penelepon yang panik.
“Saya ikut merasa khawatir ketika ada yang mengalami kecelakaan atau kendaraannya rusak di tengah perjalanan mudik,” kata Ariyanto.
Lebih dari sekadar tekanan pekerjaan, ada pengorbanan personal yang mendalam. Di saat jutaan orang bersukacita menuju kampung halaman, Ariyanto tetap bersiaga di meja tugas, jauh dari hangatnya tradisi keluarga.
“Saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga tahun ini. Ketupat dan opor hangat masakan orang tua pun harus saya lewatkan. Bahkan baju Lebaran saya adalah seragam dinas Polri ini,” katanya.
Meski rindu rumah menyelinap di sela-sela shift kerja, dedikasi para operator 110 ini tidak pernah luntur. Mereka sepenuhnya sadar bahwa setiap dering telepon membawa harapan besar dari warga yang membutuhkan pertolongan cepat. Di tengah hiruk-pikuk mudik 2026, mereka tetap menjadi jembatan penyelamat antara masyarakat dan kepolisian di lapangan.