
JAKARTA, SERAYUNEWS– Pengusaha digital asal Banyumas, Mukit Hendrayatno, mengaku banyak terinspirasi oleh pemikiran Begawan Ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo, dalam membangun perusahaan dan memandang arah pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan investasi, tetapi harus melahirkan lebih banyak pengusaha nasional yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan Mukit dalam Peluncuran Buku Soemitro Djojohadikusumo, Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik Indonesia yang dirangkai dengan Simposium Nasional di Auditorium Yusuf Ronodipuro, RRI Jakarta, Selasa (4/8/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan Nusantara Centre bersama Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia.
Sebagai Komisaris Utama Ethos Group yang membangun bisnis digital dari Banyumas hingga berkembang di tingkat nasional, Mukit menilai keberhasilan pembangunan ekonomi tidak diukur dari besarnya investasi semata, melainkan dari kemampuan negara melahirkan perusahaan nasional yang tangguh. Untuk mewujudkan perusahaan yang tangguh, Mukit melanjutkan, pemerintah seharusnya memposisikan pengusaha nasional bukan sekadar pelaku pasar. “Ajak pelaku usaha sebagai bagian dari arsitektur pembangunan nasional,” katanya.
Tidak bisa dipungkiri pelaku usaha menjadi jembatan antara kebijakan negara, inovasi teknologi, dan kesejahteraan masyarakat. Jika negara mampu menciptakan ekosistem atau iklim usaha yang nyaman bagi pelaku usaha maka datangnya investasi bakal menjadi instrumen yang memperbesar kekuatan ekonomi Indonesia. “Investasi yang disuntikkan akan memberi dampak kuat terhadap transfer teknologi, peningkatan produktivitas, sampai pada tumbuhnya perusahaan berskala global.”
Mukit mengatakan, pengusaha memiliki peran strategis sebagai pencipta lapangan kerja, penggerak inovasi, sekaligus mitra pemerintah dalam memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
“Indonesia membutuhkan pengusaha yang tangguh, inovatif, dan mampu bersaing secara global. Kehadiran pelaku usaha nasional sangat penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam negeri,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keberpihakan negara terhadap kewirausahaan. Menurutnya, akses pembiayaan dan kebijakan pemerintah harus mampu mendorong lahirnya lebih banyak wirausahawan produktif, terutama dari daerah.
Gagasan tersebut, kata Mukit, sejalan dengan pemikiran Soemitro Djojohadikusumo yang menempatkan pembangunan ekonomi sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan. Bagi Soemitro, kemerdekaan politik hanya akan bermakna apabila ditopang oleh kemandirian ekonomi, penguasaan industri, serta kemampuan bangsa mengelola sumber daya strategisnya sendiri.
Mukit menilai cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila negara, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat berjalan dalam satu visi membangun ekonomi yang berdaulat. “Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar modal finansial. Yang tidak kalah penting adalah nasionalisme ekonomi, keberanian membangun usaha nasional, dan kolaborasi untuk menciptakan nilai tambah bagi bangsa,” katanya.
Peluncuran buku karya Agus Rizal dan Dedi Setiadi itu turut dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Guru Besar FEM IPB Prof. Didin S. Damanhuri, Prof. Yudhie Haryono, Direktur Utama RRI Ignatius Hendrasmo, serta sejumlah tokoh nasional lainnya. Simposium tersebut menjadi ruang diskusi mengenai relevansi pemikiran Soemitro Djojohadikusumo dalam merumuskan arsitektur ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.