
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Kabupaten Purbalingga kembali menjadi lokasi produksi film nasional. Kali ini, Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, dipilih sebagai lokasi utama syuting film Tamu Maghrib, film horor psikologis produksi JSF Creative Studio yang disutradarai Jay Sukmo.
Kehadiran produksi film ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Purbalingga, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan talenta lokal untuk terlibat langsung dalam industri perfilman nasional.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyambut baik kegiatan tersebut karena dinilai mampu mempromosikan potensi wisata, budaya, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, berharap proses produksi film dapat menjadi ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi komunitas perfilman lokal melalui kolaborasi dengan kru profesional dari tingkat nasional.
Produser film Tamu Maghrib, Anggit Danurendra, menjelaskan Desa Pelumutan dipilih karena masih memiliki rumah-rumah tradisional serta suasana pedesaan yang sesuai dengan kebutuhan cerita.
Film ini mengambil latar era 1990-an sehingga membutuhkan lokasi yang tetap mempertahankan karakter bangunan lama dan lingkungan yang alami.
Selain itu, budaya masyarakat Banyumas yang masih kuat menjadi nilai tambah karena mampu memperkuat nuansa cerita dalam film.
Sutradara Jay Sukmo juga akan mengangkat berbagai unsur budaya lokal Banyumas, termasuk karakter masyarakat yang dikenal dengan budaya cablaka, yakni berbicara secara terbuka dan apa adanya.
Melalui pendekatan tersebut, Tamu Maghrib tidak hanya menghadirkan kisah horor, tetapi juga memperkenalkan budaya Banyumas kepada penonton di seluruh Indonesia.
Bagi masyarakat yang penasaran hingga kapan proses syuting berlangsung, pengambilan gambar di Kabupaten Purbalingga dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, mulai 15 Juli sampai 24 Juli 2026.
Selama periode tersebut, tim produksi akan melakukan pengambilan gambar di sejumlah titik, dengan Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, sebagai lokasi utama.
Setelah menyelesaikan proses syuting di Purbalingga, tim produksi akan melanjutkan pengambilan gambar ke beberapa lokasi di Kabupaten Banyumas sesuai kebutuhan skenario.
Selama kegiatan berlangsung, masyarakat di sekitar lokasi kemungkinan akan melihat aktivitas kru produksi, kendaraan operasional, hingga proses pengambilan gambar dengan berbagai peralatan perfilman.
Kehadiran produksi film nasional ini diperkirakan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.
Berbagai kebutuhan produksi, mulai dari konsumsi, penginapan, transportasi, hingga logistik, berpotensi melibatkan pelaku usaha lokal sehingga dapat meningkatkan perputaran ekonomi di wilayah Purbalingga.
Film Tamu Maghrib merupakan adaptasi dari film pendek berjudul sama yang sempat menarik perhatian publik pada 2023.
Versi layar lebarnya dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama, di antaranya Masayu Anastasia dan Asri Welas.
Film ini mengisahkan perjuangan seorang ibu bernama Ayu Jumeneng yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Ketika lingkungan di sekitarnya memilih diam dan mengabaikan permintaan pertolongannya, sebuah peristiwa tragis mengubah hidupnya hingga memunculkan teror yang menghantui seluruh desa setiap waktu maghrib.
Meski dibalut nuansa supranatural, Tamu Maghrib lebih menonjolkan unsur thriller psikologis dengan mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, trauma, ketakutan, serta dampak ketika masyarakat memilih bersikap acuh terhadap penderitaan orang lain.
Kehadiran film ini diharapkan menjadi media promosi baru bagi Purbalingga dan kawasan Banyumas melalui industri kreatif.
Keindahan lanskap pedesaan, budaya lokal, hingga karakter masyarakat Banyumas akan menjadi bagian penting dari cerita yang nantinya disaksikan oleh penonton di seluruh Indonesia.