
SERAYUNEWS- Fenomena langit kembali menyita perhatian publik di Bulan Suci Ramadhan.
Sejumlah video yang memperlihatkan cahaya terang menyerupai komet atau meteor sering disebut “bintang berekor” viral di berbagai platform media sosial. Salah satu unggahan yang ramai diperbincangkan berasal dari akun Instagram @kabarmakkah.
Kemunculan cahaya tersebut langsung memantik spekulasi. Sebagian warganet mengaitkannya dengan tanda-tanda kiamat, bahkan menghubungkannya dengan hadits tentang dukhan (kabut besar) dan kemunculan Dajjal.
Benarkah fenomena ini pertanda akhir zaman? Melansir berbagai sumber, berikut ulasan lengkapnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dalam beberapa pekan terakhir, beredar video yang menampilkan cahaya panjang melintas di langit malam. Bentuknya menyerupai komet dengan ekor bercahaya.
Narasi yang menyertai unggahan itu menyebut kemunculan “bintang berekor” sebagai tanda munculnya dukhan, salah satu tanda besar kiamat dalam Islam.
Potongan hadits pun ikut disebarkan:
“Bintang berekor telah terbit. Aku khawatir dukhan telah muncul. Ini yang membuatku tidak bisa tidur hingga subuh.” (HR. Hakim)
Selain itu, beredar pula hadits shahih yang berbunyi:
“Dajjal akan diikuti oleh 70.000 Yahudi dari Isfahan, mereka memakai thayalisah (selendang Persia).” (HR. Muslim)
Gabungan potongan dalil dan momentum Ramadhan membuat isu ini cepat menyebar. Namun, para ulama mengingatkan agar umat tidak gegabah menarik kesimpulan.
Riwayat tentang “bintang berekor” yang dikaitkan dengan dukhan ternyata tidak bisa dijadikan dalil kuat. Sejumlah ulama menilai sanadnya bermasalah.
Pendakwah nasional, Khalid Basalamah, dalam beberapa kajiannya menjelaskan bahwa riwayat tersebut tidak sahih, bahkan dinilai sebagai hadits palsu oleh sebagian ahli hadits. Karena itu, ia mengimbau umat Islam agar tidak menjadikan narasi tersebut sebagai dasar keyakinan.
Menurutnya, fenomena cahaya di langit seperti komet atau meteor adalah peristiwa alam yang lazim terjadi dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Tidak setiap kejadian astronomi memiliki makna eskatologis (tanda akhir zaman).
Ia juga menekankan pentingnya merujuk pada dalil yang sahih serta penjelasan ulama terpercaya sebelum menyimpulkan sesuatu sebagai tanda kiamat.
Dalam ajaran Islam, dukhan memang termasuk salah satu tanda besar kiamat. Namun para ulama menjelaskan bahwa peristiwa tersebut sangat dahsyat dan berdampak luas secara global.
Dukhan bukan sekadar cahaya melintas di langit atau fenomena komet biasa. Ia digambarkan sebagai kabut besar yang menyelimuti bumi dan menimbulkan dampak luar biasa bagi manusia.
Karena itu, mengaitkan fenomena langit yang viral dengan dukhan tanpa dalil sahih merupakan bentuk penafsiran yang terlalu jauh. Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan agar umat tidak mudah mengklaim suatu peristiwa sebagai tanda besar kiamat tanpa dasar kuat.
Hadits tentang 70.000 pengikut Dajjal dari Isfahan memang tercantum dalam kitab shahih karya Imam Muslim. Statusnya sahih dan diakui para ulama.
Namun, riwayat tersebut berbicara tentang kondisi ketika Dajjal telah muncul di akhir zaman. Ia tidak menyebut kemunculan bintang berekor sebagai penandanya.
Ulama seperti Adi Hidayat dan Abdul Somad kerap mengingatkan agar hadits-hadits tentang Dajjal tidak dibaca secara tekstual dan parsial. Pemahaman kontekstual sangat diperlukan agar tidak melahirkan prasangka atau kebencian terhadap kelompok tertentu.
Sementara itu, ulama kharismatik asal Rembang, Gus Baha, menambahkan bahwa simbol-simbol dalam hadits sering mengandung makna mendalam. Dajjal tidak hanya dipahami sebagai sosok individu, tetapi juga dapat dimaknai sebagai sistem kebatilan yang menipu manusia dan memalingkan mereka dari kebenaran.
Artinya, fokus ajaran Islam bukanlah menuduh etnis atau agama tertentu, melainkan memperkuat kewaspadaan diri dan kualitas iman.
Kekhawatiran tentang figur jahat yang menyamar sebagai penyelamat bukan hanya ada dalam Islam. Tradisi Kristen mengenal konsep Antikristus, sedangkan dalam Yudaisme terdapat istilah false messiah.
Narasi ini bersifat universal dan sering muncul dalam berbagai peradaban. Namun ketika dikaitkan dengan konflik geopolitik, seperti ketegangan di Timur Tengah, isu tersebut mudah dipelintir untuk kepentingan tertentu.
Potongan hadits, gambar dramatis, dan judul bombastis seringkali disebarkan tanpa verifikasi memadai. Akibatnya, masyarakat mudah terprovokasi dan diliputi ketakutan.
Padahal, Islam mengajarkan ketenangan dan keteguhan. Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan umatnya untuk hidup dalam kepanikan, melainkan menjadi umat yang berilmu, rasional, dan mampu membaca situasi dengan bijak.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri. Karena itu, umat Islam perlu menyikapi fenomena viral dengan sikap dewasa.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1. Melakukan tabayyun sebelum menyebarkan informasi.
2. Memastikan status hadits dan dalil yang beredar.
3. Merujuk pada ulama dan sumber yang kredibel.
4. Tidak mudah terpancing narasi kiamat tanpa dasar sahih.
5. Menghindari penyebaran konten yang memicu kebencian.
Fenomena “bintang berekor” di bulan Ramadhan memang menarik perhatian publik. Namun hingga saat ini, tidak ada dalil sahih yang mengaitkannya secara langsung dengan dukhan maupun kemunculan Dajjal.
Hadits tentang 70.000 pengikut Dajjal dari Isfahan adalah riwayat shahih, tetapi tidak relevan untuk dikaitkan dengan video viral yang beredar sekarang.
Sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah tetap tenang, memperkuat iman, serta meningkatkan literasi keagamaan. Dunia tidak membutuhkan kepanikan, melainkan cahaya ilmu, akhlak, dan welas asih terutama di bulan yang penuh berkah ini.