Jumat, 24 September 2021

Zona Merah Covid-19 di Jateng Menurun


Berbagai upaya penanganan kasus COVID-19 yang dilakukan Pemprov Jateng menunjukkan hal positif. Jumlah zona merah COVID-19 di Jawa Tengah telah menurun. Jika pekan sebelumnya tercatat 25 kabupaten/kota yang masuk zona merah, kini per Senin (12/6/2021) menjadi 19 zona merah.


Semarang, Serayunews.com

Rinciannya antara lain Klaten, Kota Semarang, Purworejo, Kendal, Batang, Kabupaten Semarang, Banjarnegara, Temanggung, Wonosobo, Brebes, Pati, Rembang, Kota Pekalongan, Sukoharjo, Kebumen, Kota Tegal, Pemalang, Karanganyar, dan Sragen.

Sedangkan untuk kasus aktif tertinggi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan terjadi di Kota Semarang dengan total 1852 kasus. Kemudian disusul daerah Klaten dengan 1554 kasus dan Banjarnegara yakni 1415 kasus.

Selain itu, Kabupaten Kendal berada di posisi keempat tertinggi dengan 1349 kasus, lalu diikuti Kebumen dengan 1251 kasus.

Terkait angka keterisian tempat tidur di rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR), Ganjar mengatakan saat ini sudah cukup bagus. _Bed occupancy ratio_ BOR ICU yang sempat tinggi pada minggu lalu, saat ini sudah turun di angka 77,83 persen. Sementara tempat tidur isolasi juga turun menjadi 85,07 persen.

“BOR-nya membaik. Kemarin kita sempat deg-degan, maka saya minta teman-teman bupati/wali kota menambah ICU dan isolasi. Sekarang sudah membaik, tapi saya tetap meminta dilakukan penambahan dan dibuat skenario dukungan rumah sakit darurat,” ucap Ganjar.

Selain persoalan itu, Ganjar mengatakan pihaknya terus mengupayakan pemenuhan oksigen dan obat-obatan. Untuk oksigen, pihaknya telah membuat Satgas Oksigen dan meminta seluruh rumah sakit punya penanggung jawab yang mengurusi hal itu.

“Selain itu kami juga meminta mereka mengisi aplikasi Jateng Oksigen Stok System (JOSS). Tadi saya juga rapat dengan seluruh pemangku kepentingan terkait oksigen agar semua bekerja sama untuk memenuhi,” jelasnya.

Terkait obat-obatan, Ganjar meminta Kemenkes menambah beberapa jenis obat-obatan di pasaran. Sebab laporannya, banyak dokter yang merekomendasikan obat tertentu, namun langka di pasaran.

“Saya sudah WA pak Menkes agar ditambah. Ya siapa tahu obat-obatan itu manjur dan mengurangi angka kematian,” pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini