
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Lahan eks tanaman teh seluas sekitar 10 hektare di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, yang selama kurang lebih 12 tahun tidak produktif, kini kembali digarap melalui program Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis.
Program yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut mengubah lahan tidur menjadi kawasan pertanian terintegrasi dengan konsep integrated smart farming.
Tidak hanya pertanian, kawasan tersebut juga mengembangkan perkebunan, peternakan, perikanan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bahkan menargetkan model Revola dapat diterapkan di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Target tersebut disampaikan Luthfi saat meresmikan sekaligus meninjau program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Senin (10/8/2026).
Menurut Luthfi, lahan tidak produktif masih menjadi persoalan di berbagai wilayah Jawa Tengah. Karena itu, pemerintah provinsi perlu mengambil peran agar lahan-lahan tersebut kembali menghasilkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya pengen seluruh kabupaten/kota harus punya Revola, karena saya yakin di seluruh kabupaten/kota masih banyak lahan kita yang tidur nyenyak. Lahan tidur yang tidak pernah digarap, provinsi harus turun tangan,” kata Luthfi.
Target tersebut membuat program Revola tidak hanya diposisikan sebagai proyek pertanian di Banjarnegara, tetapi juga sebagai model yang nantinya dapat direplikasi di daerah lain.
Setiap daerah nantinya dapat menyesuaikan jenis komoditas dan pola pengelolaan dengan potensi lokal masing-masing.
Program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan dikembangkan di atas lahan sekitar 10 hektare yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan selama kurang lebih 12 tahun.
Lahan eks tanaman teh tersebut kini mulai dihidupkan kembali melalui konsep integrated smart farming.
Berbagai komoditas dikembangkan dalam satu kawasan. Kopi dan alpukat ditanam sebagai tanaman konservasi yang sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Selain itu, kawasan tersebut juga mengembangkan hortikultura, padi, perikanan, serta peternakan ayam dan kambing.
Konsep pertanian terintegrasi tersebut membuat kawasan tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas. Hasil dari masing-masing sektor diharapkan dapat saling mendukung sehingga menciptakan rantai ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Semua tersambung, campur baur, sehingga ujungnya masyarakat sejahtera, masyarakat tidak nganggur, serta lahannya terpakai tidak pernah berhenti,” ujar Luthfi.
Luthfi mengatakan Revola memiliki sasaran yang lebih luas dibandingkan sekadar meningkatkan produksi pertanian.
Program tersebut juga diarahkan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat dan pengurangan kemiskinan.
Masyarakat yang membutuhkan dapat terlibat dalam berbagai aktivitas produktif, mulai dari pertanian, peternakan hingga perikanan.
Melalui keterlibatan tersebut, warga diharapkan memperoleh sumber pendapatan baru dan secara bertahap meningkatkan taraf hidup.
“Misalnya di daerah Banjarnegara ini banyak yang miskin. Dengan cara itu mereka akan naik kelas sehingga tidak miskin dan miskin ekstrem lagi,” katanya.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan Revola ditargetkan dapat dikembangkan di daerah lain dengan menyesuaikan karakteristik dan potensi lokal masing-masing wilayah.
Kepala Desa Susukan Hasyim Abdullah mengatakan masyarakat menyambut positif pelaksanaan Revola Jateng Optimis.
Menurutnya, program tersebut membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif sekaligus terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi.
Pertanian, peternakan, dan perikanan dikembangkan secara berdampingan. Hasil produksi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sedangkan kelebihan produksi diharapkan menjadi sumber pendapatan.
“Revola ini juga memberdayakan masyarakat miskin yang ada di desa kami. Program ini kan baru berjalan sebulan, jadi untuk awal hasil telur ayam akan dimanfaatkan sendiri untuk peningkatan gizi, ke depannya akan meningkatkan pendapatan bagi keluarga miskin,” kata Hasyim.
Selain aspek ekonomi, pengembangan kopi dan alpukat juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan.
Kedua tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi sekaligus berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk membantu menjaga kondisi lahan dan mengurangi risiko erosi.
Revola juga membawa misi regenerasi petani melalui pemanfaatan teknologi.
Teknologi pertanian diperkenalkan untuk menarik keterlibatan generasi muda sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan.
Petani milenial diproyeksikan dapat mengoperasikan berbagai perangkat teknologi, mulai dari drone, sistem penyiraman, hingga alat untuk mengukur unsur tanah.
Petani Desa Susukan Nur Fauzi menyambut baik keterlibatan anak-anak muda dalam program tersebut.
Menurutnya, penerapan smart farming dapat membuka perspektif baru bahwa sektor pertanian tidak selalu identik dengan pekerjaan konvensional.
“Sangat baik karena anak-anak muda juga dilibatkan karena bisa untuk regenerasi petani. Soalnya kebanyakan anak muda sini setelah lulus sekolah dan tidak melanjutkan, banyak merantau atau bekerja di luar desa,” ujarnya.
Fauzi sendiri terlibat dalam pengembangan sektor peternakan kambing.
Selain kambing, warga lainnya mengembangkan peternakan ayam, perikanan, serta berbagai komoditas pertanian seperti kopi, alpukat, cabai, terong, dan padi.
Program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan menjadi salah satu contoh pengembangan lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi kawasan pertanian terintegrasi.
Jika model tersebut berhasil dan dapat diterapkan sesuai karakteristik masing-masing wilayah, Revola berpotensi berkembang menjadi gerakan pertanian yang lebih luas di Jawa Tengah.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan model tersebut dapat diterapkan di 35 kabupaten/kota.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk mengubah lahan tidur menjadi lahan garapan. Revola juga dirancang untuk menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan masyarakat, membuka lapangan kerja, meningkatkan produksi pangan, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dari lahan eks tanaman teh yang selama sekitar 12 tahun kurang produktif di Banjarnegara, pemerintah kini mencoba membangun model baru: lahan kembali hidup, masyarakat ikut bergerak, dan pertanian menjadi sumber ekonomi bersama.