
SERAYUNEWS– Sebanyak 147 mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Purbalingga. Kegiatan tersebut laksanakan di 14 desa di dua kecamatan mulai 7 Januari-10 Februari 2026. Mereka diminta fokus memperkuat kemandirian desa dan mitigasi bencana.
Penerimaan mahasiswa peserta KKN Unsoed di Kabupaten Purbalingga tersebut berlangsung di Graha Adiguna Operation Room, Pendopo Dipokusumo,Rabu (7/1/2026). Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed, Elly Tugiyanti, menyampaikan bahwa KKN kali ini mengusung tema “Unsoed Merakyat, Unsoed Berdampak: Penguatan Resiliensi dan Kemandirian Desa melalui Pemberdayaan Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema tersebut menjadi landasan agar setiap kegiatan mahasiswa benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat kemandirian desa.
“Mahasiswa KKN Unsoed di Purbalingga berjumlah 147 orang yang akan terlibat langsung dalam proses pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi desa, lingkungan, kesehatan, pendidikan hingga tata kelola pemerintahan desa,” ujar Elly.
Sebanyak 126 mahasiswa merupakan peserta KKN Reguler yang ditempatkan di 12 desa di Kecamatan Rembang. Sementara itu, 21 mahasiswa lainnya mengikuti program KKN Tematik Kebencanaan yang difokuskan pada upaya penurunan risiko bencana. Program ini dilaksanakan di dua desa rawan bencana, yakni Desa Sirau Kecamatan Karangmoncol dengan 11 mahasiswa dan Desa Danasari Kecamatan Karangjambu dengan 10 mahasiswa, sebagai hasil kerja sama antara LPPM Unsoed dan BPBD Kabupaten Purbalingga.
Melalui KKN ini, mahasiswa diarahkan untuk memperkuat kemandirian desa melalui pendampingan UMKM dan BUMDes, pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan keluarga, pencegahan stunting, peningkatan literasi dan numerasi anak, serta dukungan terhadap pelayanan dan administrasi pemerintahan desa agar lebih tertib dan berbasis data.
Asisten Administrasi Umum Sekda Purbalingga, Siswanto, yang mewakili Bupati Purbalingga, menekankan bahwa keberhasilan KKN tidak diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari dampak yang dirasakan masyarakat. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak berhenti pada pelaksanaan program semata.
“Berdampak itu bukan hanya output, bukan hanya outcome, tetapi bagaimana impact-nya benar-benar dirasakan. Kalau bentuknya pelatihan, pastikan ada perubahan setelahnya, bukan sekadar pelatihan lalu selesai,” tegasnya.
Pengurangan Risiko Bencana
Siswanto juga menyoroti pentingnya peran mahasiswa dalam pengurangan risiko bencana, khususnya di wilayah utara Purbalingga seperti Karangmoncol dan Rembang yang memiliki tingkat kerawanan longsor dan pergerakan tanah cukup tinggi. Ia berharap mahasiswa dapat membantu pemetaan wilayah rawan dan memberikan rekomendasi mitigasi yang aplikatif bagi masyarakat dan pemerintah.
“Tolong dibantu bagaimana mitigasinya, bagaimana kesiapsiagaan masyarakatnya. Kalau bisa ada pemetaan yang lebih detail, terutama di kawasan permukiman, disertai rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong agar mahasiswa KKN reguler mampu menghubungkan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan kemandirian desa. Menurutnya, fokus pada satu atau dua program yang berkelanjutan jauh lebih penting dibanding menjalankan banyak kegiatan tanpa dampak jangka panjang.
“Kami ingin pemberdayaan masyarakat itu benar-benar mengarah pada kemandirian desa. Pilih program yang fokus, berkelanjutan, dan bisa diteruskan setelah KKN selesai. Kami juga berharap mahasiswa membantu mendorong desa menjadi lebih digital, baik dari sisi pelayanan maupun administrasi,” imbuhnya.