
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Kekhawatiran terhadap efek setelah imunisasi masih menjadi salah satu alasan sebagian orang tua ragu mengizinkan anak mengikuti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Dimana pelaksanaan BIAS di Banjarnegara berlangsung pada Agustus tahun ini dengan menyasar ribuan peserta didik. Sebanyak 15.835 siswa kelas 1 menjadi sasaran imunisasi MR, sedangkan 7.711 siswi kelas 5 menjadi sasaran vaksin HPV.
Selain itu, terdapat 383 siswi kelas 6 dan 9 yang masuk sasaran kejar vaksin HPV karena sebelumnya belum memperoleh vaksin ketika berada di kelas 5.
Melalui BIAS ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara meminta orang tua tidak perlu takut. Imunisasi BIAS merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan anak dan diberikan secara gratis sebagai hak setiap anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjarnegara, Abidin Achmad, mengatakan sosialisasi mengenai pelaksanaan BIAS telah dilakukan secara lintas sektor.
Dinkes berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora), Kementerian Agama, hingga tim pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
“Alhamdulillah sejauh ini penolakan sedikit. Jadi kami yakin di tahun ini bisa terealisasi semua sesuai target,” kata Abidin.
Abidin memahami bahwa sebagian orang tua masih memiliki kekhawatiran terhadap kemungkinan munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) setelah anak mendapatkan vaksin.
Namun, berdasarkan pemantauan pelaksanaan BIAS, keluhan yang muncul umumnya ringan. Beberapa anak dilaporkan mengalami pusing atau mual setelah imunisasi, dengan jumlah kejadian yang relatif kecil.
“Kalau yang BIAS biasanya didominasi mual, namun secara persentase kecil sekali kejadiannya. Hanya beberapa saja yang pusing dan mual,” ujarnya.
Dinkes pun meminta orang tua tidak langsung mengaitkan setiap keluhan setelah imunisasi dengan vaksin tanpa melihat kondisi anak secara keseluruhan. Salah satu hal sederhana yang perlu diperhatikan adalah memastikan anak sudah makan atau sarapan sebelum mengikuti imunisasi. Sebagian anak yang mengeluhkan pusing atau mual ternyata belum sarapan sejak pagi.
“Yang penting anak sudah sarapan dan suasananya senang, insyaallah semua aman. Namun, beberapa kasus yang kemudian pusing dan mual itu biasanya setelah ditelusur ternyata belum sarapan sejak pagi,” katanya.
Selain mempersiapkan anak sebelum imunisasi, petugas kesehatan juga melakukan pemantauan setelah vaksin diberikan. Bahkan, Puskesmas turut menyiapkan obat dan perlengkapan penanganan apabila terjadi reaksi berat, termasuk kondisi darurat seperti syok anafilaktik.
Dinkes juga meminta orang tua maupun pihak sekolah segera berkomunikasi dengan petugas kesehatan apabila anak mengalami keluhan setelah meninggalkan sekolah. Langkah tersebut penting agar kondisi anak dapat segera dinilai dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.
Abidin menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu bentuk perlindungan kesehatan anak yang manfaatnya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga untuk jangka panjang. Karena itu, ia mengajak orang tua untuk tidak ragu memberikan izin kepada anak mengikuti program BIAS.
“Ini hak warga negara. Kami ingin memberikan layanan terhadap hak mereka dan ini merupakan kewajiban kami untuk memenuhinya, jadi tidak perlu takut,” katanya.
Vaksin HPV diberikan kepada siswi sebagai salah satu upaya pencegahan kanker leher rahim. Sementara imunisasi MR (Measles-Rubella) diberikan untuk memperkuat perlindungan anak terhadap penyakit campak dan rubela.
Dengan jumlah sasaran yang mencapai puluhan ribu anak, Dinkes Banjarnegara berharap dukungan orang tua menjadi kunci agar cakupan BIAS dapat mencapai target. Bagi orang tua, persiapannya pun sederhana: memastikan anak dalam kondisi sehat, sudah sarapan, serta mengikuti imunisasi dengan suasana yang nyaman.
Sementara bagi tenaga kesehatan, tugasnya tidak berhenti setelah vaksin diberikan. Pemantauan dan kesiapan penanganan tetap dilakukan untuk memastikan rangkaian imunisasi berjalan aman.
Dinkes Banjarnegara pun kembali mengingatkan bahwa BIAS bukan sekadar agenda tahunan di sekolah, melainkan bagian dari upaya bersama untuk memastikan anak-anak mendapatkan perlindungan kesehatan sejak dini.