
SERAYUNEWS – Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman menyebut kondisi infrastruktur sumber daya air di wilayahnya masih menjadi tantangan besar, terutama di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Tekanan fiskal akibat pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) hingga Rp393 miliar memaksa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cilacap menyesuaikan sejumlah program pembangunan, termasuk di sektor pengelolaan sumber daya air.
“Cilacap berada di wilayah hilir. Kita punya potensi besar, termasuk surplus beras, tetapi juga menghadapi risiko tinggi seperti banjir dan tanggul jebol. Anggaran yang ada memang belum cukup untuk menyelesaikan semua persoalan,” ujar Syamsul saat memberikan arahan jajaran Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di Aula PSDA Cilacap, Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan data Dinas PSDA, kondisi jaringan irigasi di Kabupaten Cilacap masih memprihatinkan. Dari total luas daerah irigasi sekitar 64 ribu hektare dengan panjang jaringan mencapai 1,2 juta meter, sebanyak 54,90 persen tercatat dalam kondisi rusak berat. Sementara itu, saluran irigasi yang kondisinya baik baru mencapai 45,10 persen.
Kepala Dinas PSDA Kabupaten Cilacap, Bambang Tujiatno, menjelaskan panjang jaringan irigasi tersebut terdiri dari kewenangan pemerintah pusat sekitar 452 ribu meter, kewenangan provinsi 46 ribu meter, dan kewenangan kabupaten sekitar 754 ribu meter. Menurutnya, kondisi kerusakan jaringan irigasi membutuhkan penanganan bertahap karena keterbatasan anggaran.
“Sebagian besar jaringan irigasi kita masih rusak berat. Perbaikannya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujar Bambang.
Selain irigasi, persoalan drainase juga menjadi sorotan. Data PSDA menunjukkan hanya sekitar 9 persen saluran pembuang atau drainase yang kondisinya baik, sementara sekitar 90 persen lainnya mengalami rusak berat. Kondisi ini memicu tingginya potensi genangan air di sejumlah wilayah.
Meski demikian, Bambang menyebut kondisi drainase di kawasan perkotaan relatif lebih baik. Sekitar 93 persen drainase di wilayah perkotaan Cilacap dinilai masih berfungsi dengan baik. Sebaliknya, wilayah Cilacap timur, termasuk kawasan Mujur, masih kerap menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi.
Sebagai upaya pengendalian banjir dan peningkatan tampungan air, Pemkab Cilacap pada tahun ini melakukan normalisasi Sungai Kaliyasa dan akan membangun kolam retensi di sejumlah titik wilayah perkotaan.
Selain itu, juga akan membangun tiga embung, masing-masing di wilayah Sikampuh, Kedawung, dan Mujur di sekitar utara SPBU Kedawung. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menjawab seluruh persoalan infrastruktur air di Cilacap.
Untuk itu, Pemkab Cilacap mendorong inovasi dan sinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pusat serta pihak lain agar dapat menarik dukungan anggaran tambahan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar perbaikan irigasi dan drainase tetap berjalan, sekaligus menjaga produktivitas pertanian dan keselamatan masyarakat di wilayah hilir.