
CILACAP, SERAYUNEWS – Kebakaran lahan menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Cilacap selama puncak musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap mencatat 9 kejadian kebakaran lahan di 7 kecamatan sepanjang 13 Juli hingga 27 Agustus 2026.
Dari seluruh kejadian tersebut, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 6,24 hektare. BPBD juga mencatat satu laporan dengan luasan dalam satuan 100 ubin.
Seluruh kebakaran berhasil ditangani dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Namun, BPBD Cilacap meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan karena kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan risiko kebakaran meningkat seiring kondisi kemarau yang semakin kering.
“Jadi memang El Nino saat ini kan El Nino yang berdasarkan informasi dari BMKG adalah El Nino yang sangat kering ya. Artinya potensi kebakaran itu juga cukup tinggi,” ujar Taryo.
Berdasarkan rekapitulasi Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Cilacap, Kecamatan Wanareja mencatat kejadian kebakaran lahan terbanyak dengan 3 kejadian.
Sementara itu, enam kecamatan lainnya masing-masing mencatat satu kejadian. Wilayah tersebut meliputi:
Kebakaran pertama dalam periode pencatatan terjadi pada 13 Juli 2026 di Cilacap Selatan. Kejadian berikutnya berlangsung pada 25 Juli, 2 Agustus, 4 Agustus, 11 Agustus, 14 Agustus, 24 Agustus, hingga kejadian terakhir pada 27 Agustus 2026.
Salah satu kebakaran terbaru terjadi di sekitar jalur rel kereta api kawasan Gumilir, tepatnya di Jalan Laban, Cilacap, Kamis (27/8/2026).
Petugas BPBD bersama unsur terkait langsung melakukan penanganan untuk mencegah api merambat ke area lain. Menurut BPBD, kebakaran di sekitar jalur rel tersebut bukan merupakan kejadian pertama.
Rangkaian kebakaran lahan tersebut berdampak terhadap 75 kepala keluarga (KK) atau 287 jiwa. Meski demikian, tidak ada warga yang harus mengungsi.
BPBD juga mencatat tidak terdapat kerusakan sarana dan prasarana akibat rangkaian kebakaran tersebut. Korban meninggal dunia maupun luka-luka juga nihil.
Sementara itu, taksiran kerugian material yang tercatat dalam rekapitulasi BPBD mencapai lebih dari Rp2,5 juta.
Dalam menangani kejadian tersebut, BPBD bersama unsur terkait melakukan berbagai langkah, mulai dari asesmen atau kaji cepat, pemadaman, pendinginan, suplai air, hingga pemantauan dan pelaporan.
BPBD Cilacap mencatat pembakaran sampah menjadi salah satu dugaan penyebab dominan kebakaran lahan.
Dari sembilan kejadian yang tercatat, empat kejadian atau sekitar 44 persen diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah.
Dua kejadian lainnya atau sekitar 22 persen diduga dipicu puntung rokok. Sementara itu, aktivitas atau proses sampah tercatat 12 persen, penyebab lainnya 12 persen, dan satu kejadian atau sekitar 11 persen masih belum diketahui penyebabnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas membakar sampah di dekat lahan kering dapat memicu api merambat dengan cepat.
BPBD mengimbau masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, terutama di sekitar lahan yang dipenuhi rumput, semak, atau vegetasi kering.
Warga juga diminta memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi. Para perokok diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di kawasan hutan, perkebunan, maupun lahan terbuka.
BPBD Cilacap mengingatkan masyarakat tidak menganggap remeh kebakaran meskipun luasan lahan yang terdampak masih relatif kecil.
Kondisi cuaca kering, angin, serta vegetasi yang mudah terbakar dapat membuat api berkembang apabila tidak segera ditangani.
“Walaupun kecil, kalau tidak terus kita antisipasi juga bisa menjadi persoalan, jadi jangan sampai ini malah semakin membesar,” ujarnya.
Kewaspadaan tersebut berlaku di seluruh wilayah Cilacap, mulai dari Kecamatan Dayeuhluhur hingga Nusawungu.
Masyarakat diminta bersama-sama mencegah munculnya titik api dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Jadi sekali lagi ajakan saya pada semuanya untuk senantiasa hati-hati dan waspada terhadap situasi dan kondisi,” pungkasnya.
BPBD Cilacap juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api. Laporan sedini mungkin akan membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Selama puncak musim kemarau, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci untuk mencegah kebakaran lahan di Kabupaten Cilacap.