
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 kembali mencatat prestasi dengan masuk dalam jajaran Top 10 Event Karisma Event Nusantara (KEN) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Memasuki penyelenggaraan ke-16, DCF konsisten memadukan potensi pariwisata dengan pelestarian budaya masyarakat Dieng. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menawarkan atraksi wisata, tetapi juga menghadirkan tradisi lokal sebagai bagian utama kegiatan.
Masuknya DCF 2026 dalam Top 10 KEN menjadi bentuk apresiasi terhadap kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, panitia, serta masyarakat lokal dalam menjaga keberlanjutan festival.
Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata RI, Titik Lestari, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan DCF 2026.
Ia menilai konsistensi DCF selama 16 tahun menjadi salah satu kekuatan festival budaya dan pariwisata di kawasan Dieng.
“Penyelenggaraan ke-16 ini luar biasa. Dari 125 agenda dalam Kalender Event Nusantara, Dieng Culture Festival 2026 berhasil masuk dalam Top 10 Event. Kementerian Pariwisata berkomitmen mempromosikan festival ini hingga ke mancanegara melalui platform dan agenda promosi internasional kami,” ujarnya.
Kementerian Pariwisata juga optimistis penguatan kurasi program dan tata kelola DCF dapat mendukung pencapaian target pariwisata nasional, termasuk target 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,2 miliar pergerakan wisatawan nusantara.
Selama pelaksanaan festival, Kementerian Pariwisata turut menurunkan tim untuk melakukan survei dampak ekonomi secara terstruktur. Survei tersebut bertujuan mengukur kontribusi DCF terhadap aktivitas ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM dan masyarakat di sekitar kawasan Dieng.
Selain menjadi agenda budaya dan pariwisata, DCF juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Kementerian Pariwisata melakukan pengukuran secara langsung untuk melihat sejauh mana penyelenggaraan festival memberikan manfaat ekonomi bagi UMKM dan masyarakat setempat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap penyelenggaraan event nasional. Dengan demikian, keberhasilan DCF tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat sekitar.
Di tengah semakin besarnya daya tarik DCF, Kementerian Kebudayaan RI mengingatkan pentingnya menjaga nilai asli tradisi masyarakat Dieng.
Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, mengatakan perkembangan pariwisata tidak boleh menghilangkan esensi budaya yang menjadi identitas utama Dieng.
Mengusung tema “Spirit of Harmony”, DCF 2026 diharapkan mampu menjadi ruang hidup, ruang spiritual, sekaligus ruang perjumpaan antara manusia, alam, tradisi, dan sejarah.
Agus secara khusus menyoroti tradisi ruwat anak rambut gimbal yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) sejak 2016.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan ritual pemotongan rambut, tetapi juga mengandung sistem pengetahuan, simbol doa, serta semangat gotong royong masyarakat Dieng. Karena itu, keberlangsungannya sebagai living tradition harus tetap dijaga.
“Pemanfaatan kebudayaan harus memegang prinsip, jangan sampai nilai budaya dikorbankan demi kepentingan ekonomi. Kita tidak ingin tradisi hanya menjadi tontonan, tetapi harus tetap menjadi tuntunan. Masyarakat Dieng harus tetap menjadi pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus penerima manfaat utamanya,” katanya.
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menegaskan bahwa DCF merupakan hasil kolaborasi berbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap budaya, pariwisata, dan penguatan ekonomi kreatif masyarakat.
Menurut Amalia, sejak penyelenggaraan pertama hingga tahun ke-16, DCF tetap digerakkan oleh Pokdarwis Dieng Pandawa. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berperan memberikan pendampingan sekaligus memastikan keamanan dan kenyamanan selama festival berlangsung.
“DCF ini milik masyarakat. Kami menyebut pengunjung yang hadir sebagai ‘partisipan’, karena kehadiran mereka memberikan dampak yang luar biasa terhadap suksesnya acara ini,” ujarnya.
Amalia juga menilai konsistensi Pokdarwis Dieng Pandawa dalam menjaga identitas budaya menjadi salah satu kekuatan DCF. Salah satunya terlihat dari strategi promosi festival yang tidak menjadikan jajaran artis sebagai daya tarik utama.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar wisatawan yang datang memiliki tujuan utama untuk menikmati kebudayaan khas Pegunungan Dieng.
Pembukaan DCF 2026 ditandai dengan pelepasan burung merpati sebagai simbol harmoni. Prosesi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan atraksi silat dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Banjarnegara.
Rangkaian pembukaan tersebut memperkuat pesan yang dibawa DCF tahun ini melalui tema “Spirit of Harmony”, yakni mempertemukan pariwisata, budaya, masyarakat, dan lingkungan dalam satu ruang festival.
Dengan masuknya DCF 2026 dalam Top 10 KEN, festival budaya Dieng tersebut kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Tantangannya kini bukan hanya mempertahankan daya tarik wisata, tetapi juga memastikan tradisi tetap hidup dan masyarakat lokal tetap menjadi bagian utama dari perkembangan pariwisata Dieng.