
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto bersama Gamelan Kiai Kanjeng menggaungkan pesan untuk menjaga alam dan kearifan lokal dalam Kongkow Budaya Dieng Culture Festival (DCF) 2026.
Agenda tersebut berlangsung di Venue Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Jumat sore (28/8/2026). Forum ini tidak sekadar membahas perkembangan pariwisata, tetapi juga mengajak masyarakat melihat Dieng sebagai ruang hidup yang harus dijaga kelestarian alam, budaya, dan identitasnya.
Sabrang menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan kelestarian lingkungan Dieng.
Menurutnya, potensi wisata di kawasan dataran tinggi tersebut memang perlu dikembangkan. Namun, pembangunan tidak boleh mengorbankan karakter, kesejukan, dan keasrian alam Dieng.
Putra Emha Ainun Najib atau Cak Nun itu mengingatkan agar pengelolaan pariwisata tidak hanya mengejar kepentingan ekonomi dalam jangka pendek.
“Jangan sampai Dieng hanya menjadi tempat ‘pindah kos-kosan’. Tetaplah menjadi daerah yang sejuk dan lestari alamnya. Jangan sampai semua potensi diwakilkan hanya pada satu hal, seperti carica atau menjamurnya penginapan semata,” ujar Sabrang.
Sabrang menilai kekuatan Dieng jauh lebih besar daripada komoditas maupun bangunan wisata. Alam, budaya, tradisi, dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang menjadi modal utama kawasan tersebut.
Ia juga mengangkat filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawana, yang mengajarkan upaya menjaga dan memperindah kehidupan serta alam semesta.
Bagi Sabrang, falsafah tersebut tidak cukup berhenti sebagai slogan budaya. Masyarakat harus menerapkannya melalui tindakan nyata dalam memperlakukan lingkungan.
“Indikator sederhananya dapat diukur dari seberapa berani kita mempertanggungjawabkan perlakuan kita terhadap alam ini kepada Tuhan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan utama Kongkow Budaya DCF 2026. Di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata di Dieng, pertumbuhan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis.
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali turut menyoroti persoalan lingkungan yang terjadi di kawasan hulu Dieng.
Gus Wakhid menjelaskan, persoalan ekologis di kawasan hulu dapat memberikan dampak hingga wilayah hilir. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah sedimentasi di Waduk Mrica.
Menurutnya, sedimentasi Waduk Mrica telah mencapai sekitar 80 persen. Kondisi tersebut menjadi alarm penting mengenai dampak alih fungsi lahan dan erosi di kawasan hulu.
Karena itu, upaya menjaga Dieng tidak hanya menyangkut kepentingan masyarakat yang tinggal di dataran tinggi. Kelestarian kawasan tersebut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Gus Wakhid juga mengisahkan nilai historis Dieng bagi Banjarnegara. Ia menceritakan perbincangan antara mantan Bupati Wonosobo Kholiq Arif dengan Bupati Banjarnegara saat itu, Djasri.
Dalam cerita tersebut, Kholiq Arif sempat berseloroh menawarkan barter satu wilayah kecamatan di Wonosobo dengan Desa Dieng Kulon.
“Dulu mantan Bupati Wonosobo Kholiq Arif pernah berseloroh menawarkan barter satu wilayah Kecamatan di Wonosobo untuk ditukar dengan Desa Dieng Kulon kepada Bupati Banjarnegara saat itu, Pak Djasri. Tawaran itu ditolak Pak Djasri. Ini menjadi pengingat bahwa Dieng memiliki nilai historis bagi Banjarnegara,” kata Gus Wakhid.
Kongkow Budaya DCF 2026 juga menghadirkan pembahasan mengenai sejarah Islam dan literasi keuangan.
Kiai Sofyan mengulas sejarah perkembangan syiar Islam di dataran tinggi Dieng. Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan keagamaan turut menjadi bagian dari perkembangan budaya dan sejarah masyarakat Dieng.
Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto Dinavia Tri Riandari memberikan edukasi mengenai kewaspadaan terhadap kejahatan finansial digital.
Masyarakat Dieng dan wisatawan diingatkan untuk berhati-hati terhadap pinjaman online ilegal serta berbagai modus penipuan yang memanfaatkan pesan singkat maupun WhatsApp.
Dinavia mengajak masyarakat menerapkan prinsip 2L, Legal dan Logis, sebelum menggunakan layanan keuangan maupun melakukan transaksi digital.
Prinsip tersebut berarti masyarakat harus memastikan legalitas penyedia jasa keuangan sekaligus mempertimbangkan kewajaran sebuah tawaran. Masyarakat perlu mewaspadai tawaran yang menjanjikan keuntungan secara berlebihan.
Setelah membahas budaya, lingkungan, sejarah, dan literasi keuangan, suasana Kongkow Budaya semakin hangat ketika Sabrang bersama Gamelan Kiai Kanjeng menghadirkan pertunjukan musik.
Tiga lagu populer Letto, yakni Ruang Rindu, Sandaran Hati, dan Sebelum Cahaya, membuat ribuan pengunjung larut dalam suasana. Pengunjung ikut bernyanyi bersama sambil menikmati perpaduan musik Letto dengan atmosfer khas dataran tinggi Dieng.
Suasana semakin syahdu ketika senandung Senja di Dieng mengalun bersama permainan gamelan Kiai Kanjeng.
Momen tersebut menjadi penutup Kongkow Budaya DCF 2026. Musik, budaya, dan pesan ekologis berpadu dalam satu panggung yang sama.
Kongkow Budaya akhirnya menegaskan satu pesan utama: perkembangan pariwisata Dieng harus berjalan bersama dengan tanggung jawab menjaga alam, budaya, dan identitas masyarakat setempat.
Festival boleh semakin meriah dan wisatawan boleh semakin banyak datang. Namun, alam serta tradisi Dieng tetap harus menjadi ruh yang dijaga.