
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Suasana aula SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, mendadak hening ketika budayawan sekaligus sastrawan nasional Ahmad Tohari mulai berbicara. Di hadapan ratusan siswa, penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk itu tidak sekadar membahas teknik menulis. Ia mengajak generasi muda memandang literasi sebagai jalan panjang untuk mengenali diri, memperluas wawasan, bahkan mengangkat martabat bangsa.
Budayawan Ahmad Tohari hadir di SMAN 1 Sigaluh dalam kegiatan “Meet and Greet Budayawan Nasional Ahmad Tohari: Ngobrol Santai Menumbuhkan Minat Literasi Generasi Muda”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-29 SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara.
“Menulis merupakan aktivitas strategis sebagai sarana utama mengembangkan diri. Orang yang menulis biasanya memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata. Maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh tingkat literasi masyarakatnya,” ujar Ahmad Tohari, Kamis pekan lalu.
Bagi Ahmad Tohari, menulis bukan hanya aktivitas intelektual. Lebih dari itu, menulis adalah perjalanan batin yang ia jalani selama puluhan tahun. “Saya menganggap menulis sebagai cara berdzikir. Karena itu saya selalu khusyuk setiap kali menulis,” katanya.
Pernyataan itu membuat para siswa larut dalam suasana yang berbeda. Menulis, menurut Tohari, bukan sekadar menghasilkan kata-kata, melainkan proses menemukan makna kehidupan.
Sastrawan kelahiran Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, itu juga menghapus anggapan bahwa seorang penulis besar lahir begitu saja. Ia justru mendorong para pelajar untuk tidak takut memulai dari meniru gaya penulis lain sebagai proses belajar.
“Di awal menulis, mencontek dalam arti belajar dari karya orang lain tidak masalah. Kita membutuhkan inspirasi dari penulis-penulis terdahulu. Yang penting terus membaca, terus menulis, lalu menemukan suara kita sendiri,” katanya.
Tohari mengenang perjalanan kariernya yang juga dimulai dari kebiasaan membaca berbagai buku, termasuk karya-karya sastra dunia dalam versi terjemahan.
Usaha panjang itu akhirnya membuahkan hasil ketika tulisannya yang kelima berhasil dimuat di harian Kompas. Momen tersebut menjadi titik awal perjalanan kepenulisannya hingga dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Ia pun mengutip ungkapan dalam bahasa Latin yang bermakna bahwa seseorang dianggap benar-benar “lahir” ketika meninggalkan jejak melalui tulisan.
Menurutnya, karya tulis mampu menembus batas ruang dan waktu. Bahkan, seorang penulis dapat menjadi duta budaya yang memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui karya-karyanya.
Di hadapan para siswa, Ahmad Tohari juga memberikan bekal yang menurutnya sangat penting bagi generasi masa depan. Ia menyebut setiap pelajar perlu menguasai tiga bahasa sekaligus.
“Bahasa Indonesia wajib dikuasai sebagai bahasa nasional, bahasa ibu sebagai identitas budaya, dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Ketiganya harus mampu digunakan dengan baik, baik secara lisan maupun tulisan,” katanya.
Menariknya, Tohari justru memuji capaian para siswa SMAN 1 Sigaluh yang telah berhasil menerbitkan buku sejak usia sekolah.
“Kalian bahkan lebih hebat daripada saya karena sudah berkarya sejak muda. Tinggal terus diasah dengan membaca karya-karya para penulis besar,” katanya.
Kehadiran Ahmad Tohari terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan keberhasilan sekolah melahirkan puluhan buku melalui program Satu Kelas Satu Buku (SKSB), yang menjadi program unggulan literasi di SMAN 1 Sigaluh.
Kepala SMAN 1 Sigaluh, Linovia Karmelita menjelaskan bahwa budaya menulis tidak hanya diterapkan kepada siswa, tetapi juga kepada para guru dan tenaga kependidikan. Hasilnya, seluruh kelas berhasil menerbitkan buku secara kolaboratif.
“Dari program ini telah lahir 24 buku karya siswa sesuai jumlah kelas di sekolah kami, ditambah satu buku karya guru dan karyawan. Kami berharap ini menjadi langkah awal untuk membangun budaya literasi yang semakin kuat,” ujarnya.
Menurut Linovia, sekolah ingin membuktikan bahwa menulis bukan hanya tugas dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan budaya belajar yang harus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Gerakan literasi tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Banjarnegara, Arief Rahman, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai program SKSB layak menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Banjarnegara.
Arief bahkan berharap seluruh karya yang telah diterbitkan dapat menjadi koleksi Perpustakaan Daerah Banjarnegara agar dapat dibaca masyarakat luas.
“Kami berharap 25 buku tersebut bisa dikirim ke Perpustakaan Daerah. Nantinya akan kami pajang bersama karya-karya penulis Banjarnegara lainnya. Program Satu Kelas Satu Buku ini merupakan inovasi yang sangat baik dalam membangun budaya literasi,” katanya.
Di tengah derasnya arus media sosial dan banjir informasi digital, pertemuan antara Ahmad Tohari dan para pelajar SMAN 1 Sigaluh menghadirkan pesan yang sederhana namun mendalam: masa depan tidak hanya dibangun oleh mereka yang pandai berbicara, tetapi juga oleh mereka yang tekun membaca dan berani menulis.
Melalui program literasi yang konsisten dan kehadiran seorang sastrawan nasional yang berbagi pengalaman hidupnya, SMAN 1 Sigaluh menunjukkan bahwa ruang kelas dapat menjadi tempat lahirnya penulis-penulis masa depan.
Dan seperti pesan Ahmad Tohari kepada para siswa, setiap tulisan yang lahir hari ini bisa menjadi jejak yang kelak dikenang, bukan hanya oleh pembacanya, tetapi juga oleh sejarah.