
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Keterbatasan air selama musim kemarau tidak harus menghentikan usaha budidaya ikan. Sistem bioflok dapat menjadi alternatif bagi masyarakat karena mampu menekan penggunaan air sekaligus menjaga produktivitas kolam.
Teknologi budidaya ikan dengan sistem bioflok dinilai cocok diterapkan dalam skala rumah tangga. Dengan investasi sekitar Rp5 juta per kolam, pembudidaya dapat memelihara hingga ratusan ikan nila sampai masa panen.
Salah satu pengembangan sistem tersebut dilakukan oleh SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, yang menjadikan fasilitas budidaya perikanannya sebagai tempat pembelajaran bagi siswa sekaligus masyarakat.
Ketua Kompetensi Keahlian Perikanan SMK Negeri 1 Bawang, Banjarnegara, Jauhar Fadli, mengatakan sistem bioflok memiliki keunggulan karena air kolam tidak perlu diganti dalam jumlah besar secara terus-menerus seperti pada kolam konvensional.
“Bioflok merupakan solusi bagi masyarakat yang membutuhkan teknologi ringan, sederhana, dan mudah diterapkan. Keunggulannya, airnya sedikit dan bisa digunakan kembali untuk siklus berikutnya,” ujarnya.
Menurut Jauhar, perawatan kolam bioflok juga relatif sederhana. Selama musim kemarau, pembudidaya cukup menjaga kualitas air dengan membersihkan tong filter dan menambahkan air sekitar 10 persen dalam satu bulan, atau menyesuaikannya dengan tingkat kekeruhan air.
Masyarakat yang kesulitan mendapatkan air tetap dapat memanfaatkan air irigasi setelah melalui proses penyaringan dan pengendapan. Air PDAM juga bisa digunakan setelah terlebih dahulu diendapkan.
Metode tersebut membuat kebutuhan air lebih rendah sehingga budidaya ikan tetap dapat berjalan meski pasokan air terbatas.
Selain hemat air, sistem bioflok juga memiliki potensi diterapkan sebagai usaha perikanan skala rumah tangga.
Satu unit kolam bioflok berdiameter 3 meter dengan kapasitas sekitar 7 ton air membutuhkan investasi awal sekitar Rp5 juta. Biaya tersebut mencakup kerangka besi wiremesh, pompa air 70 watt, blower 100 watt, serta instalasi tong filter.
Kolam dengan ukuran tersebut idealnya diisi sekitar 300 hingga 500 ekor ikan nila. Masa pemeliharaan hingga panen berkisar 2,5 sampai 3 bulan.
Saat dipanen, ikan dapat mencapai ukuran konsumsi sekitar lima hingga enam ekor per kilogram.
“Total cost, termasuk modal benih dan pakan, per kolam ukuran 3 meter berkisar Rp5 jutaan sampai panen. Keuntungannya bisa mencapai sekitar 30 persen dari omzet, atau sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per kolam dengan tingkat kematian di bawah 10 persen,” katanya.
Bagi masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya ikan nila dengan sistem bioflok sebagai usaha, Jauhar menyarankan memiliki sedikitnya tiga kolam.
Dengan beberapa kolam, pembudidaya dapat mengatur waktu tebar benih dan panen secara bergiliran. Pola tersebut memungkinkan pemasukan tidak hanya bergantung pada satu kali periode panen.
Sistem ini juga dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memulai usaha perikanan dengan lahan dan sumber air terbatas.
Pengelolaan kolam tetap membutuhkan perhatian meski sistem bioflok dikenal relatif sederhana.
Jauhar menyarankan kolam dilengkapi atap atau penutup berbahan plastik. Penutup tersebut berfungsi mengurangi paparan sinar matahari secara langsung sekaligus mencegah terlalu banyak air hujan masuk ke dalam kolam.
Pengendalian kualitas air menjadi bagian penting dalam menjaga kestabilan sistem bioflok. Pembudidaya perlu memperhatikan kondisi air dan menyesuaikan penambahan air berdasarkan tingkat kekeruhannya.
Fasilitas budidaya perikanan SMK Negeri 1 Bawang saat ini tidak hanya digunakan untuk kegiatan pembelajaran siswa. Fasilitas tersebut juga menjadi tempat masyarakat yang ingin mengenal teknik budidaya ikan dengan sistem bioflok secara langsung.
Sekolah mengembangkan budidaya ikan nila dan lele. Produksinya bahkan disebut masih belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar lokal.
Selain membekali siswa dengan keterampilan budidaya, SMK Negeri 1 Bawang juga mendorong lahirnya wirausahawan muda di sektor perikanan. Sekolah tersebut turut menjalin kerja sama dengan sejumlah industri perikanan di luar daerah.
Lulusan jurusan perikanan SMK Negeri 1 Bawang juga telah banyak terserap di perusahaan tambak dan hatchery udang berskala nasional di sejumlah daerah, seperti Lampung, Bali, dan Pangandaran.
“Kami sangat terbuka bagi siapa pun masyarakat yang ingin berkunjung dan belajar bersama memahami konsep bioflok. Harapannya, teknologi ini dapat membantu masyarakat tetap produktif di tengah keterbatasan air pada musim kemarau,” katanya.