
SERAYUNEWS – Apa perbedaan superflu dengan flu biasa? Meningkatnya laporan kasus influenza dengan keluhan yang lebih berat dari biasanya membuat istilah super flu ramai dibicarakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Amerika Serikat, lonjakan kasus flu dengan durasi sakit yang lebih panjang dan tingkat kelelahan ekstrem memicu kekhawatiran publik.
Situasi serupa juga mulai terpantau di Indonesia melalui sistem surveilans kesehatan nasional sejak pertengahan 2025.
Meski istilah super flu terdengar mengkhawatirkan, para pakar kesehatan menegaskan bahwa istilah ini bukan diagnosis medis resmi. Sebutan tersebut lebih banyak digunakan masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza yang terasa jauh lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa super flu bukanlah penyakit baru.
Istilah ini umumnya merujuk pada infeksi influenza A, khususnya subclade K dari tipe H3N2, yang mengalami perubahan genetik.
Virus influenza memang dikenal mudah bermutasi. Dalam beberapa kasus, mutasi tersebut membuat virus lebih sulit dikenali oleh sistem imun, termasuk pada orang yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi flu atau menerima vaksin influenza.
Kondisi ini menyebabkan sebagian pasien merasakan gejala yang lebih berat dan pemulihan yang lebih lama.
Ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, menjelaskan bahwa mutasi virus dapat memberi keuntungan bagi virus untuk bertahan hidup.
Beberapa varian influenza A(H3N2) yang beredar saat ini memiliki kemampuan menghindari perlindungan imun sebagian orang.
Inilah yang membuat flu terasa “berbeda” dibandingkan musim sebelumnya. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai tingkat keparahan varian ini masih sebanding dengan influenza musiman, bukan jenis flu baru yang mematikan.
Perbedaan utama antara super flu dan flu biasa terletak pada penyebab serta tingkat keparahan gejalanya. Flu biasa umumnya disebabkan oleh virus seperti rhinovirus dan jarang menimbulkan demam tinggi.
Sementara itu, super flu disebabkan oleh virus influenza dan sering memicu demam mendadak, nyeri otot berat, sakit kepala, serta rasa lemas berkepanjangan.
Pada super flu, risiko komplikasi seperti pneumonia juga lebih tinggi, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Secara umum, keluhan super flu masih menyerupai influenza biasa, namun intensitasnya cenderung lebih berat dan muncul secara mendadak.
Gejala yang sering dilaporkan antara lain demam tinggi yang bertahan beberapa hari, menggigil hebat, nyeri otot dan sendi yang menyeluruh, sakit kepala berat, serta rasa lelah ekstrem hingga mengganggu aktivitas harian.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, atau pilek.
Pada anak-anak, flu berat berisiko memicu komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Karena gejalanya mirip dengan COVID-19 atau infeksi pernapasan lain, tes diagnostik tetap dianjurkan untuk memastikan penyebabnya.
Para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap enteng flu dengan keluhan berat. Istirahat cukup, menjaga hidrasi, dan membatasi kontak dengan orang lain menjadi langkah awal yang penting.
Obat pereda gejala seperti paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan secara bijak untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri.
Pada kasus tertentu, dokter dapat meresepkan obat antivirus, terutama bila gejala berat muncul sejak awal. Masyarakat juga diminta segera mencari bantuan medis jika mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tak kunjung turun, atau tanda dehidrasi.
Meningkatnya kasus super flu menjadi pengingat bahwa influenza bukan penyakit sepele. Dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melakukan vaksinasi, serta peka terhadap sinyal tubuh, risiko komplikasi dapat ditekan.
Di tengah mobilitas masyarakat yang tinggi, kewaspadaan bersama menjadi langkah penting untuk melindungi diri sendiri dan orang di sekitar.
Nah itu dia penjelasan tentang perbedaan superflu dengan flu biasa. Semoga informasi ini bermanfaat.***