
SERAYUNEWS – Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat biasanya menerima daging kurban dalam jumlah cukup banyak, baik berupa daging sapi maupun kambing.
Sebelum diolah menjadi berbagai hidangan, banyak orang memiliki kebiasaan mencuci daging terlebih dahulu dengan air mengalir agar dianggap lebih bersih dan aman dikonsumsi.
Namun di sisi lain, ada pula masyarakat yang memilih langsung menyimpan atau mengolah daging tanpa mencucinya.
Mereka percaya bahwa mencuci daging justru dapat merusak kualitas daging dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri di dapur.
Perbedaan kebiasaan ini membuat pertanyaan mengenai perlu atau tidaknya mencuci daging sapi kembali ramai dibahas setiap momen Idul Adha.
Organisasi kesehatan pangan seperti USDA hingga sejumlah ahli gizi di Indonesia tidak menyarankan mencuci daging mentah menggunakan air biasa. Alasannya bukan karena daging menjadi lebih kotor, melainkan karena risiko penyebaran bakteri justru meningkat saat proses pencucian dilakukan.
Ketika daging dicuci di wastafel, percikan air dapat membawa bakteri seperti E. coli atau Salmonella ke berbagai permukaan dapur.
Bakteri tersebut bisa menyebar ke talenan, peralatan masak, meja dapur, hingga bahan makanan lain di sekitarnya. Bahkan percikan air disebut dapat menyebar hingga radius sekitar 60 sentimeter dari tempat pencucian.
Selain itu, air biasa sebenarnya tidak mampu membunuh bakteri yang menempel pada daging mentah. Cara paling efektif untuk mematikan bakteri adalah dengan memasak daging hingga suhu internal mencapai minimal 71 derajat Celsius.
Para ahli juga menjelaskan bahwa mencuci daging dapat memengaruhi kualitas tekstur dan rasa. Daging yang terkena banyak air akan menyerap cairan sehingga teksturnya menjadi lebih lembek. Saat dimasak, rasa alami daging pun dinilai menjadi kurang kuat dibandingkan daging yang tidak dicuci.
Peneliti dari Pusat Riset Peternakan BRIN turut mengingatkan bahwa air bekas cucian daging berpotensi membawa mikroba patogen yang bisa mengontaminasi area dapur apabila tidak ditangani dengan benar.
Dalam pandangan syariat Islam, darah termasuk najis. Namun para ulama menjelaskan ada jenis darah tertentu yang dimaafkan atau tidak dianggap najis, yakni darah yang masih melekat pada serat daging setelah proses penyembelihan selesai.
Pendakwah Buya Yahya menjelaskan bahwa darah yang mengalir saat penyembelihan memang najis. Akan tetapi, darah yang tersisa dan menempel pada daging hewan termasuk kategori darah yang dimaafkan sehingga tidak wajib dibersihkan dengan cara dicuci.
Karena itu, daging sapi kurban sebenarnya tetap boleh langsung dimasak tanpa dicuci terlebih dahulu. Hal tersebut tidak memengaruhi kehalalan maupun kesucian daging untuk dikonsumsi.
Pendapat tersebut juga sejalan dengan pandangan dalam mazhab Syafi’i mengenai najis yang dimaafkan atau disebut dima’fu. Darah yang sedikit dan menempel pada daging tidak termasuk najis yang harus dibersihkan secara khusus.
Bahkan, sebagian ulama menyarankan agar daging tidak dicuci apabila tidak benar-benar diperlukan. Sebab jika ingin mencuci daging, proses pembersihan harus dilakukan secara menyeluruh agar benar-benar bersih dan tidak menimbulkan masalah kebersihan lainnya.
Meski tidak disarankan dicuci dengan air, kebersihan daging kurban tetap harus dijaga sejak awal penerimaan hingga penyimpanan. Jika permukaan daging terlihat kotor atau masih ada sisa tertentu, cara paling aman adalah membersihkannya menggunakan tisu dapur bersih atau kain kering.
Setelah memegang daging mentah, tangan wajib dicuci menggunakan sabun untuk mencegah perpindahan bakteri ke benda lain. Kebiasaan sederhana ini sangat penting dalam menjaga keamanan pangan di rumah.
Apabila daging ingin disimpan, sebaiknya langsung dimasukkan ke wadah tertutup dan disimpan di chiller terlebih dahulu selama beberapa jam sebelum dipindahkan ke freezer. Cara ini membantu menjaga struktur daging tetap baik dan kesegarannya bertahan lebih lama.
Daging juga sebaiknya disimpan pada suhu freezer sekitar minus 17 derajat Celsius agar kualitasnya tetap terjaga selama berbulan-bulan. Untuk mencegah kerusakan, daging bisa dibungkus menggunakan plastik khusus makanan atau aluminium foil.
Jika memang ingin membersihkan daging sebelum dimasak, sebagian ahli menyarankan proses perebusan singkat dalam air panas dibanding mencuci dengan air mentah. Metode ini dinilai lebih aman untuk mengurangi risiko bakteri.
Daging sapi yang disimpan terlalu lama atau tidak ditangani dengan baik dapat mengalami pembusukan. Kondisi ini perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan gangguan kesehatan ketika dikonsumsi.
Ciri daging yang mulai rusak biasanya terlihat dari perubahan warna menjadi lebih gelap atau kebiruan. Permukaan daging juga terasa lengket dan berlendir saat disentuh.
Selain itu, aroma tidak sedap menjadi tanda paling mudah dikenali bahwa daging sudah tidak segar. Pada kondisi tertentu, jamur berwarna putih juga dapat muncul pada permukaan daging.
Jika menemukan tanda-tanda tersebut, daging sebaiknya tidak dikonsumsi karena berisiko menyebabkan keracunan makanan maupun gangguan pencernaan.
Dengan penanganan yang benar, daging kurban dapat tetap higienis, aman dikonsumsi, dan kualitasnya terjaga tanpa harus dicuci menggunakan air sebelum dimasak.***