
KEBUMEN, SERAYUNEWS – Hamparan hijau yang kini membentang di kawasan pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, bukan hanya jadi pemandangan yang menyejukkan mata. Di balik rimbunnya pohon cemara dan mangrove, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan warga mengubah kawasan pasir tandus menjadi benteng alami sekaligus penyelamat pertanian.
Dahulu, kawasan pesisir Lembupurwo hanya berupa hamparan pasir. Nyaris tak ada tanaman yang mampu tumbuh. Saat musim kemarau tiba, panas terasa menyengat dan angin laut membawa kadar garam jauh ke daratan.
Kondisi tersebut membuat warga mulai berpikir untuk mengubah wajah kawasan pesisir. Upaya penghijauan pun dimulai pada 2008 melalui Kelompok Tani Hutan Cemara Desa Lembupurwo, yang saat itu diprakarsai perangkat desa Cokro Aminoto bersama warga dan mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ketua Kelompok Tani Hutan Cemara Lembupurwo, Munadi, mengatakan penghijauan awalnya dilakukan karena kondisi pesisir yang sangat tandus.
“Sehubungan dengan latar belakang terjadinya hutan cemara maupun hutan mangrove di Pantai Lembupurwo, bahwasanya sebelum adanya hutan cemara ini, semua ini adalah hamparan pasir yang tidak ada tanaman rumput maupun tanaman yang lainnya, hanya pasir aja,” kata Munadi, Rabu (19/8/2026).
Penanaman cemara tidak langsung menghasilkan kawasan hijau seperti sekarang. Warga harus melalui proses panjang, mulai dari penanaman, pemeliharaan hingga rehabilitasi tanaman yang tidak berhasil tumbuh.
Munadi menyebut pendampingan dari berbagai pihak kemudian membuat kegiatan penghijauan terus berjalan. Salah satunya melalui kegiatan KKN UGM yang setiap tahun ikut melakukan penanaman.
Untuk kawasan mangrove, warga mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Setelah tanaman mulai menunjukkan pertumbuhan, perhatian dari berbagai instansi dan lembaga swasta pun berdatangan.
Kini, kawasan konservasi tersebut mencapai sekitar 70 hektare. Rinciannya, sekitar 50 hektare ditanami cemara dan 20 hektare merupakan kawasan mangrove.
“Untuk tanaman mangrove seluas 20 hektar, dan untuk tanaman cemara seluas 50 hektar,” ujarnya.
Kelompok Tani Hutan Cemara sendiri kini beranggotakan 15 orang. Namun ketika ada program penanaman dalam skala besar, warga sekitar turut dilibatkan.
Bagi Munadi, pohon-pohon tersebut bukan sekadar tanaman penghijauan. Cemara dan mangrove telah menjadi semacam benteng yang melindungi permukiman serta lahan pertanian warga.
“Jadi tujuan kami itu selain melestarikan lingkungan, kawasan lingkungan, ya. Memang manfaat cemara itu bagi tanaman cemara itu bagi pantai, itu sangat bermanfaat sekali. Satu, untuk penanggulangan abrasi. Yang kedua, untuk penanggulangan angin yang membawa kadar garam. Yang ketiga, juga menahan puting beliung,” jelasnya.
Dampak penghijauan ternyata tidak berhenti di garis pantai. Keberadaan cemara dan mangrove turut dirasakan petani yang menggarap lahan di sisi selatan Desa Lembupurwo.
Munadi menyebut terdapat sekitar 98 hektare lahan pertanian desa yang berada di kawasan tersebut.
“Jadi sangat bermanfaat bagi para petani, terutama terhadap tanaman. Itu sangat bermanfaat sekali. Dengan adanya filter kadar garam seperti pohon cemara ini maupun mangrove, jadi garam yang terbawa angin ke darat itu tidak sampai ke tanaman petani, sehingga produk hasil produksi petani jadi meningkat,” katanya.
Kondisi tersebut berbeda dengan masa sebelum kawasan pesisir dihijaukan. Saat musim kemarau, tanaman pertanian kerap mengalami kerusakan akibat terpaan angin yang membawa kadar garam.
“Kalau sebelum adanya tanaman mangrove maupun cemara ini, sebelumnya itu kalau di musim kemarau pasti kering daunnya. Dan banyak gagal panen untuk tanaman palawija dan hortikultura,” lanjut Munadi.
Dengan kata lain, hutan pesisir yang tumbuh di Lembupurwo menjadi pelindung bagi lahan pertanian di belakangnya.
Upaya menjaga ekosistem pesisir tersebut juga mendapat dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis.
Supervisor HSSE Fuel Terminal Lomanis, Ahsanul Khalis, mengatakan konservasi lingkungan menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.
“Sebagai bentuk nyata dari komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan dan berkelanjutan ekosistem pesisir, terutama di wilayah Lomanis,” kata Ahsanul.
Melalui program Lembupurwo Sea Turtle and Mangrove Conservation, Pertamina mulai menjalankan program TJSL di Pantai Lembupurwo pada 2025.
Pada 2026, program tersebut dikembangkan dengan sejumlah kegiatan, mulai dari pengembangan UMKM pesisir, perbaikan fasilitas konservasi penyu, pengelolaan sampah, hingga penanaman mangrove dan pelepasan tukik.
Dalam salah satu kegiatan konservasi, Pertamina bersama masyarakat melakukan penanaman 900 mangrove dan 100 pohon cemara sekaligus pelepasan tukik.
Ahsanul menjelaskan keberadaan mangrove dan cemara memiliki fungsi ekologis yang penting bagi kawasan pesisir.
“Mangrove bukan hanya pohon yang tumbuh di pinggir pantai. Ia adalah penjaga garis pantai, pelindung dari abrasi, penyaring alami, sekaligus rumah bagi berbagai jenis biota laut,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Program TJSL yang kami laksanakan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan masyarakat, tetapi juga untuk menempatkan pelestarian alam sebagai prioritas penting. Kami menyadari bahwa keberlangsungan bisnis harus sejalan dengan keberlangsungan lingkungan,” kata Ahsanul.
Bagi warga Lembupurwo, keberadaan hutan cemara dan mangrove kini bukan lagi sekadar proyek penghijauan. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dari pasir yang dahulu tandus, kini tumbuh hutan. Dari hutan itu pula, lahan pertanian mendapatkan perlindungan.
Kolaborasi warga, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha akhirnya membuat kawasan pesisir memiliki fungsi yang lebih besar menjadi benteng pantai, rumah bagi biota, sekaligus penyelamat hasil pertanian masyarakat.