
SERAYUNEWS- Tren pemberian protein shake untuk anak yang susah makan dan berat badannya sulit naik belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Banyak orang tua mulai mencoba mencampurkan berbagai bahan makanan seperti telur, ayam, susu, nasi, hingga buah menjadi minuman cair yang dianggap praktis untuk menambah berat badan anak.
Fenomena ini memunculkan perdebatan di kalangan orang tua. Sebagian menganggap protein shake bisa menjadi solusi cepat untuk anak picky eater, sementara sebagian lainnya khawatir terhadap efek samping jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan.
Dokter anak pun mulai memberikan penjelasan terkait keamanan protein shake untuk anak, termasuk manfaat, risiko, hingga aturan pemberiannya sesuai usia dan kebutuhan gizi harian. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Protein shake untuk anak umumnya dibuat dari campuran makanan tinggi protein dan karbohidrat yang diblender hingga halus menyerupai smoothies. Bahan yang digunakan bisa berupa ayam, telur, susu, nasi, alpukat, brokoli, hingga buah-buahan.
Banyak orang tua memberikan minuman ini karena anak dianggap susah makan atau berat badannya tidak kunjung naik. Selain praktis, tekstur cair dianggap lebih mudah dikonsumsi anak dibanding makanan padat biasa.
Namun, dokter mengingatkan bahwa protein shake tidak boleh dijadikan solusi utama tanpa memahami kebutuhan nutrisi dan perkembangan makan anak secara menyeluruh.
Dokter spesialis anak dr. Reza Fahlevi menjelaskan bahwa protein shake berbahan alami sebenarnya boleh diberikan pada anak, asalkan disesuaikan dengan usia dan tekstur makanan yang tepat.
Menurutnya, protein shake berbeda dengan suplemen protein khusus gym atau pembentukan otot orang dewasa yang tidak dianjurkan untuk anak-anak karena berisiko terhadap kesehatan.
Pada usia 6 hingga 9 bulan, makanan bayi memang masih berbentuk halus sehingga makanan yang diblender masih diperbolehkan. Namun, setelah usia tersebut, anak perlu mulai dikenalkan tekstur makanan yang lebih kasar agar kemampuan mengunyah dan perkembangan oromotor mulutnya terlatih dengan baik.
Dokter dr. Meta juga mengingatkan bahwa terlalu sering memberikan makanan cair dapat menghambat perkembangan kemampuan makan anak.
Menurutnya, salah satu tujuan MPASI bukan sekadar memenuhi nutrisi, tetapi juga melatih kemampuan mengunyah dan mengenali tekstur makanan. Jika anak terlalu sering diberi makanan yang diblender halus, kemampuan oromotor dapat terlambat berkembang.
Selain itu, rasio makanan cair yang terlalu dominan juga berpotensi meningkatkan masalah makan di kemudian hari karena anak menjadi terbiasa menelan tanpa mengunyah.
Dokter menegaskan bahwa protein memang penting untuk pertumbuhan anak, tetapi konsumsi berlebihan justru dapat memicu masalah kesehatan.
Asupan protein terlalu tinggi dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko obesitas pada anak. Kondisi ini termasuk bentuk malnutrisi yang sering tidak disadari orang tua karena dianggap tubuh anak menjadi lebih gemuk dan sehat.
Selain obesitas, konsumsi protein berlebihan juga berpotensi membebani fungsi ginjal anak, terutama jika pemberian protein shake dilakukan setiap hari tanpa pengawasan.
Protein bukan satu-satunya nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal. Anak juga membutuhkan karbohidrat, lemak sehat, vitamin, mineral, serta serat dari sayur dan buah.
Menurut dokter, kebutuhan gizi seimbang anak terdiri dari:
1. Sekitar 50 persen karbohidrat
2. Sekitar 30 persen protein
3. Sekitar 20 persen lemak sehat
4. Vitamin dan mineral sebagai mikronutrien penting
Karena itu, protein shake tidak boleh menggantikan pola makan utama anak secara keseluruhan.
1. Protein Shake Bisa Menggantikan Sayur dan Buah
Banyak orang tua menganggap protein shake sudah cukup memenuhi kebutuhan serat dan vitamin anak. Padahal, kandungan serat dalam makanan yang diblender berbeda dibanding buah dan sayur utuh.
Anak tetap perlu belajar makan langsung agar sistem pencernaan dan kebiasaan makannya berkembang baik.
2. Protein Shake Solusi Semua Masalah Berat Badan Anak
Tidak semua anak yang susah naik berat badan membutuhkan protein shake. Dalam beberapa kasus, masalah berat badan bisa dipicu gangguan makan, infeksi, alergi, atau kondisi medis tertentu yang memerlukan pemeriksaan dokter.
3. Semua Protein Shake Aman untuk Anak
Tidak semua produk protein shake aman dikonsumsi anak. Protein shake khusus dewasa atau gym umumnya memiliki kandungan protein dan gula tinggi yang tidak sesuai kebutuhan tubuh anak.
4. Protein Shake Lebih Praktis daripada Makanan Rumah
Dokter justru menyarankan orang tua lebih mengutamakan makanan rumahan bergizi seimbang dibanding terlalu bergantung pada minuman instan atau olahan tinggi protein.
Berikut efek samping protein shake yang perlu diperhatikan orang tua:
1. Risiko obesitas pada anak
2. Membebani fungsi ginjal
3. Anak sulit belajar mengunyah
4. Gangguan perkembangan oromotor
5. Asupan gula berlebihan jika dicampur jus atau pemanis
6. Risiko picky eater berkepanjangan
7. Anak mudah kenyang dan menolak makan utama
8. Ketidakseimbangan nutrisi harian
Dokter menyebut protein shake berbahan alami masih boleh diberikan dalam kondisi tertentu, misalnya:
1. Anak sedang sulit makan sementara
2. Anak dalam pemulihan kondisi kesehatan tertentu
3. Anak membutuhkan tambahan kalori berdasarkan saran dokter
4. Sebagai selingan, bukan makanan utama
5. Tekstur disesuaikan usia anak
Namun, penggunaannya tetap perlu dibatasi dan tidak diberikan secara berlebihan setiap hari.
Berikut langkah yang lebih dianjurkan dokter untuk membantu berat badan anak naik sehat:
1. Berikan makanan tinggi kalori sehat
2. Tambahkan lemak baik seperti alpukat dan keju
3. Jadwalkan makan dan camilan teratur
4. Hindari terlalu banyak minuman manis
5. Pastikan anak aktif bergerak dan tidur cukup
6. Konsultasikan ke dokter jika berat badan sulit naik
7. Perhatikan grafik tumbuh kembang anak
8. Jangan memaksa anak makan berlebihan
Anak yang susah makan belum tentu mengalami kekurangan gizi berat. Dalam banyak kasus, fase picky eater masih termasuk normal selama pertumbuhan dan perkembangan anak tetap baik.
Karena itu, orang tua disarankan tidak langsung mencari solusi instan tanpa memahami penyebab sebenarnya. Pendekatan makan yang sabar dan konsisten justru lebih efektif dalam jangka panjang.
Protein shake berbahan alami memang bisa diberikan pada anak dalam kondisi tertentu, tetapi tidak boleh menjadi solusi utama untuk menaikkan berat badan secara instan. Orang tua tetap perlu memperhatikan keseimbangan gizi dan perkembangan kemampuan makan anak sesuai usia.
Dokter juga mengingatkan bahwa konsumsi protein berlebihan dapat memicu obesitas hingga gangguan kesehatan lain jika dilakukan tanpa pengawasan. Konsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah terbaik sebelum memberikan protein shake secara rutin pada anak.