
SERAYUNEWS – Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada bulan ini, umat Muslim menyambut pelaksanaan ibadah haji serta Hari Raya Idul Adha yang identik dengan berbagai amalan sunnah penuh keutamaan. Salah satu ibadah yang banyak dilakukan menjelang Idul Adha adalah puasa Dzulhijjah.
Memasuki awal Dzulhijjah 1447 Hijriah yang jatuh pada Mei 2026, banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai tata cara dan ketentuan puasa sunnah tersebut.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah puasa Dzulhijjah harus dilakukan selama sembilan hari penuh secara berturut-turut atau boleh hanya beberapa hari saja.
Pertanyaan itu muncul karena tidak semua orang memiliki kondisi fisik dan waktu yang memungkinkan untuk berpuasa selama sembilan hari penuh.
Ada yang hanya mampu menjalankan puasa Arafah, sebagian hanya sempat berpuasa di awal bulan, sementara lainnya memilih menyesuaikan dengan aktivitas harian.
Puasa Dzulhijjah merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Ibadah ini dianjurkan karena termasuk amalan yang sangat dicintai Allah SWT pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya memperbanyak amal saleh pada hari-hari tersebut, termasuk puasa, dzikir, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.
Puasa Dzulhijjah sendiri terbagi dalam beberapa jenis. Pada tanggal 1 sampai 7 Dzulhijjah dikenal sebagai puasa sunnah biasa, sementara tanggal 8 Dzulhijjah disebut puasa Tarwiyah dan tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai puasa Arafah.
Puasa Arafah menjadi salah satu yang paling utama karena memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi umat Islam yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan.
Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H, berikut jadwal puasa Dzulhijjah 2026:
Puasa Dzulhijjah tidak wajib dilakukan selama sembilan hari penuh secara berturut-turut. Umat Islam diperbolehkan berpuasa hanya beberapa hari saja dan ibadahnya tetap sah serta bernilai pahala di sisi Allah SWT.
Para ulama menerangkan bahwa puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah memang sangat dianjurkan karena Rasulullah SAW pernah melaksanakannya. Namun, tidak ada aturan yang mengharuskan seluruh hari tersebut dijalani tanpa jeda.
Seseorang boleh memilih berpuasa hanya pada tanggal tertentu, misalnya tanggal 1, 3, dan 9 Dzulhijjah. Bahkan jika hanya mampu menjalankan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, maka tetap memperoleh keutamaan besar.
Hadis riwayat Abu Dawud menyebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.
Dari hadis tersebut, para ulama memahami bahwa puasa ini merupakan sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban.
Karena itu, umat Islam dianjurkan menyesuaikan ibadah dengan kondisi kesehatan dan kemampuan masing-masing tanpa merasa terbebani.
Yang paling penting adalah niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbanyak amal saleh di hari-hari terbaik bulan Dzulhijjah.
Puasa Dzulhijjah memiliki banyak keutamaan yang membuat amalan ini sangat dianjurkan. Selain mendapatkan pahala berlimpah, puasa sunnah tersebut juga menjadi sarana meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Khusus puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa ini dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.
Selain itu, sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikenal sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah. Pada masa tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, membaca takbir, bersedekah, hingga memperkuat hubungan sosial dengan sesama.
Bagi umat Muslim yang belum mampu menunaikan ibadah haji, puasa Dzulhijjah menjadi salah satu cara untuk tetap meraih keutamaan bulan mulia ini dari tanah air.***