
SERAYUNEWS – Belakangan ini istilah hantavirus kembali ramai dibicarakan setelah muncul berbagai informasi mengenai penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus liar.
Meski tidak sepopuler flu atau COVID-19, penyakit ini tetap menjadi perhatian dunia kesehatan karena dapat menimbulkan komplikasi serius pada manusia apabila tidak segera ditangani.
Virus tersebut diketahui banyak ditemukan di lingkungan yang memiliki populasi tikus tinggi, seperti gudang, area pertanian, rumah kosong, hingga bangunan yang jarang dibersihkan.
Risiko penularannya juga dapat meningkat apabila seseorang sering bersentuhan dengan kotoran atau urine tikus tanpa perlindungan yang memadai.
Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa hantavirus bukan penyakit yang boleh dianggap sepele. Gejalanya memang sering menyerupai flu biasa pada tahap awal, namun dalam beberapa kasus dapat berkembang cepat menjadi gangguan paru-paru hingga kerusakan ginjal.
Banyak orang mengira virus dari tikus hanya menular melalui gigitan. Padahal, hantavirus justru lebih sering menyebar lewat udara yang telah terkontaminasi partikel kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan biasanya terjadi saat seseorang membersihkan gudang, loteng, atau ruangan yang lama tidak digunakan. Ketika kotoran tikus yang mengering tersapu dan beterbangan menjadi debu, virus dapat terhirup masuk ke saluran pernapasan manusia.
Selain itu, risiko infeksi juga bisa muncul akibat menyentuh benda yang telah tercemar cairan tubuh tikus lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Makanan dan minuman yang terkontaminasi juga berpotensi menjadi media penyebaran virus.
Lingkungan pedesaan, pertanian, serta rumah yang memiliki banyak tikus termasuk area dengan risiko penularan lebih tinggi.
Karena itu, menjaga kebersihan rumah dan mengendalikan populasi tikus menjadi langkah penting untuk mengurangi potensi penyebaran hantavirus.
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, termasuk gangguan paru-paru yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan demam berdarah yang disertai gangguan ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Dalam dunia medis, hantavirus dikenal sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Virus ini menyebar melalui urine, feses, dan air liur tikus yang telah terinfeksi.
Sebagian besar kasus hantavirus pada manusia terjadi akibat menghirup udara yang mengandung partikel virus.
Karena itu, penyakit ini cukup berbahaya terutama di lingkungan dengan sanitasi buruk atau infestasi tikus yang tinggi.
Beberapa jenis hantavirus ditemukan di berbagai negara, termasuk kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, hingga Asia.
Salah satu jenis yang pernah menjadi perhatian adalah Virus Andes yang dilaporkan dapat menular antar manusia, meski kasusnya sangat jarang terjadi.
Pada tahap awal, gejala hantavirus sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit flu atau infeksi virus lainnya. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, tubuh lemas, nyeri otot, sakit kepala, hingga menggigil.
Selain itu, beberapa pasien juga mengalami mual, muntah, pusing, dan nyeri pada bagian punggung atau paha. Kondisi tersebut dapat berlangsung beberapa hari sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Jika infeksi menyerang paru-paru, penderita dapat mengalami sesak napas akibat penumpukan cairan di organ tersebut. Dalam kondisi berat, pasien bisa mengalami gagal napas yang membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Sementara itu, pada kasus HFRS, virus menyerang ginjal dan menyebabkan gangguan fungsi organ tersebut. Pasien dapat mengalami penurunan produksi urine, tekanan darah rendah, hingga perdarahan.
Tenaga medis menyebut hantavirus memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi apabila terlambat ditangani. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk mengatasi hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan intensif guna membantu fungsi tubuh pasien tetap stabil.
Pasien dengan gejala berat biasanya memerlukan bantuan oksigen, pemantauan jantung, hingga ventilator apabila mengalami gangguan pernapasan parah. Dalam beberapa kasus, pasien juga dirawat di ruang ICU agar kondisinya terus dipantau.
Dokter menekankan bahwa penanganan cepat menjadi faktor penting karena kondisi pasien dapat memburuk hanya dalam waktu singkat.
Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko infeksi hantavirus. Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.
Saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus, gunakan masker dan sarung tangan. Hindari menyapu kotoran dalam keadaan kering karena debu dapat membawa virus ke udara.
Sebaiknya semprotkan cairan disinfektan terlebih dahulu sebelum membersihkan area tersebut. Setelah selesai, segera cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
Selain itu, makanan dan minuman perlu disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi tikus. Menutup celah masuk tikus di rumah juga dapat membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit.
Demikian informasi tentang arti hantavirus dan cara pencegahannya.***