
SERAYUNEWS – Wabah hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius mengalami gejala serius hingga meninggal dunia saat pelayaran di kawasan Samudra Atlantik.
Kasus tersebut memunculkan kekhawatiran terkait penyebaran virus langka yang berasal dari hewan pengerat dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya tujuh kasus terkait wabah di kapal pesiar tersebut, terdiri atas dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek.
Tiga orang meninggal dunia, sementara satu pasien lain masih menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis tapi stabil.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, terutama di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar yang memiliki mobilitas tinggi dan ruang terbatas.
Kasus pertama terjadi pada 11 April 2026 ketika seorang penumpang pria asal Belanda jatuh sakit dan meninggal dunia saat kapal masih berada di tengah pelayaran.
Karena keterbatasan fasilitas medis di laut, penyebab pasti kematian tidak dapat langsung dipastikan.
Jenazah korban kemudian dievakuasi saat kapal singgah di Saint Helena pada 24 April 2026. Tidak lama berselang, istrinya yang juga berada dalam perjalanan tersebut mengalami gejala serupa dan harus dirawat di Johannesburg, Afrika Selatan.
Perempuan berusia 69 tahun itu kemudian meninggal dunia setelah terinfeksi hantavirus.
Kasus ketiga menimpa seorang penumpang asal Jerman yang meninggal dunia pada 2 Mei 2026. Hingga kini, penyelidikan terkait hubungan langsung antara ketiga kasus tersebut dengan hantavirus masih terus berjalan.
WHO menyebut satu kasus positif merupakan penumpang asal Inggris berusia 69 tahun yang kini berada di unit perawatan intensif di Johannesburg.
Selain itu, dua awak kapal juga mengalami gangguan pernapasan akut dan masih menjalani pemantauan medis di atas kapal.
Hantavirus merupakan kelompok virus dengan pembawa tikus dan hewan pengerat lain. Virus ini dapat menyerang paru-paru, ginjal, pembuluh darah, hingga jantung manusia.
Pada hewan pengerat, virus biasanya tidak menimbulkan gejala berat, tetapi pada manusia dapat berkembang menjadi penyakit serius.
Secara medis, infeksi hantavirus terbagi menjadi dua sindrom utama.
Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi pernapasan akut berat yang banyak muncul di kawasan Amerika.
Jenis ini memiliki tingkat kematian tinggi karena menyebabkan gangguan paru-paru secara cepat.
Jenis kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang lebih banyak muncul di Asia dan Eropa. Sindrom ini umumnya menyebabkan demam berdarah beserta gangguan fungsi ginjal.
Penularan hantavirus pada manusia sebagian besar terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Saat partikel tersebut mengering dan bercampur dengan debu, virus dapat terhirup melalui udara.
Selain melalui udara, penularan juga bisa terjadi akibat menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang area wajah seperti mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan.
Dalam kasus tertentu, konsumsi makanan yang tercemar serta gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan.
Meski demikian, para ahli menyebut penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Namun untuk jenis Andes virus yang ada di Amerika Selatan, WHO menyebut terdapat kemungkinan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Hantavirus sering kali sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya menyerupai flu biasa. Masa inkubasi virus akan berlangsung antara satu hingga delapan minggu sejak paparan awal.
Pada tahap pertama, penderita biasanya mengalami demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh lemas. Sebagian pasien juga merasakan mual, muntah, sakit perut, hingga diare.
Namun, kondisi dapat berkembang cepat dalam beberapa hari. Saat memasuki tahap lanjut, virus mulai menyerang paru-paru dan sistem peredaran darah.
Penderita bisa mengalami batuk, sesak napas, tekanan darah menurun, hingga detak jantung tidak teratur.
Dalam kondisi berat, cairan dapat menumpuk di paru-paru sehingga menyebabkan gagal napas yang mengancam nyawa.
Hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus yang benar-benar efektif untuk mengobati hantavirus.
Penanganan medis lebih fokus pada perawatan suportif guna membantu fungsi pernapasan dan menjaga kondisi pasien tetap stabil.
Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi cara paling penting untuk mengurangi risiko infeksi. Masyarakat sebaiknya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat.
Beberapa langkah pencegahan antara lain menutup akses masuk tikus ke rumah atau bangunan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat, membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terkontaminasi.
Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bahwa penyakit yang tampak seperti flu biasa dapat berkembang menjadi kondisi serius dalam waktu singkat.
Kesadaran terhadap gejala awal dan kebersihan lingkungan menjadi kunci penting dalam mencegah penyebaran penyakit ini.***