
PURWOKERTO, SERAYUNEWS- Momen tahun ajaran baru yang selama ini menjadi musim panen bagi pedagang seragam sekolah tak lagi seramai dulu.
Maraknya belanja online membuat penjualan di toko-toko konvensional menurun, seperti yang dirasakan Toko Siaga Kebondalem di Purwokerto.
Pemilik Toko Siaga Kebondalem, Liyanto (56), mengaku penjualan memang meningkat menjelang masuk sekolah, namun kenaikannya hanya sekitar 50 persen dibanding hari biasa.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan musim penerimaan siswa baru pada tahun-tahun sebelumnya.
Liyanto mengatakan, dalam tiga tahun terakhir omzet penjualan terus mengalami penurunan seiring semakin banyak masyarakat beralih membeli seragam sekolah melalui platform belanja daring.
“Dampaknya terasa sekali. Dulu kurang satu minggu sebelum masuk sekolah pembeli sudah penuh sesak di toko. Sekarang kondisinya sudah tidak seperti itu lagi karena banyak yang memilih belanja online,” ujarnya.
Toko Siaga Kebondalem telah beroperasi sejak 1995. Selain menjual seragam sekolah mulai jenjang SD hingga SMA, toko tersebut juga menyediakan seragam dinas ASN, perlengkapan sekolah, dan alat tulis kantor (ATK).
Untuk bertahan di tengah persaingan, Liyanto mulai memperluas jenis usaha dengan menambah produk ATK sekaligus memasarkan produknya melalui platform online.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengembalikan volume penjualan seperti sebelumnya. Ia bahkan terpaksa mengurangi jumlah stok seragam yang dibeli dari sentra konveksi di Solo dan Bandung.
“Sekarang memang lesu. Kulakan juga dikurangi karena penjualannya tidak sebanyak dulu,” katanya.
Di toko tersebut, satu setel seragam sekolah dijual mulai Rp100 ribu, termasuk layanan bordir nama.
Selain perubahan pola belanja masyarakat, Liyanto menilai kebijakan sejumlah sekolah juga turut memengaruhi penjualan. Saat ini banyak sekolah membebaskan orang tua membeli seragam di luar sekolah dan hanya mewajibkan pembelian seragam batik khas sekolah maupun seragam olahraga.
Kondisi tersebut membuat permintaan seragam umum di toko-toko konvensional ikut menurun.
Meski tren belanja online terus meningkat, sebagian masyarakat masih memilih berbelanja langsung ke toko. Salah satunya Endang, warga Desa Singasari, yang datang membeli perlengkapan sekolah untuk anaknya yang akan masuk SMP.
Menurutnya, berbelanja langsung memberikan kepastian ukuran dan kualitas barang yang sulit didapat saat membeli secara online.
“Kalau beli online enggak bisa lihat sendiri. Kalau di sini harganya murah dan bisa milih. Kalau online kan enggak bisa mencoba, kadang kebesaran atau kekecilan. Anak saya sekarang naik SMP,” ujar Endang.