
SERAYUNEWS-Konten morning routine yang menampilkan anak muda bangun pagi, berolahraga, membaca buku, hingga menyiapkan aktivitas harian semakin sering muncul di media sosial. Kebiasaan ini membuat Gen Z kerap dikaitkan dengan gaya hidup produktif sejak pagi.
Namun, benarkah Gen Z gemar bangun pagi? Survei Saatva bersama YouGov terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan Gen Z cenderung tidur lebih larut dan bangun lebih siang dibandingkan generasi yang lebih tua. Survei tersebut melibatkan Gen Z berusia 18–27 tahun, Milenial, Gen X, dan Baby Boomer.
Survei tersebut menemukan waktu tidur paling umum di antara responden berada pada pukul 22.00 hingga tengah malam. Namun, Gen Z memiliki persentase tertinggi untuk kebiasaan tidur setelah tengah malam, yakni 30 persen. Gen Z juga cenderung bangun lebih siang dibandingkan generasi lainnya.
Kebiasaan ini cukup dekat dengan aktivitas Gen Z sehari-hari. Fira (20) seorang mahasiswi asal AMIKOM Purwokerto, salah satu Gen Z yang diwawancarai, mengaku sering tidur larut karena sulit tidur dan menggunakan ponsel.
“Aku biasanya tidur malam karena nggak bisa tidur, lihat tren global, kadang sampai doomscrolling,” kata Fira, Senin (7/9/2026).
Sementara itu, Reza, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto semester 9, mengatakan aktivitas malamnya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari hiburan hingga pekerjaan.
“Aku biasanya ngelakuin berbagai macam aktivitas, kayak nonton bola, ngerjain skripsi, sampai live TikTok buat jualan. Biasanya, aku tidur rata-rata enam jam,” ujar Reza.
Alasan Gen Z tidur larut pun beragam. Ada yang menghabiskan waktu dengan ponsel, mengikuti hiburan, mengerjakan tugas, hingga bekerja.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu waktu tidur Gen Z. Dalam survei Saatva, 35 persen responden Gen Z menyebut media sosial sebagai faktor yang membuat mereka tetap terjaga pada malam hari.
Fira mengaku konten yang ia lihat sebelum tidur juga beragam.
“Konten random, konten makanan, mukbang, yang lagi viral, sama isu-isu yang lagi hot,” ujarnya.
Reza memiliki kebiasaan serupa dengan jenis konten yang berbeda.
“Biasanya ngikutin tren TikTok, nonton bola, baca berita, baca jurnal, sama cari stok produk,” katanya.
Sementara itu, Tiya (20) mahasiswi Universitas Wijayakusuma Purwokerto lebih banyak menghabiskan waktu dengan scrolling TikTok dan melihat berbagai resep masakan.
“Kalau aku biasanya scroll TikTok sama lihat-lihat resep masak,” ujar Tiya.
Kebiasaan membuka ponsel sebelum tidur dapat membuat waktu istirahat semakin mundur. Awalnya hanya ingin melihat satu atau dua konten, tetapi tanpa terasa waktu sudah berganti hari.
Temuan mengenai kebiasaan Gen Z menggunakan media sosial sebelum tidur juga terlihat dalam survei American Academy of Sleep Medicine (AASM). Sebanyak 93 persen Gen Z dilaporkan pernah kehilangan waktu tidur karena tetap menggunakan media sosial.
Menariknya, Fira dan Reza juga pernah mencoba mengikuti tren morning routine. Keduanya mengaku sempat mendapat motivasi dari konten produktivitas yang mereka lihat di media sosial.
Namun, kebiasaan tersebut tidak bertahan lama.
“Pernah, nggak bertahan lama. Tiba-tiba dapat motivasi karena tren,” ujar salah satu narasumber.
Hal ini menunjukkan bahwa tren di media sosial dapat memunculkan motivasi untuk mencoba kebiasaan baru. Namun, dorongan tersebut belum tentu membuat seseorang konsisten menjalani rutinitas dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, morning routine yang terlihat produktif di media sosial tidak selalu menggambarkan keseharian Gen Z. Di balik konten bangun pagi dan aktivitas produktif, ada pula Gen Z yang masih menjalani malam dengan berbagai aktivitas, mulai dari scrolling media sosial, mengerjakan tugas, bekerja, hingga mencari hiburan. (faradian yusi)