
SERAYUNEWS – Memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada keponakan sudah menjadi tradisi yang melekat dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Momen ini tidak hanya dinantikan oleh anak-anak, tetapi juga menjadi bentuk kebahagiaan tersendiri bagi orang dewasa yang ingin berbagi.
Namun di balik tradisi tersebut, banyak orang sering dihadapkan pada pertanyaan klasik, yakni berapa nominal THR yang pantas diberikan tanpa membuat kondisi keuangan menjadi terganggu.
Terlebih jika jumlah keponakan cukup banyak, pengeluaran bisa meningkat drastis jika tidak direncanakan dengan baik.
Pada dasarnya, THR bukan sekadar soal uang. Lebih dari itu, pemberian ini merupakan simbol kasih sayang dan bentuk perhatian kepada keluarga.
Karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan antara berbagi kebahagiaan dan menjaga stabilitas finansial.
Tidak ada aturan baku mengenai jumlah THR yang harus diberikan. Besar kecilnya nominal biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti usia keponakan, kedekatan hubungan, serta kemampuan finansial pemberi.
Usia sering menjadi acuan utama dalam menentukan jumlah THR. Anak-anak usia balita hingga sekolah dasar umumnya menerima nominal yang lebih kecil dibandingkan remaja atau keponakan yang sudah beranjak dewasa.
Selain itu, kedekatan emosional juga bisa memengaruhi besaran yang diberikan.
Di sisi lain, kondisi ekonomi pribadi tetap menjadi pertimbangan utama. Memberikan THR sebaiknya tidak dipaksakan di luar kemampuan karena tujuan utamanya adalah berbagi kebahagiaan, bukan menambah beban finansial.
| Usia Keponakan | Nominal THR |
|---|---|
| 1–5 tahun (Balita) | Rp5.000 – Rp20.000 |
| SD (6–12 tahun) | Rp10.000 – Rp30.000 |
| SMP (13–15 tahun) | Rp25.000 – Rp50.000 |
| SMA (16–18 tahun) | Rp30.000 – Rp75.000 |
| Mahasiswa / Dewasa | Rp50.000 – Rp100.000 |
Agar tradisi berbagi tetap berjalan tanpa mengganggu kondisi keuangan, perencanaan menjadi hal yang sangat penting.
Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah menentukan anggaran khusus untuk THR sejak jauh hari sebelum Lebaran.
Setelah itu, buatlah daftar penerima berdasarkan prioritas, mulai dari keluarga inti hingga kerabat lainnya.
Dengan cara ini, pembagian THR menjadi lebih terarah dan tidak berlebihan.
Selain itu, penting untuk menyesuaikan nominal dengan kemampuan finansial. Tidak perlu merasa terbebani untuk memberikan jumlah besar jika kondisi tidak memungkinkan.
Keikhlasan dan niat baik justru menjadi nilai utama dalam tradisi ini.
Selain memberikan uang, THR juga bisa diwujudkan dalam bentuk lain yang tidak kalah menarik. Untuk anak-anak, misalnya, hadiah berupa buku cerita, alat tulis, atau mainan edukatif bisa menjadi pilihan.
Sementara itu, untuk keponakan yang lebih besar, hadiah seperti voucher belanja atau barang yang bermanfaat dapat menjadi alternatif. Cara ini tidak hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi penerima.
Memberikan THR dalam bentuk non-tunai juga bisa menjadi sarana edukasi, terutama dalam mengajarkan anak-anak tentang pentingnya memanfaatkan sesuatu dengan bijak.
Dengan perencanaan yang matang, tradisi ini tetap bisa dijalankan tanpa membuat keuangan “bokek” setelah Lebaran.***