
SERAYUNEWS – Isu mengenai besaran uang saku penerima beasiswa luar negeri kembali ramai dibicarakan.
Kali ini, perhatian publik tersedot setelah nama Dwi Sasetyaningtyas menjadi perbincangan luas di media sosial.
Namun, di balik polemik yang berkembang, muncul rasa ingin tahu yang lebih besar di tengah masyarakat: seberapa besar sebenarnya uang saku yang diterima penerima beasiswa LPDP selama menempuh pendidikan di luar negeri?
Program beasiswa yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan memang sejak awal dirancang sebagai skema pendanaan penuh.
Negara tidak hanya membayarkan biaya pendidikan, tetapi juga menjamin kebutuhan hidup dan penunjang akademik mahasiswa agar dapat fokus menyelesaikan studi.
LPDP dibentuk dengan misi strategis: menyiapkan sumber daya manusia unggul yang kelak kembali dan berkontribusi bagi pembangunan nasional. Karena itu, konsep pendanaannya tidak setengah-setengah.
Selain tuition fee, penerima beasiswa memperoleh uang saku bulanan, tunjangan awal keberangkatan, asuransi kesehatan, hingga dana penelitian.
Skema ini sering kali memicu diskusi publik, terutama ketika nominal pendanaan dibandingkan dengan kondisi ekonomi di dalam negeri.
Namun, LPDP menekankan bahwa seluruh komponen pendanaan disusun berdasarkan kebutuhan riil mahasiswa di negara tujuan studi, bukan untuk memberikan fasilitas berlebihan.
Di antara berbagai komponen pendanaan LPDP, uang saku bulanan atau living allowance menjadi aspek yang paling sering disorot publik.
Besaran dana ini memang berbeda-beda, tergantung negara dan kota tempat mahasiswa menempuh pendidikan.
Berdasarkan dokumen resmi komponen pendanaan LPDP yang diperbarui pada November 2023, mahasiswa yang kuliah di Inggris menerima uang saku dengan skema sebagai berikut:
Jika dikonversikan ke rupiah, nominal 1.600 Pound Sterling berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp31 juta per bulan, bergantung pada nilai tukar saat pencairan.
Angka ini disusun untuk menutup kebutuhan dasar mahasiswa, mulai dari sewa tempat tinggal, konsumsi harian, transportasi, hingga pengeluaran rutin lainnya.
Perlu dicatat, biaya hidup di Inggris, terutama di kota-kota besar, tergolong tinggi.
Sewa kamar atau apartemen dapat menghabiskan porsi terbesar dari uang saku bulanan, belum termasuk pajak, asuransi tambahan, dan kebutuhan akademik.
Selain uang saku bulanan, LPDP juga menyediakan sejumlah tunjangan lain yang nilainya tidak kecil.
Komponen ini sering luput dari perhatian publik, padahal memiliki fungsi penting dalam menunjang kelancaran studi. Beberapa di antaranya meliputi:
Seluruh dana tersebut memiliki peruntukan jelas dan pencairannya mengikuti ketentuan serta mekanisme pertanggungjawaban yang ketat.
Perdebatan soal uang saku LPDP luar negeri sering kali muncul karena perbandingan langsung dengan kondisi ekonomi di Indonesia.
Ketika dikonversi ke rupiah, angka puluhan juta memang tampak besar.
Namun, dalam konteks biaya hidup negara tujuan, nominal tersebut disesuaikan agar mahasiswa dapat hidup layak dan fokus belajar.
LPDP berulang kali menegaskan bahwa tujuan utama beasiswa bukan memberi kenyamanan berlebih, melainkan memastikan penerima tidak terbebani persoalan finansial selama studi.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan kembali memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.***