
SERAYUNEWS – Istilah planogram belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial setelah muncul sebuah video yang memperlihatkan tata letak produk di salah satu Koperasi Desa Merah Putih.
Video tersebut memancing perhatian publik karena susunan barang di rak dinilai terlalu renggang sehingga membuat tampilan toko terlihat kosong.
Alih-alih menarik minat pembeli, penataan produk tersebut justru menuai kritik dari warganet.
Banyak pengguna media sosial menilai tampilan rak yang kurang padat memberikan kesan bahwa toko tidak lengkap dan kurang profesional.
Perbincangan hangat inilah yang membuat istilah planogram ikut viral. Banyak warganet menyebut bahwa penataan produk di toko seharusnya mengikuti konsep merchandising dan planogram agar lebih menarik secara visual sekaligus mampu mendongkrak penjualan.
Planogram adalah panduan visual berbentuk diagram atau sketsa yang digunakan untuk mengatur posisi produk di rak toko.
Sistem ini membantu pemilik usaha menentukan lokasi penempatan barang agar lebih mudah dilihat oleh konsumen dan menciptakan tampilan toko yang rapi.
Dalam dunia retail modern, penataan produk sama sekali tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Posisi barang sangat memengaruhi psikologi dan perilaku konsumen ketika berbelanja.
Keuntungan Utama Planogram: Selain menjaga tampilan toko tetap konsisten, sistem ini memudahkan pegawai dalam menata produk. Dengan standar yang sama, seluruh cabang toko dapat memiliki tampilan yang seragam, rapi, dan profesional.
Praktik planogram bukan hanya berkaitan dengan estetika atau keindahan toko, tetapi juga berkaitan erat dengan strategi pemasaran. Penempatan barang di area tertentu terbukti dapat meningkatkan peluang produk tersebut dibeli oleh konsumen.
Berikut adalah beberapa fakta mengenai penataan produk di dalam toko:
Area Eye Level (Sejajar Mata): Produk yang berada sejajar dengan pandangan mata pembeli biasanya memiliki tingkat penjualan paling tinggi. Oleh karena itu, produk unggulan atau barang yang ingin diprioritaskan penjualannya selalu ditempatkan di area strategis ini.
Area Bawah Rak: Produk berukuran besar atau barang dengan perputaran lambat (slow moving) biasanya disusun di bagian paling bawah rak.
Efek Rak Penuh: Rak yang terlihat penuh dan terorganisir dengan baik mampu menciptakan pengalaman belanja yang nyaman dan memicu hasrat membeli. Sebaliknya, susunan produk yang terlalu renggang bisa membuat toko tampak sepi dan tidak laku.
Untuk membuat penataan rak yang menarik layaknya minimarket modern, ada beberapa langkah strategi yang perlu diterapkan:
Bedakan Produk Fast Moving dan Slow Moving: Barang fast moving (cepat terjual) harus ditempatkan di lokasi strategis dan diberi ruang display yang lebih besar di rak.
Kelompokkan Berdasarkan Kategori: Kelompokkan produk berdasarkan jenisnya. Misalnya, makanan ringan ditempatkan bersama kategori camilan, sedangkan produk perawatan tubuh dipisahkan dalam kelompok tersendiri.
Sesuaikan Ukuran Rak dan Jumlah Produk: Pemilik toko perlu menghitung panjang dan lebar rak agar kapasitas penyimpanan sebanding dengan stok barang yang dipajang. Hindari menyisakan ruang kosong yang terlalu lebar.
Perhatikan Kombinasi Warna Kemasan: Penyusunan produk berdasarkan kombinasi warna kemasan tertentu dapat membuat tampilan visual rak menjadi jauh lebih estetis dan memanjakan mata konsumen.
Viralnya pembahasan mengenai Koperasi Desa Merah Putih menjadi bukti bahwa masyarakat atau konsumen saat ini sudah semakin kritis terhadap aspek visual sebuah toko retail.
Konsep merchandising dan planogram kini tidak lagi hanya milik ritel raksasa, melainkan juga perlu dipahami oleh pelaku usaha kecil, UMKM, hingga koperasi desa.
Di era digital, tampilan toko yang kurang rapi bisa dengan mudah menjadi sorotan negatif di media sosial.
Sebaliknya, penataan produk yang kreatif dan rapi justru bisa menjadi media promosi gratis yang mengundang banyak pelanggan datang.