
CILACAP, SERAYUNEWS – Lembaran kulit pisang yang biasanya berakhir di tempat sampah mendadak menjadi pusat perhatian di Aula Sekolah Luar Biasa (SLB) Cilacap, Senin (27/7). Di tangan puluhan penyandang disabilitas, limbah organik itu disulap menjadi bio leather, material ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru.
Sebanyak 20 peserta yang didominasi penyandang tuna rungu dan tuna wicara mengikuti pelatihan pembuatan bio leather dari kulit pisang yang digelar Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap bekerja sama dengan Yayasan Dipa Mandiri Nusantara.
Kegiatan ini manjadi bagian dari program Disabilitas Berkarya & Berdaya (Diskara), sebuah inisiatif yang mendorong peningkatan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Bio leather merupakan bahan alternatif pengganti kulit hewan yang dibuat dari sumber biologis terbarukan, seperti limbah tumbuhan. Selain ramah lingkungan, material ini juga dapat terurai secara alami sehingga menjadi salah satu inovasi yang mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Pelatihan ini bukan hanya menghadirkan keterampilan baru, tetapi juga rasa percaya diri dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina RU Cilacap, Agustiawan, mengaku justru mendapatkan inspirasi dari semangat para peserta selama mengikuti pelatihan.
“Kami yang justru banyak belajar dari semangat bapak ibu yang luar biasa. Dengan segala kelebihan yang dianugerahkan Tuhan, tidak menghalangi semangat untuk terus meningkatkan keterampilan,” ujarnya.
Menurut Agustiawan, pemanfaatan kulit pisang menjadi bio leather juga menjadi wujud kepedulian terhadap lingkungan. Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai mampu diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Ini sejalan dengan semangat kami untuk tidak hanya menjadi perusahaan energi, tetapi juga menyebarluaskan energi positif bagi masyarakat seluas-luasnya, termasuk kelompok disabilitas,” tambahnya.
Bagi Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, kolaborasi bersama Pertamina telah menghadirkan lebih dari sekadar program pelatihan. Pembina Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Kania Kendarsyah, menilai dukungan yang konsisten dari Kilang Pertamina RU Cilacap menjadi penyemangat bagi para penyandang disabilitas untuk terus melangkah.
“Pertamina memberikan dukungan yang luar biasa. Kehadiran Pertamina membuka lebih banyak kesempatan, menumbuhkan harapan, sekaligus membangun kepercayaan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Kami berharap keterampilan membuat bio leather ini dapat menjadi bekal usaha berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan perekonomian para peserta,” ungkapnya.
Sesi pelatihan dipandu langsung oleh Ketua Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Sugeng Paijo. Dengan sabar, ia memeragakan setiap tahapan pembuatan bio leather, mulai dari proses pengolahan kulit pisang hingga menjadi lembaran material yang siap dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti kerajinan gantungan kunci dan lainnya.
Melalui program Diskara, Kilang Cilacap terus menjaga komitmen untuk menghadirkan program tanggung jawab sosial yang tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga kemandirian. Ketika keterampilan, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat inklusivitas dipertemukan, lahirlah ruang bagi siapa pun untuk terus berkarya tanpa batas.