
BANJARNEGARA,SERAYUNEWS-Jembatan besi kereta api peninggalan Serajoedal Stoomtram Maatschappij di Banjarnegara mulai dikaji untuk diusulkan sebagai cagar budaya. Usianya lebih dari satu abad dan menjadi saksi sejarah transportasi kereta api di wilayah ini.
Keberadaan jembatan besi kereta api masa lalu yang berada di jalur utama Banjarnegara-Wonosobo ini terlihat masih berdiri kokoh, meski begitu jembatan besi tua itu diam-diam menyimpan kisah perjalanan kereta api lebih dari satu abad lalu.
Meski rel dan bantalan kereta telah lama hilang, rangka baja jembatan itu tetap kokoh menjadi saksi bisu sejarah transportasi di Kabupaten Banjarnegara.
Kini, jejak sejarah tersebut mulai mendapat perhatian. Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) tengah melakukan kajian untuk mengusulkan jembatan peninggalan Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) itu sebagai cagar budaya agar keberadaannya terlindungi dari ancaman kerusakan maupun pembongkaran.
Kajian lapangan dilakukan pada Selasa (7/7/2026) di jembatan yang berada di Gribig, Desa Prigi, Kecamatan Sigaluh. Dalam kegiatan tersebut, tim YSMI bersama Komunitas Brotherhood of Rompi Orange mendokumentasikan kondisi fisik jembatan sebagai bagian dari Program Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya Dana Indonesia Raya yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Hasil pengamatan menunjukkan struktur utama jembatan masih berdiri dengan kondisi yang relatif baik. Namun, seluruh rel dan bantalan kereta api yang dahulu menjadi bagian penting jalur tersebut sudah tidak lagi ditemukan.
Ketua Umum YSMI, Heni Purwono, mengatakan jembatan itu merupakan salah satu peninggalan penting sejarah perkeretaapian di Banjarnegara. Menurutnya, jembatan tersebut menjadi satu dari empat jembatan milik Serajoedal Stoomtram Maatschappij yang melintasi jalur nasional di wilayah Banjarnegara.
“Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Satu jembatan lain di kawasan depan SPBU Prigi sudah lebih dulu dibongkar. Kami berharap jembatan yang masih tersisa ini dapat segera memperoleh status cagar budaya agar keberadaannya terlindungi,” kata Heni.
Guru sejarah SMAN 1 Sigaluh itu menjelaskan bahwa penetapan sebagai cagar budaya bukan sekadar menjaga sebuah bangunan tua, melainkan mempertahankan bukti sejarah perkembangan transportasi dan kehidupan masyarakat Banjarnegara pada masa lalu.
Dukungan juga datang dari Komunitas Brotherhood of Rompi Orange yang selama ini banyak beraktivitas di jalan raya dan kerap menyaksikan perubahan berbagai jejak sejarah di Banjarnegara.
Perwakilan komunitas, Ade Hermanto, menilai peninggalan jalur kereta api memiliki nilai sejarah yang tidak tergantikan meski kini sudah tidak lagi difungsikan.
“Kami melihat sendiri bagaimana jejak-jejak kereta api perlahan menghilang. Kondisi jembatan ini masih cukup baik, tetapi relnya sudah tidak ada. Padahal, keberadaan jembatan seperti ini bisa menjadi penanda sejarah sekaligus identitas daerah,” ujarnya.
Menurut Ade, pelestarian aset perkeretaapian tidak selalu harus diwujudkan melalui pengoperasian kembali jalur lama. Menjaga bangunan yang masih tersisa dinilai sudah menjadi langkah penting agar generasi mendatang tetap dapat mengenal sejarah transportasi di Banjarnegara.
Ia berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat memberikan perhatian lebih terhadap warisan sejarah tersebut sehingga tidak bernasib sama dengan sejumlah peninggalan lain yang telah hilang.
“Nilai ekonominya mungkin tidak sebesar aset perkeretaapian yang masih aktif, tetapi nilai sejarahnya tidak bisa digantikan. Ini adalah warisan yang harus tetap dikenalkan kepada anak cucu kita,” katanya.
Program kajian yang dilakukan YSMI merupakan bagian dari upaya mendokumentasikan sekaligus mengidentifikasi objek-objek yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam proses pengusulan status cagar budaya sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi masyarakat yang setiap hari melintasi kawasan tersebut, jembatan besi tua itu mungkin hanya tampak sebagai konstruksi lama di tepi jalan. Namun di balik rangka baja yang masih berdiri kokoh, tersimpan cerita tentang masa ketika kereta api pernah menjadi nadi penghubung Banjarnegara dengan berbagai wilayah di Jawa Tengah. Menjaga jembatan itu berarti menjaga sepotong memori perjalanan sejarah yang tidak akan pernah bisa dibangun kembali apabila sekali hilang.