
CILACAP, SERAYUNEWS – BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap melakukan pemantauan terhadap potensi sebaran abu vulkanik menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan menggunakan paper test yang dipasang di taman alat meteorologi.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sampai ke wilayah Cilacap.
Menurutnya, paper test merupakan kertas khusus yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan debu atau abu vulkanik di udara. Kertas tersebut ditempatkan di area terbuka agar dapat menangkap partikel yang terbawa angin.
Teguh menjelaskan pengamatan menggunakan paper test dilakukan pada Minggu (6/9/2026). Pemantauan berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
Hasilnya, tidak ditemukan adanya debu vulkanik yang menempel pada kertas tersebut. Dengan demikian, hasil pengamatan dinyatakan negatif atau wilayah Cilacap belum terdampak abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau.
“Pengamatan paper test kami lakukan dari pagi sampai malam. Hasilnya negatif, tidak ada debu vulkanik yang menempel pada kertas,” ujarnya, Senin (7/9/2026).
Selain berdasarkan hasil pengamatan alat, BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap juga belum menerima laporan masyarakat terkait dampak debu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Teguh menegaskan pemantauan akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer dan potensi sebaran abu vulkanik.
Di tengah adanya informasi mengenai aktivitas gunung api dan gempa bumi, Teguh juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial.
Menurutnya, berbagai isu kerap muncul setelah terjadi bencana. Tidak sedikit informasi tersebut berasal dari sumber yang tidak jelas sehingga berpotensi menimbulkan keresahan.
Ia mencontohkan informasi yang beredar setelah Cilacap diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,4. Saat itu muncul kabar yang menyebut bakal terjadi gempa lebih besar yang kemudian diikuti tsunami.
Teguh meminta masyarakat menyikapi informasi semacam itu secara bijak. “Jangan langsung percaya begitu saja. Sumber-sumber informasi di media sosial terkadang tidak valid,” ujarnya.
Dia menegaskan gempa bumi hingga saat ini tidak dapat diprediksi secara pasti mengenai kapan terjadi, lokasi kejadian, maupun kekuatannya. Karena itu, masyarakat perlu waspada apabila menemukan informasi yang mengklaim dapat memastikan akan terjadi gempa dengan waktu dan kekuatan tertentu.
“Kalau ada informasi yang menyebarkan hal-hal seperti itu dengan jelas, bisa dikatakan informasi tersebut hoaks,” jelasnya.
Teguh mengatakan kewaspadaan tetap diperlukan karena Cilacap memang berada di wilayah yang memiliki sejumlah potensi bencana. Di kawasan Samudra Selatan Cilacap terdapat sumber potensi gempa yang berkaitan dengan pertemuan lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia.
Selain ancaman gempa dan tsunami, wilayah Cilacap juga berdekatan dengan daerah yang memiliki gunung api. Kondisi tersebut membuat Cilacap memiliki potensi terdampak abu vulkanik apabila terjadi erupsi gunung api dan arah angin membawa material erupsi menuju wilayah ini.
Potensi bencana lainnya juga dapat terjadi sesuai kondisi musim. Saat musim hujan, sejumlah wilayah berpotensi mengalami banjir. Sedangkan pada musim kemarau seperti sekarang, ancaman kekeringan dan kebakaran lahan perlu diwaspadai.
Menurut Teguh, berbagai potensi bencana tersebut bukan sesuatu yang baru. Ancaman itu telah ada sejak lama sehingga masyarakat perlu membangun kesiapsiagaan.
Karena bencana tidak selalu dapat diprediksi secara pasti, Teguh menilai langkah mitigasi menjadi hal penting yang harus dipahami masyarakat.
Saat terjadi gempa, misalnya, masyarakat dapat melindungi kepala dan mencari perlindungan di bawah meja atau tempat yang kokoh. Setelah guncangan berhenti, warga dapat menuju ruang terbuka yang aman.
Apabila gempa berpotensi memicu tsunami, masyarakat di wilayah rawan harus segera melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi. Edukasi dan sosialisasi mengenai langkah evakuasi tersebut juga terus dilakukan oleh instansi terkait, termasuk BPBD.
Prinsip kesiapsiagaan yang sama juga perlu diterapkan untuk menghadapi bencana lain, seperti banjir, kekeringan, hingga kebakaran lahan.
Teguh kembali mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan informasi resmi dari lembaga yang berwenang.
“Jangan mudah percaya pada informasi yang tidak valid. Percayalah pada informasi yang dikeluarkan instansi pemerintah. Untuk gempa, misalnya, melalui BMKG dan instansi lain yang berwenang sesuai jenis bencananya,” pungkasnya.