
SERAYUNEWS– Penentuan awal bulan Ramadan kembali menjadi perhatian utama umat Islam di Indonesia.
Kalender Hijriyah atau kalender Qomariyah yang digunakan umat Islam dalam pengaturan waktu ibadah sehari-hari memiliki karakteristik berbeda dengan kalender Masehi.
Sistem ini didasarkan pada keteraturan peredaran Bulan mengelilingi Bumi, serta pergerakan Bumi dan Bulan dalam mengitari Matahari.
Dalam konteks ibadah, penentuan awal bulan Hijriyah memiliki makna yang sangat strategis.
Awal Ramadan menentukan dimulainya ibadah puasa, sementara Syawal berkaitan langsung dengan Hari Raya Idulfitri, dan Zulhijah menjadi penentu waktu pelaksanaan ibadah haji serta Iduladha.
Karena itu, akurasi dan kejelasan metode penetapan awal bulan Hijriyah menjadi hal yang sangat krusial. Melansir laman resmi BMKG, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tugas pokok memberikan layanan informasi tanda waktu serta posisi Matahari dan Bulan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memainkan peran penting dalam proses penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia.
BMKG secara konsisten memberikan pertimbangan ilmiah berbasis astronomi kepada para pemangku kepentingan, khususnya Kementerian Agama Republik Indonesia, yang memiliki kewenangan resmi dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah melalui sidang isbat.
Kontribusi BMKG tidak hanya terbatas pada penyampaian hasil perhitungan astronomis atau hisab, tetapi juga mencakup kegiatan rukyat hilal atau observasi langsung keberadaan hilal di lapangan.
Dalam rangka mendukung penentuan awal Ramadan 1447 Hijriyah, BMKG melaksanakan rukyat hilal di 37 lokasi strategis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan geografis dan astronomis untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengamatan hilal.
Menariknya, seluruh proses rukyat hilal yang dilakukan BMKG dapat disaksikan oleh masyarakat secara terbuka melalui siaran langsung (live streaming) di kanal resmi: https://hilal.bmkg.go.id/
Siaran langsung ini menjadi bentuk keterbukaan informasi publik sekaligus sarana edukasi astronomi bagi masyarakat luas, khususnya terkait metode ilmiah dalam penentuan awal bulan Hijriyah.
Selain melakukan observasi langsung, BMKG juga menyampaikan data-data hilal hasil hisab yang dihitung pada saat Matahari terbenam.
Data hisab ini menjadi acuan penting bagi para pengamat hilal serta digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pelaksanaan sidang isbat.
Untuk Ramadan 1447 H, BMKG menyusun data astronomis secara komprehensif agar dapat memberikan gambaran objektif mengenai kemungkinan terlihatnya hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Informasi hilal yang dipublikasikan BMKG mencakup berbagai parameter astronomis penting, antara lain:
1. Waktu Konjungsi (Ijtima’) dan Waktu Terbenam Matahari
Data ini menunjukkan momen pertemuan Bulan dan Matahari secara astronomis serta waktu terbenam Matahari sebagai acuan awal rukyat.
2. Peta Ketinggian Hilal
Menampilkan posisi ketinggian Bulan di atas ufuk saat Matahari terbenam di berbagai wilayah Indonesia.
3. Peta Elongasi Bulan
Menggambarkan jarak sudut antara Bulan dan Matahari yang memengaruhi visibilitas hilal.
4. Peta Umur Bulan
Menunjukkan usia Bulan sejak terjadinya konjungsi, yang menjadi salah satu indikator kemungkinan hilal dapat teramati.
5. Peta Lag Bulan
Menyajikan selisih waktu terbenam Bulan dan Matahari, faktor penting dalam observasi hilal.
6. Peta Fraksi Illuminasi Bulan
Menjelaskan persentase permukaan Bulan yang disinari Matahari saat rukyat dilakukan.
7. Objek Astronomis Lain yang Berpotensi Mengganggu Rukyat Hilal
Informasi ini membantu pengamat mengantisipasi gangguan visual dari objek langit lain.
8. Data Hilal Saat Matahari Terbenam untuk Kota-kota di Indonesia
Disajikan secara rinci untuk berbagai daerah sebagai bahan analisis lokal.
BMKG menyediakan seluruh data tersebut dalam bentuk dokumen resmi yang dapat diakses oleh masyarakat, akademisi, peneliti falak, hingga pengamat hilal di seluruh Indonesia.
Dokumen Informasi Hilal Ramadan 1447 H dapat diunduh melalui tautan: https://content.bmkg.go.id/wp-content/uploads/informasi_hilal_ramadan_1447h.pdf
Melalui publikasi data hisab yang terbuka serta pelaksanaan rukyat hilal yang disiarkan secara langsung, BMKG berupaya mendorong transparansi proses penentuan awal bulan Hijriyah.
Langkah ini sekaligus meningkatkan literasi astronomi masyarakat agar memahami bahwa penetapan awal Ramadan dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kolaborasi antara metode hisab dan rukyat yang difasilitasi BMKG diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap proses penentuan awal bulan Hijriyah, sekaligus menjaga keharmonisan umat dalam menjalankan ibadah.