
SERAYUNEWS – Memasuki 10 hari pertama bulan Zulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk melaksanakan puasa sunnah.
Di antara puasa yang paling dikenal pada periode tersebut adalah puasa Tarwiyah yang dikerjakan pada 8 Zulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Zulhijjah.
Banyak umat Muslim meyakini bahwa kedua puasa ini memiliki keutamaan besar sehingga sering dilakukan secara berurutan.
Namun, tidak sedikit pula yang masih bertanya-tanya mengenai hukum menjalankan puasa Arafah tanpa lebih dulu melaksanakan puasa Tarwiyah.
Pertanyaan tersebut cukup sering muncul, terutama bagi mereka yang memiliki kesibukan, kondisi kesehatan tertentu, atau baru sempat berpuasa pada hari Arafah saja. Dalam syariat Islam, persoalan ini telah dijelaskan oleh para ulama dan tidak perlu menjadi kebingungan berkepanjangan.
Puasa Arafah dikenal sebagai salah satu puasa sunnah dengan pahala yang sangat besar. Keutamaannya disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Hadis tersebut menjelaskan bahwa puasa Arafah menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama dua tahun, yakni satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang.
Keutamaan inilah yang membuat banyak umat Islam berusaha tidak melewatkan puasa Arafah setiap tahunnya. Bahkan, meskipun tidak sempat menjalankan puasa Tarwiyah, umat Muslim tetap dianjurkan untuk mengerjakan puasa Arafah karena pahala dan keberkahannya sangat besar.
Selain menjadi amalan penghapus dosa, puasa Arafah juga menjadi bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT menjelang Hari Raya Idul Adha.
Puasa Arafah tetap diperbolehkan meski seseorang tidak menjalankan puasa Tarwiyah sehari sebelumnya.
Tidak ada aturan dalam Islam yang menyebut bahwa puasa Tarwiyah menjadi syarat sah atau syarat utama sebelum mengerjakan puasa Arafah.
Puasa Arafah sendiri berstatus sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Karena sifatnya sunnah, maka pelaksanaannya tidak wajib dilakukan secara berurutan dengan puasa sunnah lain di awal Zulhijjah.
Artinya, seseorang tetap bisa memperoleh keutamaan puasa Arafah walaupun hanya melaksanakan puasa pada tanggal 9 Zulhijjah saja. Hal ini memberikan kemudahan bagi umat Muslim yang mungkin tidak sempat menjalankan rangkaian puasa sunnah secara penuh dari awal bulan.
Sebagian umat Islam memang terbiasa menjalankan puasa sejak tanggal 1 hingga 7 Zulhijjah, lalu melanjutkannya dengan puasa Tarwiyah dan Arafah. Namun, jika ada halangan, syariat tetap memberikan kelonggaran untuk memilih salah satu puasa sunnah yang mampu dijalankan.
Sementara itu, puasa Tarwiyah yang dilakukan pada 8 Zulhijjah juga termasuk amalan baik dan dianjurkan. Meski demikian, sebagian ulama menilai beberapa hadis tentang keutamaan khusus puasa Tarwiyah memiliki derajat dhaif atau lemah.
Walaupun begitu, amalan puasa di awal Zulhijjah tetap memiliki nilai ibadah yang baik karena dilakukan pada hari-hari yang mulia. Oleh sebab itu, puasa Tarwiyah tetap boleh dikerjakan sebagai bentuk memperbanyak amal saleh.
Namun penting dipahami bahwa meninggalkan puasa Tarwiyah tidak mengurangi keabsahan ataupun keutamaan puasa Arafah. Keduanya merupakan ibadah sunnah yang berdiri sendiri dan tidak saling menjadi syarat.
Islam memberikan kemudahan dalam pelaksanaan ibadah sunnah. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa terbebani apabila tidak dapat menjalankan seluruh rangkaian puasa sunnah di bulan Zulhijjah.
Selama dilakukan dengan niat ikhlas dan sesuai ketentuan syariat, puasa Arafah tetap sah dan berpahala meski tanpa didahului puasa Tarwiyah. Bahkan, bagi banyak umat Islam, puasa Arafah menjadi pilihan utama karena keutamaannya yang sangat besar dibanding puasa sunnah lainnya.
Maka, jika seseorang baru sempat berpuasa pada tanggal 9 Zulhijjah saja, ia tetap dapat menjalankan ibadah tersebut tanpa keraguan.
Demikian informasi tentang hukum puasa Arafah tanpa Tarwiyah.***