
SERAYUNEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara menggelar Pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) bagi Tim Reaksi Cepat (TRC) kecamatan se-Kabupaten Banjarnegara.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan personel dalam menghitung kerusakan dan kebutuhan warga terdampak bencana secara cepat dan akurat.
Sebanyak 40 personel TRC mengikuti kegiatan tersebut. Masing-masing kecamatan mengirimkan dua perwakilan sebagai garda terdepan penanganan kebencanaan di wilayahnya.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menegaskan bahwa Jitupasna merupakan tahapan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Jitupasna merupakan salah satu tahapan strategis. Melalui pengkajian yang tepat, kita dapat mengetahui secara riil apa saja yang dibutuhkan oleh warga terdampak untuk bangkit,” katanya.
Menurut Aji, data hasil Jitupasna menjadi dasar pemerintah dalam menyusun langkah pemulihan yang tepat sasaran, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga pemulihan ekonomi masyarakat.
Sebagai daerah dengan topografi perbukitan dan curah hujan tinggi, Banjarnegara termasuk wilayah yang rawan bencana alam seperti tanah longsor, pergerakan tanah, banjir, hingga kekeringan.
Karena itu, kemampuan petugas di tingkat kecamatan dalam melakukan penilaian kerusakan fisik maupun kerugian ekonomi secara cepat menjadi sangat penting.
Data yang diperoleh dari proses Jitupasna nantinya digunakan untuk menyusun dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Dokumen tersebut menjadi acuan utama pemerintah dalam menentukan arah pemulihan pascabencana secara terencana, efektif, dan berkelanjutan.
Selain itu, data yang akurat juga menjadi syarat penting dalam pengajuan bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi kepada pemerintah pusat.
Dalam pelatihan tersebut, BPBD Banjarnegara menghadirkan narasumber ahli, Dr. Zela Septikasari dari CV Lentera Energy.
Peserta mendapatkan materi mulai dari tahapan penanggulangan bencana, perubahan metode penilaian lapangan menjadi Jitupasna, hingga teknik menghitung risiko dan kebutuhan pascabencana.
Tidak hanya menerima teori di dalam kelas, peserta juga langsung mengikuti simulasi berdasarkan karakteristik bencana yang sering terjadi di Banjarnegara.
Sebanyak 40 peserta dibagi menjadi empat kelompok studi kasus, yaitu kelompok banjir, banjir bandang, erupsi gunung api, dan kekeringan.
Masing-masing kelompok diminta menyusun tabel penilaian Jitupasna berdasarkan skenario yang diberikan, kemudian mempresentasikan hasilnya di hadapan peserta lain dan tim pendamping.
Pada akhir sesi, peserta juga dibekali instrumen Asesmen Awal Rehabilitasi dan Rekonstruksi (A2R2) sebagai bekal dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
Setelah menyelesaikan sesi teori dan simulasi di aula, seluruh peserta melanjutkan kegiatan dengan studi lapangan di wilayah Kecamatan Pandanarum.
Melalui praktik langsung tersebut, peserta dapat menerapkan metode pengkajian kebutuhan pascabencana secara nyata sesuai kondisi lapangan yang sesungguhnya.
BPBD Banjarnegara berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kapasitas TRC kecamatan agar tidak hanya sigap dalam proses evakuasi saat bencana terjadi, tetapi juga mampu melakukan analisis kebutuhan warga secara cepat dan mandiri.
Kemampuan tersebut dinilai sangat penting karena kecepatan dan ketepatan data menjadi faktor utama dalam mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat kecamatan, Banjarnegara diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.