
SERAYUNEWS-Setelah dilakukan pemetaan, sedikitnya terdapat 69 titik jalur mudik di jalur nasional yang masuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai lokasi rawan kemacetan dan bencana.
Pemetaan tersebut dirilis oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah–DI Yogyakarta (BBPJN Jateng–DIY) sebagai langkah antisipasi menghadapi lonjakan kendaraan pada periode H-3 hingga H+3 Lebaran.
Kepala BBPJN Jateng–DIY, Moch Iqbal Tamher, mengatakan dari total 69 titik, sebanyak 46 lokasi tergolong rawan kemacetan. Titik-titik tersebut umumnya berada di kawasan pasar, perlintasan sebidang kereta api, simpang padat, serta akses keluar-masuk jalan tol.
Menurutnya, jalur Pantai Utara (Pantura) menjadi koridor paling krusial karena menjadi penghubung utama kendaraan dari arah barat ke timur Pulau Jawa. Selain kendaraan pribadi, arus logistik dan bus antarkota turut memperbesar potensi kepadatan, terutama menjelang puncak arus mudik.
Beberapa wilayah yang diprediksi mengalami peningkatan volume kendaraan berada di kawasan perkotaan Semarang, Brebes, hingga perbatasan kabupaten di jalur selatan.
“Seluruh titik sudah kami petakan. Personel dan peralatan telah disiagakan agar potensi hambatan selama arus mudik dapat ditekan,” ujar Iqbal.
Selain kemacetan, BBPJN Jateng–DIY juga mengidentifikasi 23 titik rawan bencana, terdiri dari 14 titik berpotensi banjir dan 9 titik rawan longsor.
Sejumlah ruas yang memiliki riwayat genangan antara lain Jalan Kaligawe di Semarang, ruas Sayung perbatasan Semarang–Demak, Jalan Walisongo, beberapa titik di jalur Pantura Kendal, kawasan Pemuda Brebes, hingga ruas Prupuk–batas Tegal hingga Kabupaten Banyumas.
Titik lainnya berada di Sidareja–Simpang 3 Jeruklegi, Cilacap, Sampang–Buntu, Klampok–Banjarnegara, Lingkar Selatan Klaten, serta Palur–Sragen. Mayoritas berada di dataran rendah yang rentan terdampak banjir akibat hujan deras maupun rob.
Sementara itu, potensi longsor terdeteksi di wilayah perbukitan jalur selatan, seperti batas Jawa Barat–Karangpucung–Wangon, Ajibarang-Wangon, Wangon–batas Banyumas hingga Cilacap, Patikraja–Rawalo, serta batas Kota Banjarnegara–Wonosobo. Struktur tanah yang labil dan kontur jalan yang terjal di wilayah tersebut meningkatkan risiko saat curah hujan tinggi.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, BBPJN Jateng–DIY menyiapkan 18 posko Lebaran di sepanjang jalur nasional strategis. Posko tersebut dilengkapi personel teknis dan dukungan peralatan guna menangani gangguan lalu lintas maupun kerusakan jalan secara cepat.
Selain itu, empat Unit Pelaksanaan Peralatan (UPP) Disaster Relief Unit (DRU) ditempatkan di Pekalongan, Karangjati, Buntu, dan Yogyakarta. Peralatan yang disiapkan meliputi excavator, wheel loader, motor grader, dump truck, asphalt finisher, hingga rangka jembatan darurat dengan bentang 30 meter.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan kesiapan infrastruktur daerah dalam menghadapi arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.
Berdasarkan proyeksi dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, sekitar 17,7 juta orang diperkirakan masuk ke Jawa Tengah selama periode Lebaran 2026. Secara nasional, estimasi pergerakan menuju provinsi ini mencapai 38,71 juta orang.
Jawa Tengah memiliki hampir 2.200 kilometer jalan kewenangan provinsi dengan tingkat kemantapan sekitar 94 persen. Pada 2026, fokus utama pemerintah daerah adalah menjaga kualitas dan kelayakan jalan agar tetap optimal selama arus mudik.
Dengan potensi lonjakan pergerakan masyarakat serta ancaman cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir dan longsor, pemudik diimbau untuk:
• Memantau informasi lalu lintas secara berkala
• Mengatur waktu keberangkatan untuk menghindari puncak arus
• Memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima
• Waspada terhadap potensi hujan lebat, terutama di jalur selatan
Kesiapan infrastruktur, dukungan peralatan, dan koordinasi lintas sektor diharapkan mampu menjaga kelancaran serta keselamatan perjalanan mudik Lebaran 2026 di wilayah Jawa Tengah dan DIY.