
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Dampak kemarau panjang di Kabupaten Banyumas terus meluas. Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, kini menjadi wilayah dengan kondisi krisis air bersih paling parah, sementara jumlah daerah terdampak kekeringan telah bertambah menjadi 34 desa dan kelurahan di 14 kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas pun terus meningkatkan distribusi bantuan air bersih seiring bertambahnya permintaan dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menjelaskan bahwa pada 6 Agustus 2026 tercatat sebanyak 31 desa di 14 kecamatan mengalami krisis air bersih yang berdampak pada 7.230 kepala keluarga (KK) atau sekitar 23.269 jiwa.
Saat itu BPBD telah menyalurkan 172 ritase atau sekitar 833.000 liter air bersih. Hingga kini jumlah distribusi kembali meningkat.
“Jumlah yang sudah terdistribusikan 188 ritase bantuan air bersih (total 913 ribu liter) ke berbagai lokasi terdampak,” katanya.
BPBD mencatat wilayah yang mengalami krisis air bersih tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain:
BPBD memperkirakan jumlah desa terdampak masih akan terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Dwi Irawan mengatakan musim kemarau tahun ini diprakirakan lebih panjang dengan suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kita terus memantau perkembangan kondisinya, dan dimungkinkan masih akan terus bertambah permintaan bantuan air bersih,” katanya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026, bahkan berpotensi berlanjut sampai awal 2027. Sementara puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.
“Diprediksi sampai akhir tahun masih kemarau, nanti ada hujan tapi hanya sedikit,” ujarnya.
Untuk mempercepat penanganan, BPBD Banyumas terus melakukan survei lapangan di desa-desa yang mengajukan bantuan air bersih.
Salah satunya dilakukan di Desa Randegan, Kecamatan Wangon, sebagai tindak lanjut permohonan bantuan dari pemerintah desa.
Pranata BPBD Kabupaten Banyumas, Aji, mengatakan survei bertujuan memastikan kondisi di lapangan sekaligus mencocokkan jumlah warga terdampak sebelum bantuan dikirim.
“Survei ini menjadi dasar kami untuk melakukan pengiriman bantuan air bersih. Kami akan melihat langsung lokasi terdampak dan mencocokkan data yang diajukan desa,” katanya.
Menurut Aji, pemerintah desa diminta mengisi formulir pendataan yang telah disiapkan BPBD sebagai dasar perhitungan kebutuhan air bersih.
“Kami memiliki format pendataan dari pemerintah daerah yang tinggal diisi oleh desa. Dari jumlah warga terdampak itulah nanti kami menghitung kebutuhan air bersih dan jumlah ritase pengiriman. Ada rumus perhitungannya, sehingga distribusi bisa lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, BPBD memiliki armada tangki berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter, dengan jumlah pengiriman disesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah.
Hingga kini BPBD telah menerima pengajuan bantuan dari sekitar 31 hingga 32 desa yang mengalami krisis air bersih. Seluruh permohonan masih diverifikasi melalui survei lapangan sebelum jadwal distribusi ditetapkan.
“Sampai hari ini desa-desa yang mengajukan sudah kami survei. Namun sebagian belum kami kirim karena masih menunggu hasil perhitungan kebutuhan air bersih. Prioritas kami tentu wilayah yang kondisinya paling parah,” katanya.
Saat ini, Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, menjadi wilayah dengan distribusi bantuan paling intensif. BPBD mengirimkan dua tangki air atau sekitar 10.000 liter setiap dua hari sekali untuk memenuhi kebutuhan warga.
BPBD mengimbau pemerintah desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih agar segera melaporkan kondisi di wilayahnya. Pendataan yang cepat diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan sehingga kebutuhan dasar masyarakat selama musim kemarau tetap terpenuhi.