
SERAYUNEWS – Penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga serangan jantung seringkali muncul tanpa gejala awal yang disadari oleh penderitanya. Menanggapi ancaman tersebut, BPJS Kesehatan Kantor Cabang Purwokerto memperkuat imbauan bagi seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk aktif melakukan Skrining Riwayat Kesehatan (SRK). Langkah promotif dan preventif ini wajib dilakukan minimal satu kali dalam setahun bagi setiap peserta yang telah menginjak usia 15 tahun ke atas.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Purwokerto, Niken Sawitri, menegaskan bahwa kesehatan bukan hanya tentang mengobati saat sudah jatuh sakit, melainkan bagaimana mendeteksi potensi risiko sedini mungkin. Dengan mengetahui profil kesehatan sejak awal, peserta dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat sebelum kondisi medis menjadi lebih serius dan memerlukan biaya pengobatan yang lebih besar.
”Semakin cepat risiko penyakit diketahui, maka semakin cepat pula upaya antisipasi dan penanganannya,” ujar Niken dalam keterangannya di Purwokerto, Jumat (09/01/2026). Ia menambahkan bahwa data hasil skrining ini nantinya akan menjadi panduan bagi dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk memberikan penanganan lanjutan jika ditemukan risiko yang tinggi.
Di era digital saat ini, BPJS Kesehatan telah mempermudah akses layanan skrining sehingga peserta tidak perlu lagi mengantre panjang di fasilitas kesehatan hanya untuk mengecek risiko kesehatan awal. Terdapat empat cara praktis yang bisa dipilih oleh peserta:
Niken menjelaskan bahwa proses pengisian kuesioner skrining ini sangat efisien. Peserta hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan terkait pola hidup, riwayat kesehatan keluarga, dan kebiasaan makan. “Prosesnya sangat mudah dan cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 menit saja,” ungkapnya. Efisiensi ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kualitas hidup mereka secara mandiri.
Manfaat nyata dari fitur ini dirasakan langsung oleh Achmad Yadi Kurniawan (35), seorang peserta JKN asal Purwokerto. Yadi yang awalnya menganggap proses administrasi kesehatan akan rumit, justru terkejut dengan kemudahan yang ditawarkan oleh Aplikasi Mobile JKN.
”Saya kira itu bakalan ribet, ternyata hanya perlu beberapa menit dan bisa dilakukan dari rumah. Dari hasil skrining ini, saya jadi mengetahui risiko penyakit apa yang ada,” tutur Yadi. Baginya, pemahaman hasil skrining yang mudah dimengerti orang awam adalah nilai tambah yang sangat membantu dalam memantau kondisi fisiknya sendiri.
Sebagai langkah pengingat, BPJS Kesehatan juga telah mengintegrasikan sistem skrining ini ke dalam layanan rutin di FKTP. Jika seorang peserta belum melakukan skrining dalam tahun berjalan, petugas di puskesmas atau klinik akan secara proaktif mengingatkan peserta untuk segera mengisi skrining saat mereka berkunjung.
”Kalau bisa skrining sekarang, kenapa harus ditunda nanti?” tutup Niken sebagai ajakan bagi seluruh warga untuk menjadikan kesehatan sebagai investasi jangka panjang.***