
SERAYUNEWS – Pemandangan sibuk terlihat di bengkel produksi parsel milik Emi Fatalia yang berlokasi di Jalan Jatisari, Kelurahan Sumampir, Banyumas. Ratusan paket tampak memenuhi ruangan, sementara para pekerja dengan cekatan menghias pita dan menata isi parsel agar tampil estetik di balik plastik bening.
Lonjakan permintaan tahun ini tergolong luar biasa. Dibandingkan Ramadan tahun lalu, pesanan meningkat dua kali lipat lebih. Kondisi ini memaksa Emi menyewa dua ruko tambahan sebagai area produksi dan penyimpanan agar tetap bisa memenuhi target.
Emi menyampaikan pesanan sudah terasa meningkat sejak pekan pertama ramadan. Pada ramadan tahun lalu dia menjual sekitar 300 paket, di pekan pertama ramadan. Sedangkan tahun ini sudah menembus angka 700 paket.
“Kalau dibanding tahun kemarin, kenaikannya sekitar 100 persen. Tahun lalu di tujuh hari Ramadan itu biasanya baru masuk sekitar 300 parsel. Sekarang sudah sekitar 700,” katanya.
Isian parsel yang ditawarkan pun sangat beragam, tidak hanya sekadar makanan ringan. Konsumen bisa memilih paket berisi keramik, bantal, meja, hingga mesin pembuat kopi (coffee maker). Mayoritas pemesan berasal dari kalangan instansi yang menyiapkan bingkisan untuk rekanan.
“Parselnya ada makanan, ada keramik, terus ada juga meja, sama bantal juga kita buat. Ini sudah banyak yang pesan dari instansi,” katanya.
Emi mampu memproduksi hingga 100 paket per hari. Produk yang paling laris adalah kategori medium karena menyesuaikan anggaran instansi yang berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
Paket ekonomis mulai dari Rp150.000, dengan isian didominasi produk makanan. Paket menengah, Rp 300-400 ribu, kategori ini paling banyak dipesan oleh instansi.
Untuk paket unit, sekitar 750000 dengan isian Coffee Maker (Sudah terjual 15 unit). Paket Premium/Custum dia jual hingga Rp2.000.000, dengan isian seperti sprei, meja, atau sesuai permintaan.
“Yang paling banyak dipesan itu ukuran medium, soalnya kalau instansi kan ada budgetnya, sekitar Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. Yang Rp150 ribu itu isinya makanan. Kalau yang Rp 2 juta biasanya ada seprei atau custom sesuai permintaan dari sana. Terus ada juga yang parsel isinya meja juga kita custom,” kata dia.
Berbeda dengan pelanggan individu, instansi justru banyak yang melakukan deal sebelum puasa dimulai. “Mulai ramainya itu sebelum puasa. Biasanya kalau sudah puasa, instansi malah sudah malas urus pesanan. Jadi sudah fix dari sebelum puasa,” ungkap Emi.
Lebih lanjut EMI menyampaikan, di luar musim Lebaran, usahanya tetap berjalan dengan melayani pembuatan buket atau parsel buah untuk keperluan menjenguk orang sakit atau ulang tahun. Namun, khusus Ramadan 2026 ini, omzet kotor usaha yang dirintis sejak 2014 tersebut diprediksi mencapai Rp150 juta.
Untuk menjaga kualitas, Emi sangat selektif memilih bahan makanan. “Kalau belanja, saya pilih yang expired-nya masih lama. Biasanya yang spare waktunya delapan bulan ke atas,” kata dia.