
SERAYUNEWS – Kabupaten Cilacap mencatat surplus beras lebih dari 321 ribu ton sepanjang 2025. Capaian ini menjadi indikator menguatnya ketahanan pangan daerah sekaligus menempatkan Cilacap sebagai salah satu daerah dengan peningkatan produksi padi tertinggi di Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan surplus beras tersebut merupakan hasil dari peningkatan produksi padi yang terus digenjot secara berkelanjutan.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, luas baku sawah di Kabupaten Cilacap tercatat mencapai 66.527 hektare. Sementara realisasi luas panen padi selama 2025 mencapai 132.681 hektare.
“Alhamdulillah, di tahun 2025 peningkatan produksi padi di Cilacap menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari peningkatan produksi itu, kita mengalami surplus beras lebih dari 321 ribu ton,” ujar Sigit, Jumat (23/1/2026).
Dari luasan panen tersebut, produktivitas padi rata-rata mencapai 64,44 kuintal per hektare. Dengan capaian itu, estimasi produksi padi di Cilacap mencapai 855.042 ton Gabah Kering Giling (GKG). Jika dikonversikan menjadi beras konsumsi, jumlahnya setara dengan sekitar 507.438 ton beras.
Sementara itu, estimasi kebutuhan beras penduduk Kabupaten Cilacap pada 2025 tercatat sebesar 185.583 ton. Dengan demikian, terdapat surplus beras sekitar 321.854 ton yang dinilai menjadi potensi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan pangan daerah serta mendukung pemenuhan kebutuhan beras di wilayah lain.
Produksi padi tertinggi tercatat berasal dari Kecamatan Kedungreja, Gandrungmangu, Kawunganten, Majenang, dan Wanareja. Tingginya produksi di wilayah tersebut sejalan dengan luas baku sawah yang masih terjaga sehingga mampu mendukung intensitas tanam dan hasil panen optimal.
Untuk menjaga keberlanjutan surplus beras, Dinas Pertanian Cilacap terus mendorong percepatan Luas Tambah Tanam (LTT). Target LTT padi pada Januari 2026 ditetapkan seluas 9.000 hektare. Hingga 6 Januari 2026, realisasi tanam telah mencapai 716 hektare.
“Luas tambah tanam kami pantau setiap hari melalui laporan penyuluh pertanian, baik ke pusat maupun ke daerah secara berjenjang sampai provinsi,” jelas Sigit.
Selain itu, Pemkab Cilacap juga menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas sekitar 58 ribu hektare dari total luas baku sawah. Kebijakan ini dilakukan untuk menekan alih fungsi lahan agar produksi padi tetap terjaga ke depan.
Puncak panen padi Musim Tanam (MT) I diproyeksikan berlangsung pada Februari hingga Maret 2026, dengan estimasi luas panen masing-masing mencapai 21.844 hektare pada Februari dan meningkat menjadi 23.236 hektare pada Maret. Dengan percepatan tanam yang terus dijaga, produksi padi Cilacap diharapkan tetap stabil dan berkelanjutan.