
SERAYUNEWS – Harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, pada Mei 2026 menjadi perhatian masyarakat seiring kondisi energi global yang masih berfluktuasi.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sebelumnya sempat memicu kenaikan harga minyak dunia, yang berdampak pada penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia pada April lalu.
Namun memasuki awal Mei 2026, pemerintah bersama Pertamina memutuskan untuk tidak melakukan perubahan harga. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Keputusan mempertahankan harga juga mencerminkan kondisi pasar yang relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir, meskipun tekanan eksternal masih menjadi faktor yang terus dipantau secara berkala.
Pertamax memang dikenal memiliki harga lebih tinggi dibandingkan BBM jenis lain seperti Pertalite. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan dengan kualitas bahan bakar yang ditawarkan.
Pertamax memiliki angka oktan (RON) 92 yang lebih tinggi, sehingga mampu menghasilkan pembakaran mesin yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Proses produksinya pun lebih kompleks dibandingkan Pertalite yang memiliki RON lebih rendah.
Di sisi lain, Pertalite termasuk BBM bersubsidi, sehingga harganya lebih terjangkau karena mendapat dukungan dari pemerintah.
Perbedaan inilah yang membuat harga Pertamax terlihat lebih mahal, meskipun dari sisi kualitas dan performa mesin dinilai lebih unggul.
Berdasarkan kebijakan terbaru per 1 Mei 2026, harga Pertamax di sejumlah wilayah Indonesia tidak mengalami perubahan. Untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, harga Pertamax (RON 92) ditetapkan sebesar Rp12.300 per liter.
Harga tersebut juga berlaku di berbagai daerah di Pulau Jawa tanpa perbedaan signifikan. Sementara itu, varian bahan bakar ramah lingkungan, yaitu Pertamax Green, dipatok di angka Rp12.900 per liter.
Selain Pertamax, beberapa jenis BBM nonsubsidi lainnya juga tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo dijual sekitar Rp19.400 per liter, Dexlite berada di kisaran Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter.
Untuk BBM subsidi, pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter.
Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.
Meski harga di Pulau Jawa cenderung seragam, terdapat perbedaan harga di beberapa wilayah luar Jawa. Misalnya, di daerah seperti Sumatera Barat, Riau, dan Kalimantan Selatan, harga Pertamax mencapai sekitar Rp12.900 per liter.
Sementara itu, wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, hingga sebagian Sulawesi mencatat harga di kisaran Rp12.600 per liter. Perbedaan ini umumnya dipengaruhi oleh faktor distribusi, biaya logistik, serta kondisi geografis masing-masing daerah.
Dengan demikian, meskipun harga dasar ditetapkan secara nasional, implementasinya di lapangan tetap menyesuaikan dengan kondisi wilayah.
Selain SPBU milik Pertamina, beberapa SPBU swasta juga menjadi alternatif bagi masyarakat. Pada periode Mei 2026, harga BBM di SPBU swasta relatif stabil tanpa perubahan signifikan.
Misalnya, BP-AKR menjual BBM jenis BP 92 dengan harga sekitar Rp13.390 per liter, sedangkan BP Ultimate Diesel berada di kisaran Rp25.560 per liter. Sementara itu, SPBU Vivo menawarkan Revvo 92 dengan harga sekitar Rp12.390 per liter.
Namun, di sisi lain, beberapa SPBU seperti Shell dilaporkan mengalami kendala distribusi di sejumlah wilayah. Kondisi ini menyebabkan keterbatasan pasokan BBM di beberapa titik, meskipun harga tetap stabil.
Demikian informasi tentang harga pertamax Mei 2026.***