
SERAYUNEWS– Pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia Tenggara kembali menjadi sorotan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan kebijakan moneter Amerika Serikat, posisi Rupiah Indonesia (IDR) terhadap Dolar AS (USD) disebut masih berada di jajaran terbawah jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara ASEAN.
Berdasarkan data nilai tukar periode 2025 hingga Januari 2026, Rupiah Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga mata uang terlemah di ASEAN, bersaing dengan Dong Vietnam dan Kip Laos.
Asia Tenggara merupakan kawasan yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Kawasan ini dihuni oleh negara-negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang beragam, mulai dari negara maju seperti Singapura hingga negara berkembang seperti Laos dan Kamboja.
Perbedaan kondisi ekonomi tersebut turut memengaruhi kekuatan mata uang masing-masing negara, terutama ketika diukur terhadap Dolar AS sebagai mata uang acuan global.
Berikut mata uang resmi negara-negara ASEAN beserta gambaran nilai tukarnya terhadap Rupiah Indonesia:
1. Indonesia – Rupiah (IDR)
Mata uang resmi Indonesia dengan pecahan kertas terkecil Rp1.000 dan terbesar Rp100.000.
2. Thailand – Baht (THB)
20 THB setara sekitar 8.655 IDR.
3. Singapura – Dolar Singapura (SGD)
1 SGD setara sekitar 11.458 IDR.
4. Malaysia – Ringgit (MYR)
1 MYR setara sekitar 3.321 IDR.
5. Laos – Kip (LAK)
1 LAK setara sekitar 0,76 IDR.
6. Filipina – Peso (PHP)
1 PHP setara sekitar 1.381 IDR.
7. Kamboja – Riel (KHR)
100 KHR setara sekitar 380 IDR.
8. Myanmar – Kyat (MMK)
0,5 MMK setara sekitar 4 IDR.
9. Brunei Darussalam – Dolar Brunei (BND)
1 BND setara sekitar 11.450 IDR.
10. Timor Leste – Dolar AS (USD)
1 USD setara sekitar 15.683 IDR.
11. Vietnam – Dong (VND)
1 VND setara sekitar 64 IDR.
Mengacu pada data kurs internasional terbaru, berikut peringkat mata uang negara ASEAN terhadap USD, dari yang terlemah hingga terkuat:
Urutan Mata Uang ASEAN dari Terlemah hingga Terkuat terhadap USD
Dong Vietnam (VND)
1 USD ≈ 25.000 – 26.000 VND
2. Kip Laos (LAK)
1 USD ≈ 20.000 – 21.000 LAK
3. Rupiah Indonesia (IDR)
1 USD ≈ 16.800 – 16.900 IDR
4. Riel Kamboja (KHR)
1 USD ≈ 4.000 – 4.200 KHR
5. Kyat Myanmar (MMK)
1 USD ≈ 2.900 – 3.200 MMK
6. Peso Filipina (PHP)
1 USD ≈ 55 – 57 PHP
7. Baht Thailand (THB)
1 USD ≈ 35 – 36 THB
8. Ringgit Malaysia (MYR)
1 USD ≈ 4,6 – 4,8 MYR
9. Dolar Singapura (SGD)
1 USD ≈ 1,33 – 1,36 SGD
10. Dolar Brunei (BND)
1 USD ≈ 1,33 – 1,36 BND
SGD dan BND berada di posisi terkuat karena sistem moneter stabil dan saling dipatok (currency interchangeability).
IDR konsisten berada di peringkat 3 terlemah ASEAN, di atas Vietnam dan Laos.
Kurs dapat berubah tergantung kebijakan bank sentral, inflasi, suku bunga global, dan kondisi geopolitik.
Dengan posisi tersebut, Rupiah Indonesia masih berada di bawah Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, dan Dolar Brunei, yang dikenal sebagai mata uang paling stabil di kawasan Asia Tenggara.
Pengamat ekonomi menilai, lemahnya Rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain:
Meski demikian, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi pasar dan penguatan kebijakan moneter.
Perlu diketahui, nilai tukar mata uang bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu. Posisi Rupiah di ASEAN tidak bersifat permanen dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi domestik serta kondisi global.
Penguatan fundamental ekonomi nasional, peningkatan ekspor, dan stabilitas politik dinilai menjadi kunci utama untuk mendorong penguatan Rupiah ke depan.
Penting bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha
Informasi mengenai nilai tukar mata uang ASEAN menjadi penting, terutama bagi:
Dengan memahami posisi mata uang, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
Berdasarkan data terbaru, Rupiah Indonesia menempati peringkat ketiga mata uang terlemah di ASEAN terhadap Dolar AS. Meski demikian, posisi ini masih sangat dinamis dan dapat berubah seiring perbaikan kondisi ekonomi nasional dan global.
Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus menjaga stabilitas nilai tukar guna memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.