
SERAYUNEWS- Gelombang Initial Public Offering (IPO) saham Januari 2026 diprediksi menjadi salah satu yang paling ramai dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah perusahaan besar, termasuk yang terafiliasi dengan konglomerat nasional, dikabarkan siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan potensi raihan dana jumbo.
BEI mencatat hingga akhir 2025 terdapat 13 perusahaan dalam pipeline IPO, sementara rumor di pasar menyebut 12 emiten berpeluang besar IPO pada awal 2026.
Daftar ini berasal dari berbagai sektor strategis, mulai dari energi, keuangan, teknologi, hingga transportasi dan logistik. Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa hingga 5 Desember 2025, sebanyak 24 perusahaan telah mencatatkan saham dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp15,21 triliun.
“Hingga saat ini terdapat 13 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangan tertulis, Jumat (5/12/2025).
Berdasarkan skala aset, pipeline IPO tersebut terbagi sebagai berikut:
⦁ 8 perusahaan skala besar dengan aset di atas Rp250 miliar
⦁ 3 perusahaan skala menengah dengan aset Rp50 miliar–Rp250 miliar
⦁ 2 perusahaan skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar
Dari sisi sektor, BEI mencatat:
⦁ 2 perusahaan sektor bahan baku
⦁ 1 perusahaan consumer non-cyclical
⦁ 1 perusahaan energi
⦁ 5 perusahaan keuangan
⦁ 1 perusahaan teknologi
⦁ 2 perusahaan transportasi dan logistik
Di luar pipeline resmi BEI, pasar modal ramai membicarakan 12 emiten potensial IPO Januari 2026. Salah satu nama yang mencuat berasal dari grup energi PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), yakni PT Panji Raya Alamindo (PRA).
PT Panji Raya Alamindo, Anak Usaha RAJA yang Jadi Sorotan
Mengacu pada profil resmi perusahaan, PT Panji Raya Alamindo (PRA) berdiri sejak 2007 dan fokus pada bisnis investasi, perdagangan, serta transportasi gas bumi. PRA memegang peran strategis dalam memperkuat rantai pasok energi nasional, khususnya di sektor niaga gas.
Saat ini, PRA membawahi sejumlah entitas, antara lain:
⦁ PT Energasindo Heksa Karya (EHK)
⦁ PT Majuko Utama Indonesia (MUI)
⦁ PT Artha Prima Energi (APE)
Melalui sinergi anak usaha tersebut, PRA menjalankan distribusi gas bumi ke berbagai segmen industri. Wilayah operasionalnya mencakup Sumatra, Jawa, dan Jambi, dengan fokus niaga gas pipa, transportasi gas, hingga pengembangan gas CNG dan pengelolaan mother station CNG.
BEI juga mengonfirmasi rencana IPO dari dua perusahaan mercusuar (lighthouse company) pada kuartal I 2026. Keduanya berasal dari sektor:
⦁ Infrastruktur
⦁ Pertambangan (mining)
Perusahaan mercusuar didefinisikan sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun dan free float sedikitnya 15 persen. Kehadiran emiten kategori ini diprediksi akan menjadi magnet besar bagi investor institusi dan ritel.
Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026, BEI menargetkan 50 perusahaan IPO sepanjang tahun depan. Hingga saat ini, setidaknya sembilan perusahaan telah masuk antrean awal berdasarkan regulasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017.
Komposisi sektornya meliputi:
⦁ 3 perusahaan sektor keuangan
⦁ 2 sektor material dasar
⦁ 1 sektor energi
⦁ 1 sektor industri
⦁ 1 sektor teknologi
⦁ 1 sektor transportasi dan logistik
IPO Jumbo yang Paling Dirumorkan: TIS dan ANEM
Dua nama besar lain yang santer dibicarakan pasar adalah:
⦁ PT Titan Infra Sejahtera (TIS)
TIS dikenal sebagai operator infrastruktur logistik batu bara terbesar dan terintegrasi di Sumatra Selatan. IPO TIS dinilai strategis untuk memperluas kapasitas logistik dan mengoptimalkan cadangan batu bara regional.
⦁ PT Anugrah Neo Energy Materials (ANEM)
ANEM dikabarkan menyiapkan IPO jumbo dengan potensi dana lebih dari Rp5 triliun. Perusahaan nikel ini memiliki dua tambang besar, TAS dan MDK, dengan total sumber daya mencapai ratusan juta WMT.
ANEM juga disebut akan menjadi produsen Green HPAL Nickel pertama di Indonesia, mendukung hilirisasi nikel ramah lingkungan. Fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dikembangkan ditargetkan memproduksi ratusan ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).
Fenomena Saham IPO Awal 2026 menarik perhatian karena menghadirkan:
⦁ Diversifikasi sektor yang luas
⦁ Emiten dengan fundamental besar
⦁ Momentum pasar yang relatif likuid
Bagi investor, IPO menjadi pintu masuk awal ke perusahaan dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, meski tetap perlu mencermati risiko volatilitas pasca pencatatan.
Meski menjanjikan, investor tetap harus memperhatikan:
⦁ Fluktuasi harga pasca-IPO
⦁ Kondisi ekonomi makro dan global
⦁ Likuiditas saham baru
⦁ Kualitas fundamental dan tata kelola emiten
Daftar Saham IPO Januari 2026 mencerminkan dinamika pasar modal Indonesia yang semakin bergairah.
Mulai dari sektor energi, pertambangan, keuangan digital, hingga logistik, peluang terbuka lebar bagi investor yang siap melakukan riset mendalam.
Dengan regulasi yang semakin ketat dan dominasi emiten berkualitas, gelombang IPO awal 2026 berpotensi menjadi salah satu momentum strategis dalam membangun portofolio investasi jangka panjang.