
SERAYUNEWS– Di tengah tren meningkatnya konsumsi kopi spesialti di Indonesia, Kopi Senggani asal Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, berhasil mencuri perhatian penikmat kopi dari berbagai daerah.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan, melainkan lahir dari komitmen para petani lintas generasi yang menjaga kualitas kopi sejak proses budidaya hingga pascapanen.
Menariknya, pengelolaan Kopi Senggani tidak hanya melibatkan petani senior yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia kopi, tetapi juga generasi muda yang ikut berperan aktif dalam pengembangan komoditas unggulan desa tersebut.
Sekretaris Desa Pegundungan, Imam, mengatakan bahwa ekosistem Kopi Senggani menjadi contoh nyata kolaborasi lintas generasi dalam membangun ekonomi desa berbasis pertanian.
“Kopi Senggani di Desa Pegundungan dikelola oleh berbagai kelompok usia, mulai dari Gen Z hingga para petani senior atau kalangan boomers. Semua terlibat dalam proses pengelolaan dan pengembangan kopi,” ujarnya.
Menurut Imam, meskipun berasal dari generasi yang berbeda, seluruh petani dan pengelola memiliki kesamaan visi dalam menjaga mutu produk. Mereka menerapkan standar operasional yang sama agar kualitas kopi tetap terjaga dari tahun ke tahun.
Salah satu kunci utama kualitas Kopi Senggani adalah penerapan sistem panen petik merah, yaitu hanya memanen buah kopi yang benar-benar matang. Setelah dipetik, buah kopi diproses melalui tahapan pascapanen yang ketat, termasuk penjemuran menggunakan fasilitas solar dryer dome atau rumah kaca hingga mencapai tingkat kadar air ideal sekitar 12 persen.
“Semua proses sudah mengikuti standar yang ditetapkan, mulai dari panen, pengeringan, hingga menjadi green bean berkualitas tinggi. Setelah itu dilakukan proses roasting sesuai standar sehingga menghasilkan cita rasa yang konsisten dan stabil setiap tahun,” katanya.
Konsistensi tersebut membuat Kopi Senggani semakin dikenal di kalangan pecinta kopi spesialti. Cita rasa yang terjaga menjadi nilai lebih yang membuat produk ini mampu bersaing di pasar nasional.
Data tahun 2026 menunjukkan, Desa Pegundungan saat ini memiliki sekitar 70 ribu batang kopi yang ditanam di lahan seluas kurang lebih 40 hektare. Sebagian besar merupakan kopi Arabika yang terdiri atas sejumlah varietas unggulan.
“Varietas yang banyak dibudidayakan di sini antara lain Gayo 3, Sigararutang, dan Lini S. Ketiganya memiliki karakter rasa yang berbeda dan menjadi andalan petani setempat,” kata Imam.
Tidak hanya berkembang dari sisi produksi, jaringan pemasaran Kopi Senggani juga terus meluas. Saat ini produk kopi dari lereng Pegundungan tersebut telah dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia dan menjadi pilihan sejumlah kedai kopi maupun konsumen langsung.
Menurut Imam, permintaan datang dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Solo, hingga Yogyakarta. Selain dipasarkan ke coffee shop, produk Kopi Senggani juga banyak dibeli oleh pecinta kopi yang mengutamakan kualitas dan cita rasa khas kopi pegunungan.
Keberhasilan Kopi Senggani menembus pasar nasional menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas generasi, penerapan standar kualitas yang ketat, serta inovasi dalam pengelolaan hasil pertanian mampu meningkatkan daya saing produk desa di tengah ketatnya industri kopi Indonesia.
Dengan semakin luasnya pasar dan meningkatnya minat konsumen terhadap kopi berkualitas, Kopi Senggani kini tidak hanya menjadi kebanggaan Desa Pegundungan, tetapi juga salah satu ikon kopi unggulan Kabupaten Banjarnegara yang terus berkembang di tingkat nasional.