
SERAYUNEWS- Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Blue House di Seoul, Republik Korea, memunculkan tafsir strategis di kalangan pengamat.
Tak sekadar seremoni diplomatik, momentum ini dinilai sebagai sinyal kuat kepada dunia bahwa Indonesia kini berada dalam fase baru: negara dengan kepastian hukum yang semakin kokoh dan ekonomi yang kian stabil.
Mubarok Institute menyebut sambutan kenegaraan yang megah tersebut sebagai bentuk pengakuan internasional terhadap transformasi tata kelola hukum dan ekonomi Indonesia.
Chairman Mubarok Institute, Fadhil As. Mubarok, menilai kepercayaan yang ditunjukkan pemerintah Korea Selatan bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari konsistensi kebijakan nasional.
Dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026), Gus Fadhil menegaskan bahwa aspek paling krusial dari kunjungan ini adalah meningkatnya kepercayaan investor terhadap sistem hukum Indonesia.
Menurutnya, dalam konteks global, kepastian hukum merupakan faktor utama yang menentukan arah arus investasi.
“Dunia internasional melihat Indonesia telah bertransformasi menjadi negara dengan komitmen kuat terhadap penegakan hukum. Kepastian hukum adalah elemen vital dalam hukum dagang internasional, dan saat ini Indonesia dinilai mampu menghadirkannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebijakan reformasi hukum bisnis yang dijalankan pemerintah menjadi indikator nyata bahwa Indonesia serius menciptakan iklim usaha yang sehat, transparan, dan berkeadilan.
Tidak hanya memberikan rasa aman bagi investor, kepastian hukum juga memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global.
Lebih jauh, Gus Fadhil memprediksi bahwa kunjungan ke Korea Selatan akan berdampak langsung pada peningkatan investasi asing ke Indonesia.
Kerja sama bilateral yang terbangun diyakini akan membuka peluang besar di berbagai sektor strategis, seperti:
· industri manufaktur
· teknologi ramah lingkungan (green technology)
· pembangunan infrastruktur modern
Menurutnya, investasi yang masuk tidak hanya berdampak pada pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga memberikan efek berantai terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Ketika kepastian hukum terjaga, biaya bisnis menjadi lebih efisien, praktik korupsi bisa ditekan, dan hasilnya adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas serta berkelanjutan,” ungkapnya.
Kemitraan Indonesia dan Korea Selatan juga dinilai memiliki nilai strategis dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Dengan meningkatnya kepercayaan investor, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi dan distribusi di kawasan Asia.
Hal ini sejalan dengan tren global yang mendorong diversifikasi rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu negara tertentu.
“Indonesia memiliki keunggulan sumber daya, pasar yang besar, dan kini didukung oleh kepastian hukum. Kombinasi ini menjadikan Indonesia sangat kompetitif di mata investor global,” kata Gus Fadhil.
Selain faktor ekonomi, keberhasilan diplomasi ini juga tidak lepas dari kemampuan Indonesia dalam menyesuaikan regulasi nasional dengan standar internasional.
Gus Fadhil menilai, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kredibilitas hukum, terutama dalam hal kontrak dan perjanjian internasional.
“Indonesia kini dipandang sebagai negara yang menghormati kesepakatan global. Ini penting karena investor membutuhkan jaminan bahwa aturan yang berlaku konsisten dan dapat dipercaya,” tegasnya.
Harmonisasi ini dinilai menjadi jembatan penting antara kepentingan nasional dan tuntutan globalisasi ekonomi.
Kunjungan ke Blue House juga dianggap sebagai titik awal percepatan kebangkitan ekonomi Indonesia.
Dengan meningkatnya kepercayaan internasional, berbagai indikator ekonomi diproyeksikan akan mengalami penguatan, mulai dari:
· stabilitas harga
· peningkatan investasi
· penciptaan lapangan kerja
· pertumbuhan industri nasional
Gus Fadhil optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali menyandang predikat sebagai “Macan Asia”.
Namun, ia mengingatkan bahwa momentum ini harus dijaga dengan konsistensi kebijakan dan penguatan sistem hukum.
Menutup pernyataannya, Gus Fadhil menegaskan bahwa diplomasi Presiden Prabowo bukan hanya soal hubungan bilateral, tetapi juga tentang membangun kepercayaan global terhadap Indonesia.
“Kunjungan ke Blue House adalah bentuk pengakuan dunia atas integritas bangsa. Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu bersaing di tingkat global,” pungkasnya.
Diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo di Korea Selatan menjadi momentum strategis yang mempertegas arah baru Indonesia.
Dengan kepastian hukum yang semakin kuat, dukungan investasi global, serta kerja sama internasional yang solid, Indonesia berada di ambang kebangkitan ekonomi besar.
Jika konsistensi ini terus terjaga, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam peta ekonomi dunia dalam waktu dekat.