
WONOSOBO, SERAYUNEWS- Kepergian Arfin Nurohmat, salah satu korban yang ditemukan meninggal dunia dalam operasi pencarian di kawasan Gunung Bismo, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan dunia pendidikan di Kabupaten Wonosobo.
Keluarga besar SMA Negeri 1 Watumalang turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya siswa kelas 12.3 tersebut melalui unggahan resmi di media sosial sekolah.
Ungkapan duka itu menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi Arfin yang dikenal sebagai siswa berkepribadian baik, santun, serta memiliki hubungan yang akrab dengan teman-teman maupun para guru.
Ucapan belasungkawa tersebut juga menjadi cerminan besarnya rasa kehilangan yang dirasakan civitas akademika SMA Negeri 1 Watumalang atas berpulangnya salah satu peserta didik yang dinilai memiliki akhlak mulia dan meninggalkan kesan mendalam selama menempuh pendidikan di sekolah.
Melalui akun Instagram resminya, SMA Negeri 1 Watumalang menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya Arfin Nurohmat.
Dalam pernyataan tersebut, pihak sekolah menyebut Arfin sebagai salah satu putra terbaik yang selama ini menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 1 Watumalang.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami segenap keluarga besar SMA Negeri 1 Watumalang menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rahmatullah, salah satu putra terbaik, teman, dan siswa kami tercinta, Ananda Arfin Nurohmat (Siswa Kelas 12.3 SMA Negeri 1 Watumalang),” tulis pihak sekolah.
Unggahan tersebut langsung mendapat perhatian luas dari masyarakat. Dalam waktu singkat, ribuan pengguna media sosial memberikan tanda suka dan menyampaikan doa bagi almarhum serta keluarga yang ditinggalkan.
Bagi warga sekolah, Arfin bukan sekadar seorang siswa. Ia dikenal sebagai pribadi yang santun, mudah bergaul, serta memiliki sikap hormat kepada guru dan sesama teman.
Karakter tersebut membuat Arfin memiliki banyak sahabat dan meninggalkan kesan positif selama menjalani aktivitas belajar di SMA Negeri 1 Watumalang.
Pihak sekolah menggambarkan Arfin sebagai sosok yang hangat dan berbudi pekerti baik sehingga kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi seluruh keluarga sekolah.
“Ananda Arfin dikenal sebagai sosok teman yang baik, berbudi pekerti, dan akan selalu dikenang oleh teman-teman sekelas serta seluruh civitas akademika SMA Negeri 1 Watumalang,” demikian pernyataan resmi sekolah.
Guru-guru, tenaga kependidikan, serta rekan-rekan sekelas mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa Arfin telah berpulang. Sosoknya yang murah senyum dan mudah membantu orang lain menjadi kenangan yang akan terus hidup di lingkungan sekolah.
Dalam unggahan tersebut, pihak sekolah tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan almarhum.
SMA Negeri 1 Watumalang berharap Arfin mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan menghadapi cobaan ini.
“Mewakili seluruh guru, staf, dan siswa, kami menghaturkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian ananda. Kehadiran Arfin sebagai teman yang baik dan hangat akan selalu melekat erat di dalam ingatan teman-teman sekelas dan guru-guru.”
Ungkapan tersebut kemudian ditutup dengan kalimat yang menyentuh hati.
“Mari bersama-sama kita panjatkan doa terbaik agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa dianugerahi ketabahan dan kekuatan. Selamat jalan, Arfin. Kebaikanmu akan selalu kami kenang.”
Unggahan duka cita dari SMA Negeri 1 Watumalang mendapat respons besar dari masyarakat.
Dalam kolom komentar, berbagai doa dan ucapan belasungkawa terus mengalir. Banyak warganet yang mengaku ikut bersedih mengikuti perkembangan pencarian Arfin selama beberapa hari terakhir.
Komentar seperti “Semoga husnul khatimah”, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, “Mugi husnul khotimah”, hingga doa agar almarhum ditempatkan di surga memenuhi unggahan tersebut.
Dukungan moral juga diberikan kepada keluarga yang kini tengah menghadapi masa-masa sulit setelah kehilangan putra tercinta.
Arfin Nurohmat merupakan salah satu dari dua remaja asal Dusun Rejosari, Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, yang dilaporkan hilang sejak 30 Juni 2026.
Saat itu Arfin bersama rekannya, Yufaidin (15), diketahui pergi menuju kawasan lereng Gunung Bismo untuk mencari burung.
Karena hingga malam hari keduanya tidak kembali ke rumah, keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa dan aparat keamanan.
Laporan itu memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, komunitas pecinta alam, serta masyarakat sekitar.
Selama proses pencarian, tim SAR menggunakan berbagai metode, mulai dari penyisiran jalur pendakian, penggunaan drone, anjing pelacak (K9), hingga teknik vertical rescue untuk menjangkau area-area ekstrem.
Setelah pencarian selama hampir dua pekan, Arfin dan Yufaidin akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Curug Telu, Gunung Bismo.
Lokasi penemuan berada di dasar jurang dengan kedalaman sekitar 284 meter, sehingga proses evakuasi berlangsung sangat sulit dan memerlukan peralatan khusus.
Tim penyelamat membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengevakuasi kedua korban menuju Posko Sembrani sebelum dibawa ke RSUD Setjonegoro Wonosobo guna menjalani proses identifikasi dan visum.
Penemuan kedua korban sekaligus mengakhiri operasi pencarian yang sejak awal mendapat perhatian luas dari masyarakat Wonosobo maupun berbagai daerah di Indonesia.
Peristiwa yang menimpa Arfin Nurohmat dan Yufaidin menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya keselamatan saat beraktivitas di kawasan pegunungan.
Pakar kebencanaan dan komunitas pecinta alam selama ini mengingatkan agar setiap orang yang hendak memasuki kawasan hutan maupun pegunungan selalu memberi tahu keluarga mengenai tujuan perjalanan, tidak bepergian sendirian, membawa perlengkapan keselamatan yang memadai, serta memperhatikan kondisi cuaca dan karakteristik medan.
Kepergian Arfin meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi teman-teman sekolah, para guru, masyarakat Desa Krinjing, dan seluruh warga Wonosobo yang mengikuti perjuangan panjang operasi pencarian selama 10 hari.