PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Perekonomian Banyumas Raya mencatatkan pertumbuhan yang kuat pada triwulan I 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto mencatat ekonomi kawasan tersebut tumbuh sebesar 6,57 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, mengatakan pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri, berlanjutnya pembangunan proyek strategis pemerintah maupun swasta, serta meningkatnya aktivitas sektor pertanian saat panen raya.
“Kinerja ekonomi Banyumas Raya pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan akselerasi. Peningkatan konsumsi rumah tangga didukung oleh kenaikan upah minimum, pencairan tunjangan hari raya (THR), penyaluran stimulus pemerintah, serta aktivitas ekonomi yang meningkat selama periode long festive season,” ujar Christoveny dalam konferensi pers perkembangan ekonomi dan program Bank Indonesia di Purwokerto, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama ekonomi Banyumas Raya dengan kontribusi sekitar 39 persen, disusul sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 14 persen, perdagangan sebesar 11 persen, serta konstruksi sebesar 9 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain pertumbuhan ekonomi yang positif, Bank Indonesia juga mencatat inflasi di wilayah kerja KPwBI Purwokerto masih berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen. Pada Juni 2026, inflasi tahunan di Purwokerto tercatat sebesar 2,79 persen (year-on-year), sedangkan Cilacap sebesar 2,88 persen (year-on-year).
Christoveny menjelaskan inflasi pada Juni terutama dipengaruhi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, kenaikan harga bawang merah akibat terbatasnya pasokan, meningkatnya harga bawang putih karena biaya impor, serta kenaikan biaya rekreasi selama libur sekolah.
“Meski terdapat tekanan dari beberapa komoditas pangan dan energi, inflasi masih tetap terjaga dalam rentang sasaran sehingga stabilitas harga di wilayah Banyumas Raya tetap kondusif,” katanya.
Di sektor sistem pembayaran, penggunaan QRIS terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hingga Mei 2026, jumlah merchant QRIS di Banyumas Raya mencapai 705.885 merchant, meningkat sekitar 32,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tidak hanya jumlah merchant yang bertambah, transaksi QRIS juga meningkat pesat dengan volume mencapai 105,53 juta transaksi dan nilai transaksi sebesar Rp8,42 triliun sepanjang Januari–Mei 2026.
Menurut Christoveny, peningkatan tersebut menunjukkan semakin tingginya penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital. Berbagai kegiatan edukasi dan aktivasi QRIS yang dilakukan Bank Indonesia kepada pelaku UMKM, santri, komunitas, hingga masyarakat umum turut memperkuat literasi serta penggunaan transaksi digital di Banyumas Raya.
“Perluasan QRIS tidak hanya meningkatkan jumlah merchant, tetapi juga mendorong pemanfaatan transaksi digital yang lebih luas, aman, mudah, dan inklusif di masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia Purwokerto juga memperkenalkan berbagai agenda pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui program SELARAS 2026 (Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Banyumas Raya) sebagai rangkaian menuju Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2026.
Program tersebut bertujuan memperkuat ekosistem halal, meningkatkan literasi ekonomi syariah, memperluas pembiayaan syariah, mendorong sertifikasi halal bagi UMKM, hingga membuka peluang ekspor produk halal dari Banyumas Raya melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, OJK, perbankan, asosiasi, serta berbagai mitra strategis lainnya.
Bank Indonesia optimistis sinergi seluruh pemangku kepentingan akan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya, mempertahankan inflasi yang terkendali, serta mempercepat transformasi digital dan pengembangan ekonomi syariah di wilayah eks Karesidenan Banyumas.