Senin, 18 Oktober 2021

Ekspor Beras? Begini Usul Dinas Pertanian Cilacap di Tengah Jeritan Petani Saat Ini

Para Petani sedang memanen padi di Desa Nusajati Sampang. (Ulul Azmie)

Rendahnya serapan Gabah/Padi saat musim panen membuat petani di Cilacap menjerit, sebab tinggginya produksi tidak dibarengi dengan naiknya harga padi yang kini anjlok pada kisaran Rp 3400/kg. Untuk mengantisipasi rendahnya serapan dan meningkatkan kesejahteraan petani, Dinas Pertanian Cilacap akan berkirim surat ke Kementerian Pertanian untuk membuka kran ekspor beras.


Cilacap, serayunews.com

Kepala Dinas Pertanian Cilacap Supriyanto mengatakan, sejumlah permasalahan sedang melanda petani di Cilacap saat produksi padi meningkat terutama pada musim panen. Namun, peningkatan produksi itu membuat harga padi terus menurun. Pihaknya menilai, anjloknya harga disebabkan oleh rendahnya serapan gabah saat musim panen.

“Kerjasama antar daerah peluangnya kecil, karena di daerah juga sedang panen. Ada sebagian kecil, kemarin kami dapat informasi ada program PKH dari Indramayu (ambil beras Cilacap) itupun terbatas, dalam arti tidak bisa mendongrak harga secara signifikan,” ujar Supriyanto, Kamis (15/07/2021).

Adapun serapan gabah dari Bulog juga dinilai masih belum maksimal, sebab stok beras di Bulog juga masih melimpah. Sehingga pihaknya berharap agar serapan gabah meningkat, pihaknya akan mengusulkan kepada pemerintah pusat bisa membuka kran ekspor beras.

“Minggu ini kami dari Dinas Pertanian melalui Bupati Cilacap  akan berkirim surat ke Kementerian Pertanian untuk mencarikan solusi, saran kami agar membuka kran ekspor secepat mungkin walaupun itu berporses,” ujarnya.

Supri mangatakan, kenapa pihaknya menyarankan ekspor? karena  dari luas lahan baku seluas 64 ribu hektar, dengan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) seluas 58 ribu, dan luas lahan panen 59 ribu hektar, menurutnya jumlah stok produksi padi di Cilacap dinilai aman untuk satu tahun ke depan.

“Target produksi padi 938 ribu ton pertahun, sampai triwulan ke dua bulan Juni 2021 sudah mencapai 51% dari jumlah target tersebut, belum termasuk panen di bulan Juli dan Agustus ini, masih ada panen ke wilayah Cilacap bagian barat,” ujarnya.

Dari potensi tersebut, hasil produksi rata-rata mencapai 6 – 6,5 ton perhektarnya, dengan skenario panen bertahap dari Cilacap bagian timur seperti Nusawungu, Adipala, Kesuhihan dan Maos hingga Cilacap bagian barat seperti Majenang hingga Dayeuhluhur.

“Dari sisi produksi bagus, tetapi dari sisi pasar kita tidak punya dan hasil panen dua musim lalu masih tersimpan di masyarakat, ini masalah kita produktifitas bagus tetapi harga bermasalah, karena harga dipasaran saat ini informasi dari petani harga padi pada kisaran Rp 3000 hingga Rp 3400 perkilogramnya. Petani menjerit, harga gabah segitu tidak ada yang beli, pedagang mau ngambil harga segitu tetapi bayarnya nanti usai laku,” ujar Supri.

Selain itu, menurut Supri rendahnya serapan gabah juga akibat terdampak pandemi Covid-19, sebab acara yang biasa digelar masyarakat seperti hajatan dan sektor lainnya dibatasi selama pandemi.

“Banyak kran konsumsi yang terhambat seperti serapan kebutuhan beras di pedesaan dari sektor hajatan, destinasi wisata, perhotelan, serta sektor lain yang dibatasi selama pandemi ini, semoga ada langkah terbaik untuk kesejahteraan masyarakat petani,” ujarnya.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini